Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 28 - Segitu Dulu


__ADS_3

Baru juga diraba, Ayas sudah menunjukkan reaksi yang membuat Kama semakin tertantang untuk semakin menjamahnya. Ayas berusaha menepis tangan Kama, tapi jelas pria itu takkan bersedia mengalah.


Mendengar sang istri sempat mendetsah Kama yakin Ayas pasti menginginkannya. Hanya saja, dia masih bingung dan tampak terkejut dengan tindakan yang Kama lakukan. Sedikit banyak dia pahami, gadis polos ini pasti tak pernah tersentuh, apalagi merasakannya.


Terbukti, kala Kama hendak menjamah area terlarangnya, mata Ayas membola dan bertanya Kama mau apa. "Shuut, tenang ... kamu akan menyukainya," tutur Kama lembut, selembut usapan tangan di bagian bawah perut Ayas.


Kama bukan pria nakal, dia bukan penjelajah wanita seperti kedua temannya. Hanya saja, untuk pria dewasa seperti dia, agaknya hal semacam ini sudah di luar kepala. Terlebih lagi, dia kerap menonton film semi sebagai salah-satu usaha untuk sembuh dari penyakitnya sejak lama.


Bermodalkan ilmu yang dia pelajari selama beberapa tahun ini, Kama mempraktekkannya pada Ayas untuk pertama kali. Dan, rasanya begitu berbeda ketika Kama mencobanya sendiri.


Walau tanpa melihat, dan istrinya masih tertutup selimut begitu rapat, tapi bukan berarti menjadi penghalang Kama untuk menjelajah ke bawah sana. Tak hanya tangan, tapi bibir Kama juga beraksi dan sesekali meraup bibir Ayas yang terbuka akibat terbuai dengan sentuhan Kama di bawah sana.


Ayas mulai tak terkendali, dia yang awalnya menolak lama-lama pasrah dan mempersilakan Kama melakukan apa yang sang suami mau. Tak ingin detsahannya terlalu berisik, Ayas mencoba menutup mulutnya lantaran permainan jemari Kama kian menjadi.


"Jangan ditahan, aku ingin mendengar suaramu, Yas," ucap Kama menyingkirkan tangan sang istri.


Jika Kama yang sudah terbiasa melihat saja takjub dengan hal ini, lantas bagaimana Ayas yang belum pernah? Sensasi semacam ini terlalu asing, tapi candu dan tidak bisa dia utarakan dengan kata-kata.


Tubuhnya memanas, Ayas mendongak dan meremmas selimut sebagai pelampiasan, sesekali memalingkan wajahnya karena malu pada sang suami yang sejak tadi menatapnya.


Tak butuh waktu lama bagi Kama membuat istrinya batsah. Tidak sia-sia dia menonton walau penyakitnya tidak sembuh karena itu. Suara Ayas mulai terdengar berbeda, agaknya dia akan segera sampai menuju puncak.

__ADS_1


"Masss, le_pas ... aku mau pip_"


"Mau apa, Sayang?" tanya Kama sekali lagi dan Ayas tak mampu menjawabnya kali ini.


Mau apa Ayas juga tidak mengerti, rasanya sangat malu untuk mengataka ingin buang air di saat begini. Sialnya, begitu dia meminta lepas Kama bukannya berhenti melainkan semakin mempercepat tempo permainan tangannya hingga Ayas benar-benar tak kuasa menahannya.


Tubuh Ayas bergetar hebat, dia seolah terbawa ke dimensi lain yang membuatnya sampai lupa diri. Napas Ayas terengah-engah, dia merasakan celananya sangat basah dan bisa dipastikan malunya mungkin seumur hidup.


Hendak bagaimana dia sekarang, berbohong juga percuma karena besar kemungkinan Kama juga sadar. Ayas mengalihkan pandangan kala napasnya perlahan normal, tapi detik itu juga Kama menyingkap selimut mereka sehingga semakin jelas terpampang tempat Ayas tidur persis baru saja disiram.


Bukannya marah, Kama justru tersenyum tipis menatap istrinya. Sebuah kebanggaan bagi Kama, tapi memalukan bagi Ayas. Setelah sembilan belas tahun, dia kembali seperti bayi lima bulan, ngompol di atas tempat tidur.


Ayas mungkin tidak paham jika dia baru saja mengalami orgassme hebat, yang dia tahu hal ini sangat tidak pantas untuk wanita seusianya. Tidak ingin terlalu lama malu sendiri, Ayas justru menyalahkan Kama atas apa yang terjadi.


Bukannya menjawab, Kama tertawa sejadi-jadinya. Akal Ayas belum sampai kesana, hingga ketika merasakannya justru salah prasangka. Melihat Kama yang terus terbahak, Ayas kesal juga, pria itu seolah sama sekali tidak ada empatinya. "Kamu kenapa ketawa? Lucu ya?"


"Hm, sangat lucu," jawab Kama masih tertawa kecil hingga membuat Ayas memilih beranjak dari tempat tidur.


Semua kacau, bagaimana dia membersihkannya besok pagi? Memalukan sekali, bukan hanya celana, tapi selimut dan tempat tidurnya juga basah. Terpaksa Ayas membawa semua itu ke keranjang pakaian kotor, dan Kama hanya mengekor di belakang sang istri yang kini hendak masuk ke kamar mandi.


"Mau ngapain lagi?"

__ADS_1


"Ikut, cuci tangan bentar," ucapnya seraya mengedipkan mata dan benar-benar sengaja menggoda Ayas.


Selama di kamar mandi, Ayas berusaha menghindari tatapan Kama yang terus saja tertawa entah dimana lucunya. Bahkan, hingga Ayas menyiapkan tempat tidur di lantai Kama juga tetap begitu.


"Aaaah sudah lama aku tidak tidur di lantai, agak keras ya?"


Banyak sekali protesnya, padahal yang membuat tempat tidur jadi basah kuyup juga adalah dia. Sebenarnya masih bisa tidur di atas, hanya saja Ayas merasa tempat itu kotor hingga dia memilih di bawah.


Nyatanya, Kama tetap ikut dan sudah berbaring lebih dulu. Pria itu sengaja membentangkan tangan agar Ayas tidur di lengannya. "Sini, matamu sudah merah," ajak Kama yang sedikit diragukan Ayas bahkan hendak mendekat saja dia bingung.


Lebih tepatnya takut, dia gugup dan khawatir Kama kembali melakukan hal tak terduga seperti tadi. "Tapi beneran tidur kan, Mas?"


Kentara sekali apa yang dia khawatirkan, Kama hanya mengangguk pelan dan menarik istrinya dalam pelukan. "Segitu dulu hari ini, besok lagi," ucap Kama seketika membuat Ayas mengerjap pelan, jika besok kembali seperti ini jujur saja dia mungkin bisa gila di mati lemas di tangan Kama.


"Besok?"


"Iya, atau mau kita lanjut malam ini?" tanya Kama seketika membuat Ayas menggeleng cepat dan menenggelamkam wajahnya di dada bidang sang suami, sebuah pertanyaan berkedok ancaman yang membuat Ayas takluk dalam waktu sekejab.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2