Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura


__ADS_3

Hidup bersama Kama bukan hanya harus sabar, tapi juga siap mental. Baru juga beberapa hari, Kama mulai berani lancang dan membuat Ayas panas dingin. Walau memang hanya bercanda, tapi karena hal itu Ayas jadi was-was bila berdekatan dengannya.


Bahkan, ketika makan malam dia sengaja duduk di depan Kama dengan alasan takut sang suami jahil jika berdampingan. Ini adalah makam malam pertama yang benar-benar berdua, kemarin masih ada kakaknya jadi Ayas tidak segugup ini.


Sialnya lagi, Ida tidak berkenan diajak makan di meja yang sama karena merasa tidak pantas dan tak ingin melampaui batasnya. Terpaksa, Ayas yang harus melayani Kama sendiri dan berperang dengan ketakutan dalam dirinya.


Bahkan, untuk mengambilkan makanannya saja sampai gemetar. Ayas berdiri dan menutupi dadanya karena khawatir kembali mendapat protes perkara bellahan oleh sang suami. Tatapan Kama yang terus tertuju padanga membuat Ayas semakin gugup.


"Beneran kita duduknya hadap-hadapan begini? Kenapa tidak di sampingku saja sih, Yas?"


"Ehm, bukannya kalau pasangan itu duduknya memang begini? Kan bisa saling pandang."


Alasannya masuk akal, Kama mengangguk mengerti dan tidak protes banyak lagi. Sama seperti Ayas yang juga butuh tenaga, Kama juga demikian. Beberapa kali makan nasi di rumah Ayas, Kama tampak merindukan kentang yang berhasil menarik perhatian sang istri.


"Wajar aneh, makannya umbi-umbian."


Ayas masih dendam, mengingat aset pribadinya yang melayang ke kolam renang, dan juga tingkah tengil Kama yang membuat tangannya ternoda beberapa saat lalu masih teringat jelas.


Ayas pikir Kama berhenti di sana, nyatanya malam ini dia kembali berulah. Ayas menarik kakinya kala merasakan sentuhan-sentuhan ghaib di bawah sana yang bisa dipastikan ulah sang suami.


Memang wajahnya tetap terlihat tenang, tapi kakinya seolah tak berhenti bergerak dan kini mulai mendarat tepat di area sensitif Ayas hingga wanita itu memejamkan mata.


Bukan hanya diam, tapi sengaja bergerak pelan dan seakan tengah memancing sang istri. "Mas!! Kamu ngapain sih?"


"Aku? Kenapa memangnya aku?"


Sudah jelas sekali, Ayas bahkan memegang kakinya, tapi Kama santai saja seolah tidak merasa bersalah. "Kakinya kenapa di sini? Aku mau makan," ucapnya sedikit memohon agar Kama menyingkirkan kakinya segera.


Namun, bukannya menurut pria itu hanya tersenyum tipis dan lanjut makan seperti biasa. "Ganggu ya, Sayang?"

__ADS_1


"Pakai ditanya, iya ganggu lah."


Walau sudah semarah itu, Ayas tetap berbicara lembut. Kama menurut sebentar, tidak sampai sepuluh detik, dan kembali lagi melakukan hal sama. Memang tidak dia ulangi mendaratkan kaki di bagian inti Ayas, tapi dengan caranya menelurusi kaki Ayas tetap saja sama merindingnya.


Kata orang, ada tipe lelaki yang mengutarakan perasaan dengan sentuhan, mungkin Kama salah-satunya hingga pada akhirnya Ayas mengalah. Walau jujur saja geli, tapi Ayas memilih diam saja daripada harus kembali menggunakan urat untuk menghadapinya.


Selesai makan barulah Kama berhenti, tapi tetap saja Ayas tak bebas karena pria itu memang benar-benar mengekor kemana saja dia pergi. "Mas duluan saja, aku nanti menyusul."


"Kenapa harus? Tujuan kita sama, masuknya harus sama-sama," tolak Kama yang secara tidak langsung mengatakan jika dia terus ingin bersama istrinya.


"Tunggu ya, cuci piring dul_"


"Itu tugasnya Ida, bukan kamu."


Ayas tetap tak enak hati, oleh karena itu dia masih meminta agar Kama menunggu jika memang ingin masuk berdua. Pertama kali, Kama mengalah dan menuruti perintah sang istri.


Selama Ayas membersihkan meja makan dan menata kembali semua seperti semua, Kama tidak protes. Dia juga turut membantu walau akhirnya mendapat penolakan dari sang istri yang selalu meragukan bakatnya dalam bersih-bersih, padahal ya memang tidak berbakat.


"Masih ada lagi?"


"Ehm su-sudah."


Ruang makan sudah sebersih itu, bahkan Ida mungkin akan berterima kasih lantaran istri majikannya semandiri ini. Namun, di sisi lain Kama juga mulai memperlihatkan wajah melasnya lantaran Ayas seolah sengaja menghindarinya.


"Ayo ke kamar ... aku ngantuk, Yas."


"Sama, aku juga ngantuk." Ayas menjawab seraya menguap dipaksakan, jelas Kama dapat menangkap apa maksud sang istri. Kendati demikian, pria itu tidak marah, tapi hanya tertawa pelan dan menuntunnya untuk segera ke kamar.


.

__ADS_1


.


Begitu masuk, sesuai dengan rencana yang telah dia tata, Ayas masuk kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Cukup lama dia menghabiskan waktu di kamar mandi, bahkan Kama saja sudah selesai dan mungkin menunggunya di atas tempat tidur.


"Malam kemarin dia nggak ngapa-ngapain, tapi mungkin karena kamarku kecil ... terus malam ini gimana?"


Ayas menggigit bibir dan terus menatap pintu kamar, lama sekali dia mempertimbangkan segala sesuatu lantaran khawatir ucapan kakaknya terbukti nyata. Padahal kemarin Dania hanya bercanda, tapi Ayas benar-benar takut sampai pingsan dibuatnya.


Mata Ayas tertuju pada botol shampo yang ada di depannya. Perlahan dia hampiri sembari berpikir panjang. "Ah biasa saja sih, cuma segede ini ... kok tak_ ays, Laras!! Ngapain malah mikir kesana?" Ayas mengutuk dirinya, otaknya semakin tercemar hingga semudah terpancing dan melepaskan botol tersebut seketika.


Tak ingin gila sendirian, Ayas mengakhiri kesendiriannya dan kini berlalu keluar dengan jantung yang berdebar sebegitu hebatnya. Belum apa-apa, dia sudah disambut dengan Kama yang kini bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek motif minion itu.


Maskulin sekali, sampai Ayas tidak bisa melihat dimana wujud pria dewasanya. "Sayang sudah?"


"Eum iya sudah," jawab Ayas gelagapan, dia menghela napas pelan sebelum kemudian menghampiri Kama yang kini berada di atas tempat tidur.


Begitu naik, Ayas segera masuk ke dalam selimut dan sengaja menjaga jarak aman. Tidak lupa menguap selebar-lebarnya sebagai pertanda jika ngantuknya luar biasa.


Tanpa terduga, Kama turut masuk kedalam selimut hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja. Wajah Ayas tampak memerah, terlebih lagi kala Kama mengulas senyum usai menatapnya begitu lama. "Kamu mau ngapain?"


"Tidur, kan tadi katanya tidur," jawab Ayas bergetar, tangan Kama yang kini mendarat di perutnya berhasil membuatnya berdebar.


"Tidur? Ngantukmu pura-pura ... aku buat ngantuk beneran mau?" bisik Kama begitu pelan seraya menatapnya dalam-dalam.


"Pura-pura gimana? Ini ngantuk bener_ sssshh awwh ...."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2