
Deg
Seakan tak habis yang membuat jantung Kama berdegub tak karu-karuan, sejak awal membuka mata mentalnya terus diuji. "Aku bakal bilang gitu sih rencananya," tambah Ayas kemudian memperbaiki posisi tidurnya.
Dia mengeratkan pelukan seraya membenamkam wajahnya di dada Kama. Sesekali Ayas menguap hingga Kama tersadar jika sang istri hanya berandai-andai, bukan bicara padanya.
"Oh ... hanya itu, Yas?"
Rasa kantuk mulai menghampiri sang istri hingga ketika Kama bertanya untuk kedua kali Ayas hanya mengganggu pelan. Tenaganya benar-benar terkuras sepanjang perjalanan, ditambah lagi ketika tiba juga tidak bisa segera beristirahat, melainkan harus menjaga Kama dulu hingga lelahnya Ayas seolah bertambah dua kali lipat.
Sadar jika sang istri juga butuh istirahat, Kama tak lagi bertanya banyak hal dan kini mengusap pelan pundaknya. Dalam keadaan sekacau itu, Kama masih berusaha memberikan perhatian karena bagaimanapun memang kewajibannya.
Tak berselang lama, dengkuran halus Ayas mulai menelisik indera pendengaran Kama. Pertanda dia terlalu lelah, padahal biasanya Ayas tidak pernah mendengkur. Kama memandangi pundak sang istri yang kini berada dalam pelukannya, sungguh pria itu dilema.
Pertama kali setelah pernikahan, Kama tidak menemukan ketenangan ketika memeluk Ayas. Bukan karena tidak betah di kamar yang terlalu kecil dan sempit seperti kata Ayas, tapi rasa bersalah Kama lah yang membuatnya gusar tanpa henti.
Semakin lama, perasaan itu semakin menjadi. Kama tak tenang, berjam-jam dia bertahan di posisinya, pria itu bahkan tidak berkeinginan untuk tidur. Rasa kantuk itu tak lagi ada, yang kini Kama pikirkan hanyalah bagaimana langkah kedepannya.
Haruskah dia mengaku? Mempertanggung jawabkan perbuatannya di masa lalu sebagaimana yang Ayas mau? Jika memang iya, hendak bagaimana dia memulai bicara? Seketika kepala Kama penuh oleh tanda tanya yang membuatnya semakin pening saja.
Hingga, di titik kegelisahan Kama, dia merasa tidak bisa jika hanya berdiam diri. Tanpa peduli saat ini adalah waktunya beristirahat, Kama nekat mengusik ketenangan sahabat karibnya, Rizal.
Ya, hanya pria itulah satu-satunya tempat pelarian Kama. Setelah berusaha meninggalkan Ayas dengan begitu perlayan, Kama memilih untuk bicara di ruang tamu bersama Rizal yang kini tengah mengumpulkan nyawa lantaran dibubungi menjelang pagi begini.
Masih dengan telapak tangan yang terasa dingin, suara Kama bahkan bergetar ketika bicara pada Rizal. Suasana remang-remang di ruang tamu seolah bukan hambatan lagi, Kama tak peduli dan kini dia hanya fokus pada Rizal semata.
"Gue nggak ngerti, di antara milyaran cewek di dunia ini ... kenapa harus dia? Zal, gue harus gimana?" tanya Kama putus asa, dia menatap lurus ke depan seraya menggigit ujung jemarinya.
Bukan hanya Kama yang terkejut, tapi fakta bahwa Ayas adalah putri dari seseorang yang dulu mereka hilangkan nyawanya juga membuat Rizal terdiam bahkan tak segera menjawab pertanyaan Kama.
__ADS_1
Jika saja mereka bertemu, mungkin keduanya akan sama-sama membeku ketika bicara empat mata. Namun, berhubung mereka bicara via telepon, maka Kama masih mampu mendesaknya untuk segera memberikan pendapat terkait apa yang harus dia lakukan nantinya.
"Zal, lo denger gue kan?"
Hanya helaan napas yang pertama kali Kama dengar, agaknya Rizal juga bingung hendak berbuat apa. Setelah bertahun-tahun mereka hidup tenang dan kasus pembunuhan tersebut berhasil tenggelam, kini kejadian itu kembali muncul ke permukaan.
"Laras sudah tahu tentang hal itu?"
"Belum, kalau dia udah tahu gue nggak akan nanya," desis Kama memejamkan mata lantaran sebal akan pernyataan Rizal yang justru terkesan tidak memahami ucapannya.
"Bagus."
"Bagus apanya yang bagus, Zal?"
"Semuanya sudah berlalu, Kam. Lo inget kan kita sepakat untuk melupakan hal itu ... selama lo tutup mulut, istri lo nggak akan tahu."
Sejak awal Kama memang ragu akan hal itu, tapi Rizal berhasil meyakinkannya. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, keraguan Kama kembali yang kini justru disertai dengan segudang penyesalan dalam dirinya.
"Nggak bisa, Zal, seumur hidup gue tersiksa ... mana bisa gue tenang untuk kedepannya?" Kama frustrasi, dia mengusap kasar wajahnya sembari mengatur napas yang kini mulai terasa sesak.
Heningnya malam seolah membawanya ke masa lalu, masa dimana dia dalam keadaan setengah sadar usai melesatkan peluru tepat di dada seseorang yang dia kira penguntitnya kala itu.
Begitu jelas Kama ingat, bagaimana paniknya Samuel yang berlari lebih dulu memastikan keadaan pria paruh baya tersebut. Sementara Kama yang masih terpengaruh alkohol hanya bisa menatap bingung pemandangan di depannya.
"Zal! Hampir mati ... gimana dong?"
"Serahin sama gue, lo pegangin Kama."
Sebuah perkataan Rizal yang awalnya mereka kira sebagai solusi dan bermaksud menyelamatkan, ternyata justru sebaliknya. Dalam hitungan detik, Rizal mengeluarkan pisau lipat dan menyayat wajah dan tangan ayah Ayas demi merekayasa apa yang terjadi dan Kama menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria paruh baya itu meregang nyawa di tangan Rizal.
__ADS_1
"Rizal!! Lo gila?"
"Persetan, buruan cabut!! Lo nggak tahu gimana orang-orang di kampung ini menyelesaikan masalah!!"
Sekelibat kejadian itu terlampau nyata, sama sekali tidak terduga jika ternyata penyesalannya akan berkepanjangan. Sejak awal Kama sudah berniat menyerahkan diri, dia juga tidak berniat menghabisi nyawa siapapun malam itu, semua terjadi begitu saja hingga akhirnya kecerobohan Kama berakibat sefatal itu.
"Kama!!"
Suara Rizal di balik telepon membuyarkan lamunan Kama. Entah sudah berapa lama dia mendiamkan Rizal hingga pria itu sampai naik darah. "Sorry, sampai mana tadi?"
"Ck, budeg lo ... gue males kalau mau ulangin, intinya jangan menggali lubang yang sudah ditutup rapat. Pengakuan lo nggak akan merubah apapun, Kam, semua sudah telanjur dan Laras belum tentu bisa maafin kesalahan kita, lo terutama."
Kama yang awalnya berniat mencari ketenangan, setelah mendengar ucapan Rizal semakin kacau dibuatnya. "Jadi untuk saat ini diam saja?"
"Bukan saat ini saja, tapi sampai kapanpun lo harus tetap diam ... nggak lucu 'kan kalau kita berdua jadi tersangka lagi seperti waktu itu?"
"Gue nggak peduli soal itu, Zal, andai memang harus jadi tersangka lagi nggak masalah, tapi yang jad_"
"Tersangka? Tersangka apa, Mas?"
.
.
- To Be Continued -
Hai, aku mau rekomendasiin karya temen aku, mampir jika berkenan ya sist💃
__ADS_1