
"Masih sakit ya?"
Kama menggeleng, agaknya mulai hari ini dia harus berhati-hati dalam memutuskan segala sesuatu. Ya, apa yang terjadi pada aset berharganya jelas tidak ingin Kama rasakan sekali lagi. Nikmatnya tak seberapa, hanya beberapa detik, tapi sakitnya tidak kira-kira.
Bahkan, Kama sampai pucat, dia gemetar dan kini diam saja di tepian tempat tidur seolah baru saja mendapatkan penyiksaan. Ayas yang menarik miliknya tanpa sengaja membuat nyawa Kama seolah tercabut juga, bisa dikatakan dia trauma.
Alhasil, dia mendadak berubah pikiran dan meminta Ayas mengurungkan niat untuk memakai lingerie yang tadinya sempat menjadi perdebatan. "Maaf, aku benar-benar tidak tahu, Mas."
"Maaf kamu bilang?"
Kama masih bingung, dia tetap tidak bisa menerima jika Ayas beralasan sedemikian rupa. Pria itu sempat berpikir jika Ayas sengaja membalas dendam dan memberikan pelajaran padanya, padahal tidak sama sekali.
Sedikit pun tidak ada niat Ayas menyakiti, bahkan di juga tidak menyangka jika Kama akan tersiksa tadinya. Dia pikir apa yang dia lakukan sudah benar, karena sepengetahuan Ayas ketika Kama melakukannya sendiri seperti butuh tenaga, hal itulah yang menjadi alasan kenapa dia menggunakan tenaga juga.
Ternyata, dugaan Ayas bahwa Kama akan mendetsah seperti biasa salah besar. Jangankan nikmat, hingga detik ini yang Ayaa lihat hanya wajah suaminya yang pucat. "Aku tidak sengaja, aku juga tidak pernah melakukannya ... kenapa mas malah marah?"
"A-aku tidak marah, cuma sedang berpikir apa istriku bercita-cita jadi janda atau bagaimana?"
Ayas mengatupkan bibir, Kama bilang tidak marah, tapi raut wajahnya sangat berbeda. "Maksudnya?"
"Bagaimana ya aku menjelaskannya padamu ... jadi begini istriku, salah-satu pusat kehidupan pria ada di sini, kalau sampai putus nyawa taruhannya," jelas Kama panjang lebar, walau jujur saja dia lelah, tapi tetap dijelaskan pada akhirnya.
"Sefatal itu?"
"Hem yeah, kamu pikir apa," gumam Kama sebal sendiri melihat Ayas yang kini menganga, entah memang tidak mengerti atau pura-pura, tapi Kama kesal luar biasa.
"Ya, Tuhan, Mas? Serius bisa sampai begitu ... coba kulihat separah ap_"
"Heeeeeeh mau apa?!" tanya Kama memekik dan menutup kakinya rapat-rapat kala Ayas mendekat, kedatangan istrinya kali ini bak monster di mata Kama.
__ADS_1
Jika sebelum kejadian mungkin dia akan senang, tapi untuk kali ini Kama justru takut dan menepis pelan tangan Ayas seketika. "Kok ditutup, aku cuma mastiin gimana keadaannya?"
"Tidak mau, tadi sudah kulihat dan masih aman, Michelle cuma shock jadi butuh istirahat ... sana." Tak ingin nasib senjatanya lebih mengenaskan, Kama meminta Ayas menjauh secepatnya.
"Michelle?"
"Hm, dah sana ... jangan khawatirkan aku."
Beberapa waktu Ayas masih tetap bertahan di posisinya, Kama yang khawatir memilih beranjak demi megenakan pakaiannya. Sementara Ayas yang sejak tadi masih menggunakan bathrobe turut mengekor lantaran merasa bersalah pada sang suami.
Dia masih membantu, walau sebenarnya peran dia juga tak begitu berarti, Ayas tetap melakukan apapun untuk sang suami. Tanpa dia sadari, saat ini dia sudah berada di titik mendahulukan Kama dibanding dirinya.
"Kamu kenapa belum pakai baju?"
"Hah? Oh iya." Sungguh, Ayas baru sadar akan hal itu hingga membuat Kama menggeleng pelan.
Sekhawatir itu Ayas padanya, bukan hanya khawatir Kama kenapa-kenapa, tapi ternyata juga khawatir Kama marah. "Bener nggak marah?"
Sikap penurutnya memang alami, Ayas mengangguk begitu Kama bertanya. Setelah sejak tadi memastikan suaminya tidak marah, baru kali ini Ayas tampak lebih tenang, mungkin karena diajak makan malam.
Padahal, mana mungkin juga Kama tega untuk marah hanya karena hal yang justru adalah salahnya. Pria itu lupa jika istrinya masih begitu muda dan juga terjaga, mana mungkin Ayas paham tentang kegiatan semacam itu.
Jika mengingat itu, mendadak Kama terpikirkan satu hal. Agaknya, sang istri memang butuh tutorial dan ilmunya dulu untuk paham. Seketika, wajah Kama berseri begitu rencana dalam otaknya mulai tertata dengan sempurna.
.
.
Cukup lama waktu yang mereka, melupakan sejenak tragedi kamar mandi, Kama mengajak istrinya keluar untuk menikmati Bandung di malam hari. Niat awal makam malam, tapi pria itu justru berpikir kenapa tidak memanfaatkan waktu untuk sekalin jalan-jalan di luar.
__ADS_1
Hampir tiga jam berlalu, keduanya kembali dalam keadaan perut kenyang, begitu juga dengan mata. "Jangan tidur, tidak baik habis jajan banyak langsung tidur begitu."
Kelelahan akibat diajak suaminya ke banyak tempat, Ayas tak kuasa menahan diri hingga meghempaskan tubuhnya ke tempat tidur begitu tiba di kamar. Jelas Kama tidak bisa diam saja, dia menegaskan dengan segera bahwa yang Ayas lakukan salah.
"Tidak, Mas, cuma rebahan doang kok."
"Sama saja, mending kita sikat gigi, cuci muka terus kaki ... setelah itu, kita nonton agar tidak mengantuk."
Ayas berdecak, dia sudah lelah luar biasa dan Kama masih santai menjabarkan peraturan ini dan itu padanya. Walau rasanya malas sekali, tapi mau tidak mau Ayas tetap menurut dan patuh begitu saja kala Kama menariknya ke kamar mandi.
Ayas benar-benar tidak protes, bahkan ketika selesai sikat gigi dan kembali ke atas tempat tidur. Dia tidak berbaring sebagaimana permintaan Kama, melainkan duduk dan menunggu perintah sang suami selanjutnya.
Kalau Ayas tak salah ingat, Kama mengajaknya menonton, tapi film apa dia juga tidak tahu. "Siap? Kita nonton beneran ya."
Sebagaimana biasanya seorang Ayas, dia iya-iya saja dan menyerahkan segalanya pada Kama. Hingga, ketika film yang dimaksud sudah dimulai, barulah Ayas gusar lantaran merasa ada yang tidak beres. "Mas, kok filmnya begini?" tanya Ayas malu sekali, jujur saja dia tidak kuasa untuk bertanya, tapi rasa penasaran membuatnya nekat bersuara.
"Ah aku belum sempat jelaskan ya? Jadi malam ini kita akan nonton sebuah film edukasi agar otakmu ini ada isinya sedikit."
"Iya tap_"
"Shut, ini penting, Yas ... sekarang lihat dan anggap saja lagi nonton sendirian kalau kamu malu," ucap Kama yang membuat Ayas semakin salah tingkah. "Aih kok dia begitu?"
"Memang begitulah, lihat pelan 'kan? Pakai perasaan, bukan asal tarik seperti tadi."
"Oh gitu ya? Coba ulang, Mas!! Belum paham akunya."
"Hah? U-ulang?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -