Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 34 - Berlagak Panik


__ADS_3

Tidak ada tujuan lain, Kama mendatangi lokasi syuting Marzuki saat itu juga. Bukan untuk menghajarnya, bukan pula untuk marah karena masih berani menghubungi istrinya. Jauh dari dugaan, yang Kama lakukan justru berbeda, dia datang seakan paling peduli dan mendengarkan keluh-kesah Marzuki.


"Woah tiada kuduga, jadi Rindy meninggalkanmu demi laki-laki yang lebih kaya?"


Sudah Kama duga, pasti ada alasan kenapa pria ini kembali menghubungi istrinya, meminta kesempatan kedua dan mengemis kembali pada Ayas saat dirinya terluka. Untuk beberapa lama Kama masih mendengarkan dengan seksama, sembari dia menyimpulkan watak mantan tunangan istrinya.


Salah-satu yang membuat Marzuki berpaling adalah ketika berada di atas atau mendapatkan kesenangan. Mungkin cara berpikir Kama agak sedikit bertentangan dengan sebagian orang, tapi dia justru mengatur strategi untuk membuat pria ini lebih hancur lagi dengan semua pencapaian yang telah dia titi.


Bisa saja jika dia mau menghancurkan Marzuki saat ini, karir yang belum seberapa itu hancur dengan tanah tanpa sisa juga dia bisa. Namun, melihat Ayas yang tadi saja sudah menangis begitu dihubungi, Kama khawatir istrinya akan luluh atas dasar kasihan nantinya.


Terlebih lagi, di dalam hati Ayas besar kemungkinan pria ini masih bertahta. Sebelum Ayas benar-benar mengintainya, bukan tidak mungkin wanita itu kembali berpaling andai Marzuki merebut kembali Ayas dari sisinya.


Ya, walau belum tentu juga Ayas menerima Marzuki kembali sekalipun dia berlutut. Hanya saja, Kama takut saja jika istrinya termasuk kategori wanita yang mengatasnamakan cinta tanpa logika.


Karena itulah, dia tidak akan membiarkan Marzuki menderita lebih dulu sebelum hati Ayas menjadi miliknya. Dia hanya butuh waktu, dan sedikit menjadi munafik demi wanita rasanya tidak masalah.


"Kau tenang saja ... aku pastikan Rindy menyesal setelah ini," ujar Kama seraya mengetukkan jarinya di atas meja.


Mendengar janji manis Kama, wajah Marzuki berbinar. Seolah hanya itu yang dia pedulikan, bahkan sama sekali dia tidak bertanya tentang kabar Ayas yang dia ketahui bekerja sebagai pembantu di rumah Kama.


"Terima kasih, Pak, Anda baik sekali."


"Santai, bakatmu lumayan ... aku banyak mendengar tentangmu dari Laras."


Sejak tadi Marzuki tidak menyinggung nama Laras, maka kali ini Kama yang memulainya. Dia ingin mendengar pengakuan dari mulut Marzuki tentang sang istri sekali lagi.


Terakhir mereka bicara menyangkut Laras itu di toilet, tapi Kama tak bisa memastikan apa Marzuki mengerti maksudnya atau tidak.


"Laras?"

__ADS_1


"Hm, bukankah dia dekat denganmu? Kalau tidak salah calon suaminya, 'kan?"


Bukan hanya orang-orang yang bekerja di bawahnya saja pandai bersandiwara, Kama justru lebih bisa. Dia memasang wajah lugu seolah tidak tahu segalanya, padahal hal terkecil saja Kama ketahui.


Marzuki mengullum senyum usai mendengar pertanyaan Kama, demi Tuhan pria itu sebal sendiri melihatnya. Dadanya sudah panas, dan dia yang tadi hanya mengetukkan jari di atas meja, kini beralih mengepalkan tangan demi menahan emosinya.


"Sudah berakhir juga, Pak ... kata ibu saya, Ayas menikah satu hari setelah ibunya meninggal dunia."


"What? Ibunya meninggal?"


Berlagak paling kaget sedunia, padahal yang memeluk Ayas di malam itu adalah dia. Kama sampai gemetar, dia perlihatkan tangannya dan meratapi nasib Ayas. "Kau lihat tanganku ... wajar saja dia tiba-tiba pergi dan tidak bisa dihubungi, jadi dia menikah?"


"Benar, Pak ... saya tidak mengerti kenapa Ayas sampai tega meninggalkan saya, padahal saya berjuang juga demi dirinya."


Kembali dengan air mata buaya yang membuat Kama ingin sekali mendaratkan bogem mentah di wajah Marzuki. Namun, sebisa mungkin dia menjaga sikap lantaran tak ingin Marzuki justru curiga.


"Turut prihatin, apa kau tau siapa suaminya?"


Menunduk minta dikasihani tentu saja, dan Kama jelas tidak akan kasihan sama sekali. "Ibumu benar, kau fokus saja dengan karirmu, wanita akan datang sendiri nanti."


Marzuki mengangguk, layaknya seseorang yang tengah diberikan kekuatan dan semangat dari pria berkuasa, jelas saja semua bebannya hilang. Luka hati ditinggalkan Rindy dan hendak kembali pada Ayas tak bisa lagi seolah bukan masalah bagi Marzuki, semua telah terganti saat ini.


Sedikit pembicaraan yang dirasa akan lebih berhasil dibandingkan mengancam Marzuki. Kembali ke tujuan awalnya, Kama ingin hati Ayas menjadi miliknya tanpa terpaksa, dan selama proses itu terjadi dia tidak ingin masa lalu Ayas menjadi momok yang memang dia takuti.


"Oh iya, kau mau bersenang-senang?"


"Maksudnya?"


"Ada tempat dimana kau bisa melampiaskan kesedihanmu, kau bebas dan di sana kau akan merasakan hidup sehidup-hidupnya."

__ADS_1


"Dimana?"


Kama tersenyum tipis, mudah sekali menjerumuskan pria itu. Segala cara akan Kama lakukan agar Marzuki tidak lagi mengusik istrinya, bodohnya pria itu justru merasa besar kepala dan menganggap Kama mau berteman dengannya.


"Sebut saja namaku, maka kau akan diperlakukan dengan baik oleh mereka," ucap Kama usai memberikan kartu nama yang kemudian Marzuki terima tanpa sedikit pun merasa curiga.


Bahkan, dia berseru yes begitu Kama menjauh. Tak hanya itu, dia segera merogoh ponselnya dan mencari nomor telepon Ayas hanya demi melontarkan sebuah kata-kata menyakitkan lantaran tidak terima dengan penolakan Ayas beberapa saat lalu.


.


.


"Heh kampungan ... lupakan yang tadi, aku bahkan malu mengingatnya. Aku hanya bercanda soal kesempatan kedua, mulai saat ini kita jalani hidup masing-masing."


"Benar kata ibu, aku seharusnya bersyukur kamu menikah dengan laki-laki lain, memalukan sekali. Tertangkap basah berbuat messum padahal tanah kuburan ibunya masih basah? Ckck kasihan, pasti sangat sedih ya sampai butuh belaian pria lain?"


"Sehat-sehat pelaccur ... kau harus melihat keberhasilan_"


"Fucck!! Woah badjingan ini gila atau bagaimana?"


Kama berdecih tak percaya, dia bingung kenapa bisa ada makhluk sejenis itu. Jujur saja dia ingin marah, Kama mengepalkan tangan dan memejamkan matanya, tapi dengan sikap yang Marzuki tunjukkan maka artinya tujuan Kama tercapai segera. Ada beberapa pesan suara yang masuk di ponsel Ayas, dan hanya tiga yang sanggup Kama dengar, itu juga tidak seluruhnya.


Sisanya tidak ingin dia dengar, Kama menyimpan kembali energinya untuk menemui sang istri. Begitu memasuki gerbang utama, mata Kama sudah tertuju pada sebuah mobil yang tampak begitu familiar di matanya.


"Ck, sejak kapan dia di sini?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2