Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 62 - Beda Versi


__ADS_3

Beda generasi, beda yang disukai dan beda pula pengertian dalam memahami sebuah kata. BTS versi Ayas dan BTS versi Kama sangatlah jauh berbeda. Setelah sempat histeris begitu mendengar penjelasan Kama, kali ini wajah Ayas mendadak kusut begitu yang dia saksikan bukanlah boy group favoritnya, melainkan kejadian di balik layar selama proses syuting mantan kekasihnya.


Dengan kata lain, Ayas diajak menyaksikan bagaimana Marzuki yang tetap nekat kerja padahal tadi pagi sempat Kama hajar di rumah sakit. Ya, hal itu terlihat jelas karena bibir Marzuki bengkak, dan bisa disimpulkan sebagai jejak perbuatan Kama.


"Kenapa mukamu kusut begitu? Seru kan BTS nya?"


Ayas menghela napas panjang, entah dimana letak serunya. Selain malas melihat wajah Marzuki, dia juga tidak begitu menyukai hal semacam ini. Terlebih lagi, tidak ada aktor favoritnya di sini, jelas saja Ayas semakin tak betah walau tempat duduknya sangatlah nyaman.


"Lumayan, tapi kenapa adegannya diulang-ulang? Bosan lihatnya."


Kama tersenyum tipis, agaknya sang istri memang tidak bisa menangkap maksud dan tujuannya datang ke tempat ini. "Justru itu yang seru, sesuatu yang kamu lihat sempurna ... prosesnya sesulit ini, makanya jangan nonton film bajakan karena buatnya sangatlah sulit."


"Oh iya? Kebetulan aku tidak pernah tuh," jawab Ayas kemudian menyeruput susu vanila yang sempat Kama siapkan agar istrinya betah menyaksikan behind the scene dari film yang dibintangi oleh Marzuki.


Kama mengacungkan jempolnya, dia suka dengan jawaban Ayas. "Tapi lewat aplikasi," lanjutnya lagi hingga membuat Kama mengerjap pelan, mendadak firasatnya tidak enak entah apa alasannya.


"Aplikasi?"


Ayas menggangguk, raut wajahnya meyakinkan, tapi Kama merasa tidak demikian. "Aplikasi apa biasanya?"


Benar saja, ketika Ayas menyebutkan aplikasinya seketika itu juga Kama meneggelamkan wajah Ayas ke ketiaknya. Sejak awal firasatnya sudah tidak baik, dan biasanya firasat Kama tak pernah salah. "Itu bajakan, Laras!!"


"Apasih, Mas!! Kan bukanya tetep pakai kuota!! Salahku dimana?" tanya Ayas sembari merapikan rambut yang kini acak-acakan.


"Ya tetap saja itu bajakan namanya, tindakan seperti itu merugikan, tahu?"


"Aku tidak tahu soal itu, tapi 'kan selagi ada yang gratis kenapa harus bayar?"


Kama menyerah, dia akui kalah untuk masalah ini karena memang prinsip wanita tentang sesuatu yang gratis agak keras. Tak ingin memperpanjang masalah, Kama kembali pada tujuan awal untuk membuat sedikit perhitungan pada Marzuki.

__ADS_1


Sebenarnya adegan berulang-ulang bukan bagian dari strategi Kama, tapi memang kali ini Marzuki tampak tak fokus dan tidak bisa melakukan semuanya dengan baik. Entah karena ada Ayas di depannya atau memang ada masalah lain, tapi yang jelas suara sang sutradara mulai terdengar serak dan tenaganya seakan habis lantaran menghadapi Marzuki saja.


"Kiri, Mark, Kiri!! Ya, Tuhan ini ceritanya kau jadi laki-laki bisu, bukan tuli!!"


Kama tersenyum tipis, nyaris tak terlihat melihat Marzuki yang diamuk habis-habisan dalam satu adegan. Berkali-kali Marzuki minta maaf dan memohon pengulangan, tapi suasana hati sang sutradara agaknya sudah terlampau kacau.


"Apa yang ada dalam otakmu? Hah?!"


"Maaf, Pak ... saya benar-benar tidak fokus, sekali la_"


"Ck, besok saja, aku muak melihatmu."


Bukan hanya Kama yang menjadi saksi Marzuki dimaki habis-habisan, Ayas juga. Saat ini Ayas dengan nyata menyaksikan bagaimana Marzuki yang tertunduk malu dan diam di tempat untuk beberapa saat.


Jika saja tidak mengingat seberapa jumawa pria itu, mungkin Ayas akan iba. Bahkan bukan tak mungkin akan dia hampiri dan memberikan sedikit semangat padanya, tapi setelah apa yang Marzuki lakukan rasa itu sirna sudah.


Bahkan, tanpa diminta wanita itu berpegangan di lengan Kama dan mempertegas jika mereka memang sepasang. Ayas tidak sombong, sedikit saja dia tidak diajarkan untuk sombong sejak kecil. Akan tetapi, di hadapan Marzuki kali ini dia merasa tidak ada salahnya.


Tatapan keduanya sempat bertemu, dan Marzuki secepatnya menunduk ketika mereka berpapasan. Seakan sengaja membuat mental Marzuki tertekan, pria itu justru berhenti dan melontarkan sebuah kalimat yang memaksa Marzuki untuk mengangkat wajahnya.


"Apapun masalahmu, cobalah untuk professional ... paham?" Seolah tidak ada masalah, Kama sama sekali tidak merasa berdosa walau sudah sempat menghajarnya hingga bisa jadi itulah sebab Marzuki tak fokus.


Bodohnya, Marzuki justru mengangguk dan mengiyakan ucapan Kama seolah Kama memang serius memberikan nasihat baik, padahal jelas saja bukan. Dia berhenti dan menyapa Marzuki bukan tanpa alasan, tapi semata-mata untuk membuat mata Marzuki terbuka dan sadar siapa Laras, itu saja.


.


.


"Nyaman ya?"

__ADS_1


"Hm?"


Hingga tiba menuju area parkir, Ayas masih mengalungkan tangannya di lengan Kama. Sebuah tindakan tak sengaja yang Ayas lakukan demi membuat Marzuki panas, ternyata justru berlanjut untuk waktu lama.


Jelas Kama jadi memiliki alasan untuk mengejeknya, Ayas gelagapan dan melepas tangannya segera. Padahal memang sudah sewajarnya, tapi jika diejek begitu dia malu tentu saja.


"Hahah bercanda ... setelah ini mau kemana?"


"Hah?"


"Aku tanya, kamu mau kemana? Ada tempat yang ingin kamu datangi tidak? Masih banyak waktu kalau mau," ucap Kama menatap pergelangan tangan kirinya.


"Tidak, Mas ... kita pulang saja, mumpung Ganendra sama Tari masih di rumah, kata Kalila besok mereka harus balik ke Semarang."


"Woah akhirnya pulang juga, baguslah kalau begitu," seloroh Kama yang membuat Ayas mengerutkan dahi, sungguh, dia benar-benar bingung dibuatnya.


"Bagus? Kenapa bagus?"


"Bukan apa-apa, ayo pulang ... sekalian mau cek sesuatu, sudah lebih dari enam jam kebetulan."


Selalu saja ada yang membuat Ayas bingung, apa maksud Kama hingga dia kembali mengerutkan dahi. "Cek? Apa yang perlu dicek?"


"Bengkakmu."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2