
"Kok bisa bukan? Tanda-tandanya sudah sejelas ini."
"Yang dokter di sini siapa? Kau atau aku sebenarnya?"
Pertikaian semacam itu kembali terulang, sudah dua dokter yang Kama hadapi. Sebelumnya Kama mendatangi dokter yang memeriksa Ayas satu bulan lalu, wanita itu mengatakan jika Ayas tidak hamil.
Merasa kurang yakin dengan hal tersebut, Kama membawa sang istri ke dokter lain. Tiada Ayas duga, jika dokter cantik yang kali ini sedikit berbeda dengan dokter sebelumnya. Selain tidak mau kalah dan iya-iya saja, dokter yang satu ini juga tidak sesabar itu menghadapi Kama.
Ayas bingung hendak bersikap bagaimana. Dokternya pemarah, dan suaminya sengaja membuat naik darah, alhasil terjadilah adu mulut antara dokter dan sang suami terkait yang terjadi sebenarnya.
"Kak Mikhayla ... sekali lagi, bisa tolong periksa baik-baik?"
Kama memanggil namanya, Ayas menyimpulkan jika mereka saling mengenal. Wajar saja sampai berani adu mulut seperti tadi, pikir Ayas kemudian. Selama mereka bicara, Ayas memilih diam saja karena sesi tanya jawab antara dirinya dan dokter yang bernama Mikhayla Qianzy itu sudah tuntas sejak beberapa waktu lalu.
Setelah mendengar permintaan Kama, dokter itu menghela napas panjang, dia tampak bingung dan menatap Ayas yang sebenarnya merasa tak enak hati di sisi lain. "Kama, kau tahu ini sudah jam berapa? Aku sudah memeriksa istrimu tiga kali dan hasilnya tetap sama ... istrimu memang belum hamil, berat badannya bertambah karena memang gendut saja, jelas?"
"Sembarangan, istriku tidak gendut ya!!"
"Iyaya, apapun namanya intinya istrimu tidak hamil ... sabar saja, mungkin nan_"
"Ck, Kak Khayla firasatku tidak pernah salah, Ayas pasti hamil, coba periksa satu kali lagi," pinta Kama tetap tidak menyerah juga, padahal sudah jelas-jelas semasam apa wajah dokternya.
"Kama, kalau cuma mengandalkan firasat, Kakak juga hamil sepertinya ... lihat, aku juga gendut begini."
Sejenak keduanya sama-sama terdiam, baik Kama maupun dokternya kehilangan topik pembahasan. Kama tidak lagi bisa membantah sementara Mikhayla mungkin sudah malas menanggapi pria itu. Bukan tanpa alasan dokter tersebut mengambil langkah semacam itu, akan tetapi setelah Kama masih banyak pasien yang antri.
"Jadi benar tidak hamil?"
"Tidak, Kama."
__ADS_1
Berkali-kali Kama bertanya, dia masih belum puas juga dan berharap sekali Mikhayla akan meralat pernyataannya. Wajah wanita itu sudah tampak masam, tak seramah ketika mereka masuk pertama kali, Ayas sangat merasakan berubahan drastis raut wajahnya.
Kama menatap Ayas sekilas, begitu jelas Ayas lihat wajah sang suami teramat lesu dan tidak seceria awal masuk rumah sakit. Pertanda jika harapan Kama untuk memiliki sang buah hati sudah sebesar itu, Ayas menunduk dan meremmas jemarinya lantaran merasa telah membuat kecewa sang suami.
"Kakak tidak sedang berbohong, 'kan? Jujur ulang tahunku masih lama siapa tahu kakak salah." Masih tak menyerah, Kama kembali bertanya hingga Mikhayla mengelus dada.
"Astaga anak ini, untuk apa aku membohongimu." Tak hanya mengelus dada, tapi Mikhayla juga memijat pangkal hidungnya seraya bergumam begitu pelan. "Untung saja tidak jadi adik iparku."
"Bilang apa tadi?" Sialnya, mau sepelan apapun Mikhayla bicara tetap saja Kama mampu mendengar ucapannya.
"Ehm? Tidak ada, pulanglah ... kakak doakan segera mendapat kabar baik, see you next time, Kama dan juga Laras."
Mendapati pengusiran halus yang kini diperjelas oleh Mikhayla, pria itu terketuk hatinya untuk angkat kaki sekarang juga. Berbeda dengan ketika masuk, kali ini langkah Kama terasa amat berat, lesu bahkan matanya kini teramat sendu.
.
.
Perlahan, untuk pertama kalinya Ayas meraih jemari Kama hingga pria itu sontak menoleh ke arahnya. "Kenapa, Sayang? Ada yang ingin kamu beli di sekitar sini atau apa?" tanya Kama sembari mengurangi kecepatannya.
Ayas tersenyum tipis, dia tidak menduga jika tanggapan Kama tetap hangat padahal dia terlihat kecewa. "Enggak kok, Mas."
"Terus apa?"
Sebelum berucap, Ayas menarik napas panjang, melihat Kama yang begini sungguh dia menyesal sebenarnya. "Maaf ya, Mas, aku belum bisa kasih yang mas mau."
"Tidak apa-apa, jangan minta maaf, kamu tidak salah," tutur Kama yang justru mengecup tangan sang istri.
Permintaan maaf Ayas membuat Kama tersadar jika raut wajahnya justru ditanggapi berbeda. Segera dia mengulas senyum hangat demi membuat Ayas tenang dan tak merasa bersalah. "Mas yang kurang sabar, Yas, padahal penyakitan," canda Kama hingga Ayas semakin merasa tak enak hati.
__ADS_1
"Kok gitu bilangnya?"
"Bercanda, mas sudah sembuh ... berkat kamu," tutur Kama tersenyum simpul, tak lupa mengedipkan sebelah mata genit yang selalu berakhir membuat Ayas memerah.
Walau sudah begitu, beberapa saat kemudian Ayas kembali terdiam. Dia masih menatap Kama begitu lekat, tapi ketika ditatap balik dia selalu menghindar hingga ketika tiba di rumah utama, tanpa aba-aba Ayas menghambur ke pelukan Kama.
Tak hanya memeluk, tapi dia juga melontarkan kata maaf berkali-kali dan hal itu jelas saja menimbulkan tanya di benak Kama. "Yas, kamu kenapa?"
"Maafkan aku, Mas."
"Ya, Tuhan, sudah mas bilang bukan salah kamu ... berhenti minta maaf, paham?" Kama menepuk pundak sang istri beberapa kali sebelum kemudian mendorong tubuh Ayas perlahan. "Jangan nangis, nanti kita coba lagi ... selesai resepsi kita bulan madu mau?"
"Kalau bulan madu pasti jadi ya, Mas?"
"Ya nggak tahu, pokoknya kita coba saja dulu ... tapi rata-rata jadi."
"Mau deh kalau gitu, ntar aku minta ajarin mbak Dania gimana caranya biar cepat ham_"
"Kamu meragukanku sampai harus tanya kakakmu? Hm?"
"Ti-tidak, Mas, bukan begitu, aku cum_"
"Halah, awas saja nanti ... mas buat hamil berkali-kali, mas pastikan 12 anak kita akan lahir dari sana," ucap Kama seraya menatap ke bagian bawah perut Ayas yang membuat wanita itu meneguk salivanya pahit. "Du-dua belas katanya?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1