
"Kenapa? Cemburu?"
Ayas bingung, dia tidak bisa mendefiniskan yang kini dia rasakan cemburu atau bukan. Yang jelas, ada perasaan yang sulit Ayas utarakan begitu mengingat tentang gadis itu.
"Tidak, a-aku ... aku cuma tanya saja, Mas."
Jawabannya tidak, tapi gelagatnya menegaskan iya. Kama mengullum senyum lantaran Ayas tampak kaku menjawab pertanyaannya. Padahal, Kama berharap pengakuan secara terang-terangan, tapi mungkin untuk mengaku istrinya malu dan Kama paham soal itu.
"Namanya Anya ... dia satu-satunya teman baikku." Tanpa diminta Kama mulai bercerita dan Ayas mendongak seketika. "Teman?"
Kama mengangguk, mengingat hubungan mereka tidak lebih dari sahabat dulunya, rasa bersalah Kama membuat pria itu memang tidak berencana melupakannya. "Tapi setahuku, tidak ada yang namanya teman antara laki-laki dan perempuan," balas Ayas lagi, setelah tadi diam kali ini dia kembali berani untuk berbicara.
Dan, ungkapan hati Ayas kali ini semakin membuat Kama besar kepala. Kenapa demikian? Kecemburuan Ayas sudah mulai terlihat walau memang belum terungkap dan tidak ada pengakuan secara lengkap. "Oh iya? Tapi itu buktinya kami bisa."
"Menurut kamu mungkin begitu, Mas, tapi belum tentu temen kamu berpikir sama ... bisa jadi dia suka, cuma mas yang tidak peka."
Kama nengangguk pelan layaknya memang butuh dikasih paham. Tanpa Ayas jelaskan dia juga tahu sebenarnya, dan kepergian Anya sudah menjadi bukti jika memang mereka tidak bisa berteman semata.
"Kalau begitu, nanti kita tanyakan padanya gimana?"
Percayalah, kali ini dada Ayas panas, murka dan ingin sekali dia menarik rambut Kama hingga ke akarnya. Bisa-bisanya di hadapan Ayas dia bertanya seperti itu, luar biasa sekali idenya.
"Terserah, mas saja yang tanya ... ngapain pakai ajak aku." Ayas memalingkan muka, berlalu lebih dulu tanpa tahu tujuan dan entah kenapa bagi Kama sikapnya terlalu menggemaskan.
__ADS_1
Bukannya panik, melihat istrinya menunjukkan kekesalan Kama justru terkekeh dan tanpa merasa bersalah merangkul sang istri yang sejak tadi mendahuluinya.
"Jadi cemburu ceritanya?" tanya Kama mencoba menatap mata Ayas yang sejak tadi selalu berusaha menghindari tatapan sang suami.
Semakin Ayas menghindar, semakin Kama semangat untuk menggodanya. Setelah bertahun-tahun hanya mendengar, akhirnya Kama tahu bahwa mitos wanita tidak bisa menahan cemburu itu benar adanya.
Terbukti jelas di depan mata, Ayas cemberut dan mendadak irit suara setelah Kama membahas hal tersebut. "Ternyata benar, wanita itu tidak bisa menahan rasa cemburu," celetuk Kama kian lancang dan berani mencubit pipi sang istri hingga memerah.
Jelas Ayas tak terima, dia menepis tangan Kama seraya berdecak kesal setelahnya. "Siapa yang cemburu? Mas terlalu percaya diri sepertinya."
Selain tidak bisa menahan cemburu, wanita juga tidak akan mengaku cemburu walau sudah sejelas itu. Kama hanya tertawa hambar, seketika dia penasaran sekuat apa pendirian Ayas tentang ini.
Beberapa saat Kama tidak membahas hal itu, dan Ayas juga demikian. Pria itu menjalani pemeriksaan seperti biasa, tujuan awal yang semula hanya bercanda justru dia lakukan secara sungguh-sungguh.
"Aku hanya periksa, tidak sakit, Yas," jawab Kama tersenyum tipis.
Istrinya menghela napas lega, Ayas memang belum tahu kebiasaan Kama yang kerap memeriksakan kesehatannya pasca kecelakaan. "Bener tidak ada yang sakit?"
"Hm, aku sehat kok ... apalagi sistem reproduksiku," celetuk Kama seketika membuat Ayas memerah.
Kenapa juga harus ke arah sana, padahal sedikit saja Ayas tidak bertanya, memang dasar suaminya saja yang seolah berbangga diri lantaran miliknya sudah sembuh total. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Tidak percaya atau bagaimana?"
"Per-percaya, Mas, percaya!! Jangan dibahas lagi kenapa sih?" Walau sudah suami istri, jujur saja Ayas geli, terlebih lagi cara Kama menatapnya selalu berhasil membuatnya bergidik ngeri.
__ADS_1
.
.
Pulang dari rumah sakit keduanya terlihat baik-baik saja, Ayas juga tak banyak ulah walau di kepalanya masih menyimpan tanya. Hingga, wanita itu kembali dibuat bingung kala Kama berhenti di sebuah pemakanan keluarga kaya di ibu kota.
Di antara banyak tempat, Kama memilih kuburan dan hal itu jelas saja membuat istrinya celingukan. Ayas pikir suaminya salah alamat, tapi begitu Kama mengulurkan tangan dan memintanya turun, semua keraguan itu terbantahkan.
"Kita kenapa kesini, Mas?"
"Mau minta penjelasan Anya, agar istriku tidak salah paham lagi setelah ini," jawab Kama mengusap punggung tangan Ayas penuh perasaan.
"Hah? Mak-maksudnya?" Ayas lemas seketika, dia menatap bingung Kama yang hanya memperlihatkan senyum manis sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Rumahnya di sini? Mas tidak salah? Kuburan semua loh?"
"Tidak, rumahnya memang di sini ... ayo, biar jelas dan kamu tidak gelisah. Walau mungkin memang tidak cemburu, tapi sebagai suami aku hanya ingin meyakinkan hatimu sebagai istriku, Laras."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1