Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 32 - Ada Obatnya


__ADS_3

Sesuai dugaannya, Ayas menahan rasa sakit. Itu juga dia ketahui dari Ida, dan tanpa banyak bicara, Kama bergegas pulang segera. Tidak lupa dia berhenti di apotek dan membeli beberapa macam obat yang mungkin akan Ayas butuhkan.


Dia tidak tahu jelasnya, Kama juga bukan dokter dan dia tidak bertanya lebih dulu pada Ayas, asal beli saja dan berharap salah-satunya ada yang cocok. Tak hanya obat, tapi dia juga menyempatkan diri untuk membeli pembalut berbagai jenis, sudah tentu prinsipnya sama seperti obat pereda nyeri haid.


Kama tidak malu, toh sudah biasa direpotkan saudaranya sewaktu belum menikah. Bedanya, Kalila banyak mau dan memerintah layaknya baginda ratu, sementara Ayas tanpa meminta dan tidak mengeluhkan rasa sakitnya pada Kama.


Pandangan aneh beberapa orang yang tertuju padanya juga tidak Kama pedulikan. Sudah jelas mereka bukan lagi kagum dengan perjuangan Kama untuk pasangannya, melainkan bingung lantaran pria itu membeli kebutuhan satu wanita sudah persis hendak belanja stok di warung.


Mungkin semua merk dia beli, bisa dipastikan Ayas tidak akan kebingungan dalam waktu beberapa bulan ke depan. Begitu tiba, dia sudah disambut tatapan bingung Ida yang kini menerima barang belanjaannya.


"Ayas di kamar?"


"Iya," jawab Ida sedikit gelagapan, dia masih bingung dengan kehadiran Kama yang mendadak bawa stok sebanyak itu.


Walau bingung, dia tetap mengekor di belakang punggung Kama, sekalian Ida juga menyiapkan air hangat yang sempat Ayas minta.


Tak jauh berbeda dengan Ida, reaksi Ayas kurang lebih sama begitu Ida meletakkan barang belanjannya. Walau jujur saja Ida penasaran dengan pembicaraan pasangan itu setelahnya, tapi dia memilih pergi lantaran khawatir Kama justru tak suka diganggu privasinya.


"Kenapa banyak sekali? Aku sudah minta punya Mbak Ida." Suara Ayas terdengar lesu, nyaris tak bertenaga.


"Aku tidak tahu kamu pakai yang mana, kubeli saja semua ... mau yang sayap, tidak bersayap, dingin dan dan lain-lain ada, tinggal pilih saja," jawab Kama santai, baginya hal semacam ini tidak perlu dibingungkan, toh lambat laun akan terpakai juga.


Sama halnya dengan Kama, Ayas juga tidak mempermasalahkan itu. Sedikit lebih bersahabat, istrinya tidak bawel dan Kama tidak perlu menggunakan urat untuk menghadapinya. "Masih sakit?"


Jika ditanya sakit atau tidak, jelas saja masih, bahkan sangat sakit. Terlebih lagi, ketika Kama justru mendekat dan mendadak terasa lebih deras, Ayas sampai ngilu dibuatnya. "Masih," jawab Ayas lemas, ingin dia bawa tidur, tapi tidak bisa.


"Ke dokter mau?"

__ADS_1


"Tidak, biasanya pakai air hangat begini sembuh," ucap Ayas menempelkan botol yang diisi air hangat itu di atas perutnya.


Sedikit lebih baik, dia terpejam sesaat seraya menahan sakit. Sejenak dia melupakan masalah dua kantong pembalut yang Kama beli untuknya. "Apa sembuh hanya karena itu? Aku sudah beli obatnya, coba diminum dulu."


.


.


Ayas tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri sebelumnya. Ibunya biasa memberikan obat-obatan herbal dan air hangat saja. Karena itu, begitu Kama menawarkan obat mana yang hendak dia pilih, Ayas juga bingung.


"Biasanya jamu?"


"Iya, biasanya begitu." Bibirnya sudah pucat, bisa dipastikan sakitnya tidak lagi bercanda.


Kama juga membeli dalam bentuk minuman yang dia simpulkan kurang lebih sama seperti jamu. Tanpa Ayas minta, Kama segera membukakan botol minuman tersebut dan membantu sang istri untuk duduk.


Ayas menggeleng, dia sudah biasa begini dan biasanya memang di hari pertama sakitnya luar biasa. Namun, setelahnya agak sedikit bersahabat dan tidak segila ini. "Nanti sembuh sendiri, sudah biasa begini," ucap Ayas kembali meringkuk dan menekan botol tersebut ke perutnya.


Sementara Kama yang sejak tadi berada di sisinya menatap Ayas penuh iba. Merasa tak punya pilihan, Kama kembali menghubungi Samuel untuk menuntaskan masalahnya.


Cukup lama Kama memahami pesan singkat dari Samuel, semua caranya tidak ada yang benar hingga Kama berdecak kesal dan meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


Berbekal insting, Kama mencoba mengoleskan minyak angin dan memijat area pinggangnya beberapa saat. Tidak bisa dipungkiri, Ayas merasakan kenyamanan walau pijatan sang suami tidak sebaik ibunya.


Setelah beberapa lama di pinggang, Kama meminta Ayas untuk berbaring dan dia menurut saja. Tanpa kecurigaan, karena memang wajah Kama terlihat serius kali ini. Mata Ayas perlahan mengecil, rasa sakit yang perlahan mereda itu menghantarkannya untuk bisa terlelap segera.


Namun, ketika Kama mengangkat tangannya, Ayas kembali membuka mata dan memerhatikan gerak gerik sang suami. Kama mengatur posisi bantal dan membuatnya bak pasien patah tulang, seakan parah sekali.

__ADS_1


"Kok bangun? Apa belum berkurang sakitnya?"


Entah kenapa Ayas juga bingung, jiwanya seakan kembali menginginkan sentuhan itu. "Mendingan," jawab Ayas pelan, dia tidak berbohong memang sejak Kama mengatur posisi tidur dan meletakkan bantal di pinggangnya, sakitnya benar-benar mereda.


Barulah setelah Ayas berkata mendingan dia sedikit lebih tenang. Kama berbaring di sisi Ayas dan memandangi wajah pucat sang istri. "Apa tiap bulan begini?" tanya Kama penasaran, walau jawabannya sudah tertebak, tapi dia tetap ingin tahu dari bibir Ayas sendiri.


"Iya, tiap bulan."


"Kamu mau sembuh tidak?"


Sejak dulu Ayas selalu mau, dia sangat-sangat mau dan jelas saja kala Kama bertanya dia mengangguk berkali-kali. "Ada sih obatnya, dijamin kamu tidak akan merasakan nyeri haid lagi setiap bulannya," ucap Kama lagi, dengan polosnya Ayas mengerjap pelan dan mendadak penasaran apa obatnya.


"Apa obatnya?"


"Kalau udah tahu obatnya yakin mau?"


Rasa penasaran Ayas menuntunnya untuk kembali menggangguk pelan, iya dia sangat-sangat ingin sembuh jujur saja. "Hamil, pasti sembuh," jawab Kama seketika membuat mata Ayas membulat sempurna, dia berdesir begitu Kama berucap demikian dengan santainya.


"Hamil?"


Kama mengulas senyum tipis, sengaja melingkarkan tangan di pinggang Ayas dan sengaja mengikis jarak. "Iya ... mau kuhamili?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2