
Seolah tak habis kalimat Kama dalam membuat Ayas salah tingkah, kali ini dia kembali melancarkan aksinya hingga Ayas tak memiliki keberanian untuk menatapnya. Dia bukan menggombal, tidak pula melayangkan pujian atau bait puisi untuk Ayas.
Namun, percayalah sebuah pertanyaan yang Kama lontarkan benar-benar membuat Ayas berdesir. Dia gugup, sedikit menyesal bertanya dan kini bingung hendak menjawab apa.
Sejak awal bertemu Kama memang dia seakan dipaksa untuk dewasa, dan semakin kesini, Kama semakin menjadi, terlebih setelah menikahinya. Mungkin bagi Kama biasa, bahkan bisa dianggap candaan saja, tapi tidak bagi Ayas.
Dia menganggap hal itu serius, di balik diam dan dirinya yang salah tingkah, Ayas justru berpikir keras tentang kebenarannya. "A-apa iya sembuh?"
"Iya, kenapa bingung begitu?"
Ayas terdiam beberapa saat sebelum kembali melontarkan pertanyaan, "Ehm terus setelah punya anak gimana? Apa bisa dipastikan sembuhnya permanen?"
Untuk pertanyaan itu, jujur saja Kama tidak tahu jelasnya. Karena tidak dapat dia pastikan, beberapa kali Kama kerap mendapati Kalila yang telah bersuami dan memiliki anak juga tetap merasakan nyeri ketika datang bulan.
Hanya saja satu hal yang pasti ialah selama sembilan bulannya aman. "Entahlah, buktikan saja nanti ... yang jelas amankan dulu sembilan bulannya, entah masih sakit atau tidak setelahnya ya urusan nanti," papar Kama santai.
Mudah sekali dia menarik kesimpulan, Ayas yang merasa saran Kama bukan solusi sebenarnya memilih memejamkan mata, pura-pura tidur karena tak ingin pembicaraan Kama semakin berputar di situ-situ saja.
Sudah tentu hal itu tertangkap jelas di mata Kama, berpura-pura di hadapan Kama adalah hal paling mustahil di dunia, terlebih lagi jika tidak terbiasa. "Aktingmu jelek sekali, belajar lagi sana."
Ayas membuka matanya perlahan, padahal dia sudah yakin melakukan yang terbaik, tapi Kama semudah itu mengetahui rencananya. Hanya karena Ayas belum menjawab iya atau tidaknya, Kama sampai mendesak sang istri detik itu juga.
"Siapa yang akting? Aku memang ngantuk kok!" Setelah kemarin selalu menghadapi Kama dengan lemah lembut, entah kenapa kali ini Ayas justru memiliki keberanian untuk sedikit meninggikan suaranya.
Bukannya tersinggung atau marah lantaran istrinya mulai berani, Kama justru tertawa sumbang dibuatnya. "Terserah, intinya jawab dulu pertanyaannya."
Kama sangat butuh validasi dan pengakuan dari bibir Ayas secara langsung, sangat butuh. Pria itu rela menunggu cukup lama hanya demi pertanyaan yang mungkin sudah dia ketahui jawabannya.
"Mau 'kan?"
__ADS_1
Tak kuasa untuk menjawab dengan bibirnya, Ayas mengangguk pelan hingga Kama berseru yes dalam hatinya. Pertanyaan Kama tidak sesederhana itu sebenarnya, dia memang butuh persetujuan dari Ayas.
Jika Ayas mungkin berpikir Kama hanya menginginkan tubuhnya, hal itu salah besar. Yang dia maksudkan mau atau tidak dihamili ialah tentang kesiapan Ayas menjadi seorang ibu.
Pertanyaan itu memang sekilas seperti tengah menggoda, tapi bagi Kama sudah masuk ranah serius dan otak Ayas belum sampai kesana. "Aku tidak bercanda, Laras, jika kamu berpikir aku hanya sedang mencuri kesempatan, jelas salah besar."
"Aku serius ... sama seperti pria lain, aku juga ingin memiliki keluarga sempurna nantinya."
Setelah tadi sempat membuat wajah Ayas terbakar karena menahan malu, kali ini Kama mendadak serius hingga Ayas merasa bak tengah bicara dengan dua orang yang berbeda. Tidak ada wajah tengil di sana, Ayas menatap kesungguhan di mata tajam Kama.
"Bersediakah kamu melahirkan keturunanku, Larasati?" Ketika panggilannya sudah berbeda, maka Kama memang tidak lagi bercana.
Lagi dan lagi, Ayas mengangguk pelan dan menerima uluran tangan Kama yang bermakna sebagai tanda persetujuan. "Iya, bersedia," jawab Ayas menghela napas panjang, sebuah jawaban sekaligus pengakuan bahwa telah menyerahkan diri sepenuhnya pada Kama.
Cukup lama keduanya saling memandang, Ayas mencoba memaknai setiap ucapan Kama yang begitu dalam. Hingga, di tengah kedekatan mereka, ponsel Ayas berdering dan Kama sempat berdecak kesal dibuatnya.
Hanya berdecak kesal, tapi tidak marah dan dia sendiri yang bahkan mengambilkan ponsel Ayas di atas nakas.
.
.
Melihat kening Kama yang berkerut, Ayas jelas saja penasaran. Terlebih lagi, Kama tak segera memberikan ponselnya, melainkan menatap layar ponsel itu cukup lama. "Pacarmu," jawab Kama sembari menyerahkan ponsel Ayas dan dia tidak menolak atau melakukan apapun saat itu.
Ayas terlihat bingung, dia bertanya-tanya kenapa Kama justru biasa saja dan masih menyebut Marzuki sebagai pacarnya. Bahkan, sampai Marzuki menghubunginya kedua kali, Ayas masih terus menatap bingung sang suami.
"Angkat saja, siapa tahu penting," tutur Kama lagi, suaminya benar-benar tak terbaca, Ayas sungguh bingung dengan sikap Kama.
Awalnya tidak ingin Ayas angkat, tapi Marzuki menghubunginya berkali-kali, wanita itu jengkel juga. Pertama kali dalam hidup, Ayas menjawab panggilan Marzuki dengan percikan emosi, sungguh dia ingin marah sekali.
__ADS_1
"Apalagi? Kita sudah selesai ... ibumu tidak cerita sama sekali atau bagaimana!!"
Kama tersenyum simpul mendengar suara istrinya yang meninggi. Sebagaimana kata Ida, Kama biasanya mendapatkan kesenangan jika seseorang mengalami kesusahan, salah-satunya keributan semacam ini.
Sengaja memantau Ayas dari dekat, dia ingin menikmati sepasang kekasih yang telah usai itu bertengkar. Agaknya, Marzuki butuh penjelasan dan ada hal yang tidak tersampaikan dengan baik di antara mereka.
"Kesempatan apa? Selama ini kamu sama aku gimana? Sampai ibu meninggal juga kamu cuma ucapin bela sungkawa seperti orang asing saja ... apa lagi yang mau diperbaiki?"
Pria itu ber-oh ria mendengar celotehan Ayas, agaknya Marzuki tengah berusaha memperbaiki hubungan. Kama tak buru-buru ikut campur, dia tidak ingin menjadi antagonis dalam hubungan mereka.
Tidak jauh berbeda seperti wanita lainnya, Ayas sama saja jika sudah menghadapi cinta. Kama menunggu, hingga Ayas mematikan ponselnya dan di sana dia melihat jelas sang istri menangis, jelas Kama tak suka.
Memang tidak langsung dia kasari, tapi Kama perlahan meminta kembali ponsel Ayas setelah mereka bicara. Kama biarkan Ayas menangis beberapa saat, tanpa melakukan apa-apa dan hanya dia pandangi saja.
Ayas sesenggukan, hingga beberapa saat setelah dia tenang barulah Kama kembali bersuara. "Sudah?"
"Sudah," jawab Ayas menyeka kasar air matanya, ternyata setelah bicara pada Marzuki secara langsung, sakit itu tetap ada.
"Menangislah puas-puas hari ini, habiskan air matamu untuknya selagi kuizinkan."
Ucapan Kama kembali menjadi tanya bagi Ayas, terlebih lagi dia yang tiba-tiba beranjak dari tempat tidur jelas membuat Ayas berpikir jika Kama marah atau semacamnya. "Kamu marah, Mas?"
Kama menggeleng, tapi sikapnya seperti hendak pergi hingga Ayas nekat berdiri dan berusaha menahannya. "Mau kemana? Aku tidak akan menangisinya lagi," tutur Ayas sedikit bergetar seraya menahan pergelangan tangan Kama.
"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan, tunggu di sini ... aku tidak akan lama," pungkas Kama sebelum kemudian mengecup pipi Ayas sekilas, hanya beberapa detik kemudian berlalu keluar kamar.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -
Selamat hari senin, jangan lupa ritualnya para penduduk bumi ❣️ Votenya yang ga kepakek lempar aja buat Kama jika berkenan emuaaah.