Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 36 - Akan Akan Menunggu


__ADS_3

"Bisa, 'kan?"


Kama tahu besar kemungkinan istrinya hanya akan mengangguk sebagai jawaban. Entah karena malu untuk bersuara atau memang begitu cara Ayas menghadapi lawan bicara, Kama tidak tahu juga.


Namun, di luar dugaan kali ini Ayas tidak mengangguk, dia bahkan berani mendongak dan membalas tatapan Kama. "Bisa," jawab Ayas kemudian, wanita itu mengulas senyum tipis hingga Kama merasa dia tengah bermimpi. "Ada lagi, Mas?" tanya Ayas kemudian usai memberanikan diri untuk menyanggupi permintaan Kama.


Kama yang ditanya tampak berpikir, ini adalah kesempatan dan jelas tidak akan dia sia-siakan. "Dicintai sepenuh dan sedalam-dalamnya juga, bisa?"


Ayas mengangguk, walau sempat tidak menduga jika permintaan yang kedua ini justru semakin dalam saja maknanya. "Hanya saja, untuk mencintai aku butuh waktu, Mas."


Untuk kali ini dia sedikit ragu, khawatir Kama akan marah, tapi yang memang begitu adanya. Ayas perlu waktu, walau tahu lambat laun memang tetap Kama yang akan menjadi pengisi hatinya, tapi untuk berada di titik mencintai sedalam-dalamnya, jelas tidak akan secepat itu.


Kama mengangguk, sedikit kecewa sebenarnya, dia berharap Ayas tidak akan menjawab sejujur itu sebenarnya. Namin, kembali lagi dia pahami memang bukan hal mudah untuk menempatkan seseorang menjadi pengganti, terlebih lagi Ayas telah menggantungkan harapan selama bertahun-tahun pada pria lain.


"Aku tahu soal itu, dan aku akan menunggu."


Kama berucap pelan seraya menghela napas panjang. Sang suami tidak lagi menggodanya, pria itu bahkan bergegas masuk ke kamar mandi. Pertama kali mereka bicara serius, dan tanggapan Kama juga serius.


Tidak ingin tenggelam dalam dugaan yang tidak-tidak, Ayas berlalu keluar usai menyiapkan pakaian untuk Kama di atas tempat tidur.


Tanpa Ayas duga, jika di kamar mandi Kama tengah merenung menatap bayangannya di cermin. Sejak tadi dia terdiam, guyuran air dari atas kepalanya seakan tidak membuat jiwanya terasa dingin.


Entah apa yang menyebabkan dia marah, tapi dada Kama tiba-tiba sesak saja. Seolah tak terima, padahal memang begitu risikonya. "Jadi dia benar-benar belum mencintaiku?" tanya Kama menoleh ke arah pintu kamar mandi yang sengaja dikunci karena niatnya memang ingin mengurung diri.


Kama berdecih, dia menganga tak percaya dan menatap wajah tampannya yang kini basah kuyup di cermin. Padahal sudah resmi menjadi istri, tapi Kama merasa seolah tengah ditolak berkali-kali. Ya, kurang lebih seperti itu rasanya, dia memang tidak pernah mengutarakan perasaan sebelumnya.


Tidak pernah pula meminta seorang wanita untuk menerimanya. Selama ini Kama yang selalu berada di posisi dikejar-kejar, bukan sebaliknya. Jelas saja ketika mendapati respon Ayas dia terkejut.


"Sedikit saja tidak? Kenapa bisa? Sial, apa pesonaku memang tidak berlaku untuknya?"

__ADS_1


Kama bermonolog, dia sudah berharap besar bahwa Ayas sudah jatuh hati padanya walau sedikit. Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian, karena pada faktanya Kama mampu membuat seorang wanita jatuh cinta hanya dalam hitungan detik.


Sejak zaman sekolah sudah terkenal dengan pesonanya, jika dia mau mungkin mantanya sudah dapat membangun satu kampung. Dimanapun Kama berada, dia begitu digilai banyak wanita bahkan sejak duduk di bangku kuliah sudah ada yang sampai rela menawarkan diri, tanpa harga diri demi bisa memiliki Kama.


Hanya saja, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membuat Kama tertarik. Setelah ada Anya yang sampai nekat bunuh diri karena tidak bisa bersamanya, sejak saat itu juga dia menutup diri dan tidak pernah menggubris siapapun tanpa peduli sekalipun wanita itu telah telan-jang demi mendapatkan cintanya.


Bukan hanya karena dia yang tidak sempurna, tapi Kama tahu dia tidak akan mampu memberikan apa yang wanita-wanita itu minta. Sialnya, setelah dia menemukan Ayas, keadaan seolah berbalik.


Seketika Kama merasa apa yang dia terima adalah karma, padahal tidak ada kalimat Ayas menolak, dia hanya perlu waktu. Tidak ada adegan dijawab ketus atau dianggap angin lalu usai mengungkapkan perasaan seperti yang kerap dia lakukan dulu, tapi tetap saja Kama merasa bak pria paling buruk sedunia.


.


.


"Butuh waktu, berapa lama dia butuh waktunya?"


"Berapa lama wanita bisa melupakan masa lalunya."


Pertanyaan pertama yang cukup membuatnya penasaran, Kama menunggu dan membaca hasil pencariannya dengan seksama. Beberapa menit mencari dia sudah mengerut seraya menghela napas panjang. "18 bulan? Lama sekali."


Dia masih lanjut membaca, senggang waktunya memang lama, tapi Kama masih bisa menerimanya. Hingga, semakin lama dia cari, amarahnya membuncah begitu membaca kutipan kalimat yang membuat hati Kama kian gelisah.


Seorang wanita hanya mencintai satu laki-laki, sisanya hanya melanjutkan hidup. Terdengar sederhana, tapi berhasil membuat Kama marah besar hingga melemparkan ponsel tersebut sembarangan, seketika Kama trauma mencari tahu hal semacam itu.


"Dasar gila, bisa-bisanya artikel semacam itu dirilis," gerutunya mengenakan pakaian asal, tanpa peduli dengan ponsel Ayas yang tergeletak di lantai usai mencari irfomasi yang ternyata lebih baik tidak dia ketahui itu.


.


.

__ADS_1


Kekesalan Kama ternyata makin menjadi, dia terlihat uring-uringan bahkan Ayas yang bertanya sempat tidak dia jawab. Wajah Kama cemberut saja sejak tadi, sudah pasti Ayas salah paham.


"Aku tadi bantuin Mbak Ida, dia alergi jadi aku harus masak buat nanti malem."


Tanpa diminta Ayas menjelaskan alasannya, memang benar Ida alergi sejak tadi bahkan malu bertemu siapapun. Mirisnya saat ini semakin parah dan mau tidak mau Ayas harus turun tangan karena memang tak tega.


Kama hanya mengangguk walau sebenarnya tidak ingin tahu juga, dia memahami Ayas hanya memberikan penjelasan agar dirinya tidak marah.


"Kamu mau kemana?"


"Apart Samuel, boleh 'kan?"


"Boleh," jawab Ayas lembut, karena memang jelas akan dia izinkan, mana mungkin tidak.


Bukan sekadar bercanda, Kama benar-benar pergi lagi. Walau hatinya tidak setenang itu, Kama tetap mengecup pipi sang istri sebelum pergi. Tanpa memperlihatkan ketidaksukaannya, dan Ayas juga merasa tidak ada masalah.


Hingga, tiba di kamar dada Ayas dibuat berdetak hebat begitu melihat handuk yang tergeletak di lantai kamar begitu juga dengan bantal dan selimutnya. Dia bingung, kemungkinan besar Kama marah sampai memperlihatkan bentuk protesnya dengan cara ini.


Perlahan, Ayas memunguti semua yang tercecer dengan hati penuh tanya. Apa mungkin dia melakukan kesalahan? Atau Kama ada masalah di luar sana hingga mengamuk persis balita begini.


"Hah? Kok?"


Belum selesai bingungnya Ayas, dia kembali dibuat terkejut kala menyadari ponselnya yang tergeletak di sudut kamar. Sama sekali Ayas tidak ingat jika Kama sempat meminta ponselnya sebelum pergi. "Apa yang membuat dia marah? Apa ada sesuatu di sini? Tapi kan ... seingatku sudah kuhapus semua."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2