Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab


__ADS_3

Menurut kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Dan manusia, tidak layaknya bersifat langit, sementara dulunya tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah. Ya, mungkin itu adalah kalimat yang seharusnya perlu Marzuki renungi.


Baru saja merasakan sejumput kesuksesan berkat bantuan Ayas, dia justru merasa sudah berada di atas segelanya. Sedikit pun tidak dia sadari jika apa yang terjadi padanya adalah senjata untuk menghancutkan dirinya sendiri.


Namun, pertemuannya dengan Ayas tak membuat mata Marzuki terbuka. Bukannya sadar diri dan meminta maaf pada Laras, dia justru membenci mantan kekasihnya lantaran diperistri pria yang seribu kali lebih baik darinya.


"Apa yang dia lakukan sampai berhasil menjadi istri pak Kama? Apa mungkin ... ya, aku yakin Laras menjebak pak Kama."


Pikiran kotor dan rasa iri Marzuki memang tidak bisa dibantah lagi. Sudah jelas bagaimana sikap Kama padanya di rumah sakit, begitu pula sikap Kama pada Ayas di lokasi syuting, tapi dia dengan pikiran piciknya justru menganggap Ayas sengaja menjebak Kama agar bersedia menikahinya.


Sejak pulang hingga menjelang larut malam, Marzuki tampak berpikir panjang dan terus memandang langit-langit kamar. Dia berpikir keras, mencari celah dan cara untuk membuat perhitungan pada mantan kekasihnya.


Jujur saja dia malu, terlebih lagi ketika tadi di lokasi Ayas terlihat begitu dihormati sementara dirinya menjadi bahan olokan dan candaan. Rasanya masih begitu nyata, Marzuki benar-benar membenci Laras hingga dia memekik kuat demi melampiaskan kekesalannya.


"Pellacur kampungan itu memang perlu diberi pelajaran ... awas saj_ aaarrgghh!! Siapa lagi?"


Sudah kesekian kali, sepuluh menit yang lalu ponselnya sudah berdering, tapi Marzuki yang sakit kepala malas bicara terhadap siapapun, terlebih lagi dengan kekasihnya. Namun, kali ini ponselnya benar-benar berdering tiada henti hingga Marzuki terpaksa menerima panggilan yang luar biasa menyebalkan tersebut.


"Ada apa?"


Pria itu memijat pangkal hidungnya, pikiran Marzuki kusut jujur saja. Sejak pulang ke apartemen, Laras terus saja memenuhi otaknya. "Katakan saja ada apa? Aku tidak punya waktu untuk melihat postingan tidak jelas semacam itu," ketus Juki menolak mentah-mentah perintah managernya.


"Lebih baik lihat sendiri ... aku tidak ikut campur kali ini." Kali pertama Alexa berani bicara lancang bahkan terkesan tak sopan padanya, padahal sebelum ini sangat begitu menghormati, jelas saja Marzuki bingung dibuatnya. "Satu lagi, angkat telepon pak Rizal, telingaku sudah sakit medengar ocehannya."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutuskan sambungan teleponnnya sepihak hingga Marzuki membeku sejenak. Apa yang terjadi? Agaknya dia memamg salah paham, pria itu memeriksa riwayat panggilan, dak benar saja mulutnya menganga begitu tahu bahwa yang menghubunginya adalah Pak Rizal, bukan kekasihnya.


Marzuki ingin kembali menghubungi, tapi sebelum itu dia ingin memastikan apa yang dimaksud Alexa. Dia sempat terkejut lantaran riwayat panggilan dipenuhi oleh nama sutradara, tapi tidak seterkejut kali ini.


Ponsel Marzuki bahkan lepas, dia gemetar dan jantungnya seolah berhenti berdetak seketika. Dunia mendadak gelap, Marzuki bingung apa yang sedang terjadi padanya.


"Bu-bukan aku ... bagaimana mungkin? Si-siapa yang melakukan ini semua?"


Beberapa saat dia terdiam, Marzuki mencoba menenangkan diri dan kembali meraih ponselnya. Memastikan kembali bahwa pria yang ada di video syur yang diposting akun anonim itu bukan dirinya.


Sialnya semua terlalu nyata untuk dianggap editan, tidak hanya satu video, tapi cukup banyak dan itu terjadi di beberapa tempat. Citra Marzuki sebagai aktor pendatang baru yang begitu polos di mata penggemarnya hancur seketika.


Foto-foto dan video yang memperlihatkan kelakuannya di club dengan wanita berbeda sukses menuai hujatan. Dia terlalu lambat menyadari, postingan tersebut ternyata juga sudah diunggah juga oleh beberapa akun gosip yang memang berpengaruh besar akan kehidupan selebiritis.


Seketika hujatan memenuhi kolom komentar, bahkan tak sedikit yang menyerang akun pribadinya secara langsung. Ribuat Direct Messages (DM) masuk secara bertubi dan isinya sama, hujatan dan hinaan semua.


Cukup lama Marzuki berkutat dan menghapus satu persatu komentar negatif tentangnya, tapi memang percuma karena terlalu banyak walau dia sudah membatasi komentar. Di tengah fokusnya Marzuki, pria itu mendapat pesan singkat dari sutradara yang seharusnya dia hubungi balik sejak tadi.


Seolah tak habis bencana yang menimpa Marzuki, dia harus kembali menelan pil pahit begitu membaca pesan singkat dari Pak Rizal. Tak ingin hanya berpangku tangan, Marzuki menghubungi pria itu berkali-kali hingga suara serak di balik telepon itu terdengar barulah dia agak sedikit lebih tenang.


.


.

__ADS_1


"Pak, apa maksudnya?"


"Apa kau buta huruf juga sampai harus bertanya? Jelas-jelas aku sudah katakan besok tidak perlu datang ... paham?"


"T-tapi kenapa, Pak? Bukankah Bapak sendiri yang mengatakannya tadi sore bahwa syutingnya ditunda besok pagi?"


"Dengan berat hati, aku tidak bisa menerima aktor dengan scandal seberat itu ... satu-satunya jalan, kau terpaksa kami keluarkan."


Sama seperti Alexa, Pak Rizal juga melakukan hal yang sama hingga Marzuki benar-benar frustrasi dibuatnya. Walau sudah terjebak keadaan semacam ini, bukannya berpikir tentang nasibnya ke depan, Marzuki justru mencari kambing hitam dari skandal yang tengah menimpanya.


"Pasti Laras pelakunya ... iya, dia sakit hati karena waktu itu aku selingkuh sama Rindy," gumam Marzuki usai menimbang kemungkinan yang ada, dugaan bahwa Laras sudah berhasil mencuci otak Kama masih melekat dalam diri Marzuki hingga apapun yang terjadi dia menjadikan Ayas sebagai pelaku utamanya.


"Iya ... dia yang harus bertanggung jawab atas semua ini."


Drrt Drrt


"Astaga apa lagi?" Dalam keadaan emosi, dia tidak lagi melihat siapa yang menghubungi hingga menerimanya tanpa pertimbangan.


"Nak Juki ... mobil yang kemarin sudah ibu DP, terus ibu juga tambah perhiasan, bagus deh!! Tetangga pada iri, biarin!! Biar mereka tahu kalau anak ibu sukses dan sama sekali tidak rugi walau ditinggal nikah sama anak harram itu!!"


"Apa? Mob-mobil?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2