Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 58 - Banyak Tanya


__ADS_3

Walau terkesan banyak bercanda, tapi Kama tidak pernah main-main jika sudah berkaitan dengan orang terdekatnya, terlebih lagi tentang istri. Pertanyaan untuk Ayas terkait mau atau tidaknya diajak ke dokter hanya sekadar formalitas, karena pada faktanya keputusan tetap berada di tangan Kama sendiri.


Pagi ini Kama menunjukkan jika dirinya berkuasa penuh atas diri Ayas. Bukan hanya memerintah, tapi Kama bergerak sendiri agar cepat. Tidak ada gunanya sebuah penolakan, Kama tidak menerimanya dan Ayas terpaksa pasrah ketika Kama membantunya mandi begitu juga dengan mengenakan pakaian.


Bukan tidak ada perlawanan, sejak awal Ayas sudah menolak dan mengatakan bisa sendiri, tapi kembali lagi suaminya adalah Kama yang ketika bilang A, maka maunya A. Tidak ada yang bisa Ayas tuntut dari sang suami, yang ada hanya dia harus membiasakan diri sebagai istrinya, itu saja.


Kali ini, Kama tidak bercanda dan begitu mengerti apa mau istrinya. Tanpa Ayas minta, dia memilihkan pakaian yang sekiranya Ayas nyaman dan tidak takut untuk keluar kamar. Maklum saja, di rumah ini saudara iparnya masih berada di rumah utama dan belum ada niat angkat kaki segera.


Kama tidak peduli soal Kalila, dia juga mengatakan untuk Ayas agat tidak terlalu memikirkan keberadaannya. Sungguh, jujur Ayas akui pagi ini merasa benar-benar dimanjakan mendiang ibunya sewaktu masih kecil. Bahkan, sampai sepatu juga turun Kama pakaikan seraya, padahal dia bisa sendiri.


"Susah jalannya?"


Sekalipun iya, Ayas lebih memilih menggelengkan kepala dibandingkan harus digendong sang suami. Begitu mendapat jawaban, Kama segera menggenggam tangan Ayas dan berlalu keluar kamar.


Dia tahu istrinya mungkin gugup, Kama tak ingin melepaskan Ayas begitu saja. Kebiasaan keluar kamar dengan bergandengan tangan bukan baru kali ini, tapi sejak kemarin-kemarin Kama sudah melakukannya.


Jadi, dia bersikap manis bukan karena telah mendapatkan apa yang berharga dalam diri Ayas, tapi memang begitu adanya. Begitu tiba di ruang makan, jelas sambutan saudaranya tampak berbeda. Terlebih lagi, sarapan mereka hampir selesai karena persiapan Ayas dan Kama terlalu runyam.


"Tumben ... biasanya bangun pagi."


Pertanyaan Kalila tidak lagi Kama jawab, tujuannya kemari untuk mengajak sang istri sarapan, bukan memberikan pengakuan. Beruntung saja, hanya Kalila yang mengusik ketenangannya, sementara mama dan papanya tampak mengerti hingga tidak banyak tanya.


"Tidak apa-apa ... mungkin saja Laras kelelahan atau semacamnya, karena semalam mama lihat memang seperti kelelahan."


"Iya, Ma, istriku memang meriang semalam."


Walau Kama frontal, ada kalanya dia menjaga sikap demi kenyamanan istrinya. Mana mungkin dia akan jujur semalam habis berbuat apa, jelas dia tidak akan mau dia menyampaikan pengakuan secara gamblang di hadapan kedua orang tuanya.


"Meriang?"

__ADS_1


Sayangnya, walau Kama sudah berusaha sebisa mungkin terlihat biasa, Kalila masih saja penasaran dan seolah menuntut Kama untuk memberikan pengakuan sejujur-jujurnya.


"Iya, wajahmu kenapa begitu?" kesal Kama mulai melayangkan tatapan tak bersahabat pada saudaranya. Andai saja tidak ada yang melihat, mungkin Kama akan memasukkan buah pisang itu ke dalam mulutnya agar diam.


Kalila menghela napas panjang, matanya menatap curiga Kama. "Kalau cuma meriang kenapa Zidan sampai ikut pulang? Dia bilang Laras dalam bahaya dan salah minum obat, bisa jelaskan?"


"Hah? Zidan?"


Kama menoleh, mencoba mencari sosok asisten pribadinya siapa tahu memang masih di sini. "Dimana dia?"


"Di depan, semalaman dia tidak pulang karena khawatir ... apa yang dimaksud Zidan obat itu? Kenapa bisa sal_ aaawwwhh, Kama!!"


Tak ingin posisinya terancam, Kama menginjak kaki Kalila hingga wanita itu berhenti bicara. Susah payah dia menutupi apa yang terjadi, tapi Kalila justru berpotensi membuka tabir rahasianya.


"Obat? Obat apa, Kalila?"


Celakanya, Mama Zura sudah mendengar lebih dulu hingga Kama gelagapan dibuatnya. "Bukan apa-apa, Ma ... sayang ayo, nanti kita telat."


Beruntung saja mamanya tidak begitu cerewet dan banyak tanya, berbeda dengan omanya. Asal izin maka sudah pasti diperbolehkan dan tidak akan ada kemarahan lainnya, terserah Kalila saja menghadapi sang mama bagaimana, toh dia juga yang akan kena.


.


.


Usai dengan Kalila, pria itu kembali mencari sosok pemicu masalah yang katanya ada di depan. Benar saja, begitu keluar rumah, Kama mendapati sosok pria tampan yang kini sudah tampak rapi dengan pakaian yang sama seperti kemarin.


Kama tidak tahu dia ikut pulang, entah apa tujuannya juga tak mengerti. Namun, sapaan selamat pagi dari Zidan benar-benar menyebalkan bagi Kama hingga dia hanya menghela napas pelan.


"Kau belum sarapan?"

__ADS_1


"Kebetulan sudah, hari ini saya mulai bekerja dari sini saja ya, Pak."


Terserah, Kama hanya memijat pangkal hidung seraya mengangguk pelan. "Kau nyaman?"


"Nyaman, Pak."


"Maksudku pakaianmu, bukankah kau tidak berganti? Terutama pakaian dallam, apa tidak gatal-gatal, Zidan?" tanya Kama seketika memikirkan kenyaman Zidan.


"Nyaman, semalam nyonya memberikan saya pakaian ganti, begitu juga dengan pagi ini."


Tak ada pertanyaan lain, Kama hanya mengangguk dan memerintahkan istrinya untuk masuk ke mobil. Namun, ketika dia ingin masuk juga, Zidan tiba-tiba menahan tangan Kama seolah butuh penjelasan juga.


"Apa lagi, Zidan? Ayo cepat, kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Maaf jika lancang, Pak, tapi apa yang terjadi pada Nona? Anda bilang salah minum obat, obat sampai Anda panik semalam dan pagi ini justru harus ke rumah sakit?"


"Apa perlu aku jawab?" Panjang lebar pertanyaan Zidan, dan dia tidak menjawab satu pun, melainkan balik bertanya.


"Iya, Pak, saya khawatir dengan keadaan Nona ... apa mungkin Nona mengonsumsi obat impoten An_"


"Ck, banyak sekali pertanyaanmu! Obat kurrap!! Puas?"


"Anda mengidap penyakit semacam itu juga?"


"Ya, Tuhan, Zidaaaaaan!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2