Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 31 - Teman Hidup


__ADS_3

Sama seperti Ida yang terkejut bukan main dengan pernikahan Kama, Zidan juga demikian. Sewaktu di Bandara kedekatan mereka memang sudah terlihat, tapi sikap Kama saja yang manis, tidak dengan Ayas.


Saat itu, Zidan juga berpikir Kama hanya bercanda kala menyebut Ayas sebagai istri. Namun, pagi ini matanya menjadi saksi bahwa bukan hanya Kama, tapi Ayas juga bersikap layaknya seorang istri dan membantah keraguannya.


Entah bagaimana cerita lengkapnya, Kama memang sedikit tertutup terkait masalah pribadi. Hanya sedikit yang Zidan ketahui tentang Ayas, itu juga karena Kama tidak sengaja lantaran tak kuasa menahan kesalnya.


Status Ayas yang dia ketahui sebagai calon istri orang cukup membuatnya bingung kenapa bisa berganti secepat itu. Yang lebih sulit diterima akal Zidan ialah, calon suami Ayas adalah aktor baru yang Kama dukung secara besar-besaran, bahkan memilihnya sebagai pemeran utama di drama pertama.


Siapapun yang berada di posisi Zidan mungkin akan merasakan hal sama, berbagai pertanyaan seolah berperang di otaknya. Dugaan bahwa aktor dengan nama panggung Mark tersebut mempertaruhkan pasangan demi karir mendadak muncul dalam benak Zidan.


Terlalu lama dia memikirkan, Zidan ternyata tidak sekuat itu menahan rasa penasaran hingga dia melontarkan sebuah pertanyaan yang mungkin akan terkesan lancang.


"Iya, memang benar ... kenapa memangnya?"


Kama tidak marah begitu Zidan mempertanyakan kejelasan bahwa Ayas adalah calon istri Marzuki atau bukan. Secara tegas Kama mengiyakan pertanyaan Zidan dan juga balik bertanya ada gerangan apa asistennya ingin tahu masalah itu.


"Lalu kenapa bisa Anda menikahinya? Apa ini ada hubungan dengan karir Mark?"


Kama tersenyum tipis, andai saja dulu bisa begitu, mungkin sebelum ibu Ayas tutup usia mereka sudah menikah. Hanya saja, Kama tidak selicik itu, dia bahkan tidak memberikan syarat pada Ayas kala wanita itu meminta bantuannya untuk membantu Marzuki.


Untuk pertanyaan kali ini, Kama membantahnya. Tak ingin Zidan menduga yang tidak-tidak, Kama mulai menjelaskan apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu. Bagaimanapun juga, ini menyangkut harga diri Ayas sebagai wanita.


"Jadi Anda menikahinya karena terpaksa?"


Bagian ini sedikit menarik, dari apa yang Kama sampaikan, dengan cepat Zidan menyimpulkan bahwa Kama menikahinya secara terpaksa. Namun, tampang Kama tidak menunjukkan dia terpaksa sama sekali.


Bahkan, Kama tidak segera mengiyakan pertanyaan Zidan, melainkan senyum-senyum tak jelas dulu entah apa maksudnya. "Dipaksa, tapi aku tidak terpaksa ... begitulah kira-kira," jawab Kama memberikan gambaran jelas bahwa dia menerima pernikahan tersebut.


"Maaf tanya sekali lagi, apa Anda memang menginginkan pernikahan itu?" Sudah telanjur basah, Zidan semakin ingin tahu lebih dalam.

__ADS_1


"Pernikahannya?" tanya Kama diam sejenak, dia berpikir cukup lama sebelum kembali bicara. "Menikahi Laras memang kuinginkan, tapi tidak dengan caranya," lanjut Kama lagi.


Sama seperti yang dia utarakan pada Zidan, sana sekali Kama tidak bercita-cita membuat Ayas terjebak dalam posisi sulit. Segala cara memang akan dia lakukan, Kama menginginkan Laras menjadi istri sejak awal.


Hanya saja kehadiran Marzuki di sana membuat ruang gerak Kama terbatas, dia pikir pria itu sangat mencintai Laras hingga tidak sembarang untuk merampas. Nyatanya, jangankan cinta, ternyata Ayas justru dia manfaatkan untuk kepentingan pribadi.


Sungguh, mengingat hal itu rasanya Kama marah sekali. Kepolosan istrinya dimanfaatkan semacam itu dia tidak terima. Seketika, hatinya yang tadi sedikit lebih tenang mendadak panas lagi, hassrat untuk membalaskan dendam pada pria itu kian menggebu.


Terlebih lagi, begitu Kama mengingat bagaimana ibu dan para warga kampung yang menatap hina istrinya. "Oh iya, sejauh apa perkembangannya? Apa dia diterima dengan baik?"


"Lumayan, karena tampangnya mungkin ... jadi walau bakat standar tetap saja ada yang suka, lagi pula kenapa Anda semangat sekali menjadikannya seorang bintang? Bukankah Laras juga sudah menjadi milik Anda."


"Menghancurkan seseorang di saat belum jadi apa-apa memang mudah, tapi pernah kau berpikir bagaimana dia jika kuhancurkan di saat sedang berada di atas? Istriku dipermalukan dan menjadi bahan gunjingan atas hal yang tidak dia lakukan, jika aku melepaskan pria itu sekarang tidak adil, Zidan."


Sudah Zidan duga ada sesuatu di balik tindakannya. Kama tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa pertimbangan, dan juga dia tidak sebaik itu andai tidak mengungtungkan. Kecuali, jika memang dinilai berharga, maka dia rela mengejar sampai ujung dunia.


.


.


Jika pada omanya saja Kama tidak mengaku, jelas pada Haidar juga tidak. Belajar dari pengalaman, Haidar tidak bisa menjaga rahasia dan dia enggan nanti justru menjadi malapetaka.


"Tidak masuk akal, liburan katamu? Liburan apa yang begitu?"


"Om, yang namanya hidup kalau terus-terusan serius pasti sakit kepala."


"Pandai sekali kau bicara, kau tahu seberapa banyak yang kau lalaikan karena kemarin? Kama tanggung jawabmu it_"


"Sebentar, Om, ada telepon."

__ADS_1


Haidar tengah serius, bahkan sangat serius dan pembicaraannya terpotong hanya karena sebuah dering telepon. Untuk pertama kali, Kama lebih memilih menerima telepon seseorang dibandingkan mendengarkan Haidar lebih dulu.


Beralih pada telepon, Kama justru terlihat lebih serius bahkan dia beranjak berdiri setelah beberapa saat terhubung. Entah apa yang dikatakan si penelpon, Haidar juga penasaran sebenarnya.


"Sakit banget katanya?" tanya Kama kemudian mengusap wajahnya kasar, dia tampak frustrasi seolah tengah mendapat kabar buruk.


Tak berselang lama, Kama mematikan telepon dan bersiap untuk pulang lagi. Benar-benar seenak jidatnya, fakta bahwa Kama mulai semaunya memang tidak dapat ditampik.


"Mau kemana lagi? Kita belum selesai bicara!" Setelah diabaikan berkali-kali, kali ini Haidar meninggikan suaranya dan dia benar-benar marah.


Zidan yang melihat interaksi keduanya hanya menghela napas pelan, sudah biasa dan pemandangan semacam ini bukan pertama kali. "Nanti saja, Laras sakit ... aku harus pulang."


"Laras?"


Sudah dua kali Haidar mendengar nama itu, tapi dia tidak tahu siapa wanita yang dimaksud. Memang Kama sempat mengatakannya sebagai jodoh, tapi ucapan pria itu terkadang bermakna ganda hingga sedikit sulit dipercaya.


"Laras siapa?"


Kama keceplosan, dia menggigit bibir dan mulai berpikir keras. "Kau benar-benar punya pacar sekarang?" tanya Om Haidar dengan tatapan penuh selidik di sana.


"Tidak, cuma teman," jawab Kama yang semakin membuat kening pria itu mengerutkan dahi.


"Teman?"


"Hm, teman hidup, Om," pungkas Kama mengedipkan mata sebelum kemudian berlalu pergi dan meninggalkan Haidar yang tampak menganga mendengar pengakuan keponakannya. "Teman hidup? Cih, anak kecil itu benar-benar tertarik dengan lawan jenis?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2