
"Pengasuh Kama? Kamu disuruh apa saja sama dia?"
"Macam-macam sih, tapi yang paling utammmpph!" Belum selesai Ayas menjawab, Kama sudah membungkam mulutnya dengan telapak tangan hingga dia tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut.
"Berani jujur awas, kukurung 14 hari nggak pakai baju mau?" bisik Kama begitu pelan tepat di telinga Ayas, sungguh ancaman yang berhasil membuat bulu kuduk Ayas meremang.
"Kama apasih, Laras belum selesai bicara juga."
"Lanjutkan, tadi ada nyamuk di bibirnya," ucap Kama melepaskan Laras usai melayangkan ancaman mautnya.
Ayas yang mendapat perlakuan semacam itu jelas saja terkejut, sikap Kama masih kerap membuatnya bingung sendiri. Seketika, pikiran Ayas buyar dan dia lupa sebelumnya membahas apa, tepatnya pembicaraan mereka sampai dimana.
"Lanjutin, jujur saja jangan takut, Kama minta kamu lakukan yang aneh-aneh? Iya?"
Awalnya Kalila tidak menaruh curiga, tapi melihat reaksi berlebihan Kama mendadak dia berubah pikiran dan yakin jika barusan pria itu tengah mengintimidasi istrinya.
"Nggak aneh-aneh kok ... cuma temenin kerja."
"Kerja?"
Ayas mengangguk, tangan Kama yang mengusap pahanya adalah alasan kenapa memilih berbohong pagi ini. Walau tahu memang Kama hanya mengancamnya, tapi tetap saja Ayas setakut itu. Bayangan dirinya dikurung selama dua minggu tanpa mengenakan baju terlalu mengerikan bagi Ayas, sungguh.
"Bohong dosa loh," celetuk Kalila yang merasa situasi saat ini sudah berbeda.
Sudah pasti Kama yang tak terima, pria itu mendelik tajam seraya berdecak kesal setelahnya. "Istriku sudah jawab, kenapa kurang puas? Tidak semua orang di dunia ini pembohong sepertimu, Kalila."
"Excuse me? Pembohong? Hello ... kalau aku pembohong situ apa kabar?"
Semakin lama di sini, Kama semakin terancam. Bisa-bisa jika mereka tidak segera berlalu, Kalila akan membuat citranya lebih buruk lagi di hadapan Ayas.
__ADS_1
Terlebih lagi, saat ini sama sekali tidak ada yang mendukungnya. Baik papa maupun mamanya tampak lebih membela Kalila, kemungkinan besar mereka masih marah lantaran Kama lancang mengajak sang istri ke club dan mabuk berat tadi malam.
Tak ingin suasana hatinya kian runyam, Kama beranjak dan mengajak istrinya untuk turut serta. Kebiasaan, Kama melakukan hal tak terduga dan sama sekali tidak Ayas kira, dia terkejut tetapi terpaksa ikut juga.
"Kama mau kemana?"
"Dokter, Ma, mau konsultasi," jawabnya asal yang terdengar masuk akal di telinga Mama Zura.
Alasan yang Kama lontarkan kali ini tidak menuai polemik dan pertanyaan. Terlebih lagi, setelah sempat sakit keras lima tahun lalu, Kama memang rutin memeriksakan kesehatannya walau memang terlihat baik-baik saja.
Sama halnya dengan sang mama, Ayas juga percaya saja bahwa sang suami akan mengajaknya ke rumah sakit. Sedikit pun Ayas tidak protes, bahkan di perjalanan juga demikian.
Hingga, Kama tiba-tiba menepi hingga membuat Ayas menatap sekelilingnya penuh tanya. Tidak ada rumah sakit, yang ada hanya gerobak bubur ayam di depan sana. "Kok berhenti? Rumah sakitnya yang mana?"
"Sarapan dulu, tadi kurang kenyang," ujar Kama bergegas turun yang kemudian Ayas ikuti tentu saja.
Kurang kenyang katanya? Jelas saja iya, bagaimana bisa kenyang jika yang dimakan hanya beberapa gigitan. Kama memang tak naffsu makan, dari sini Ayas tahu bahwa sang suami kurang nyaman karena pembicaraan di meja makan.
"Mas."
"Hm, kenapa?"
Cukup sulit Ayas memulai bicara, dia sampai menunggu Kama selesai memesan lebih dulu baru berani bersuara. Pria itu bertopang dagu dan tampak menunggu istrinya hendak bicara apa. "Bilang kenapa? Apa Kalila buat kamu tidak nyaman?"
Bukan, bukan itu yang Ayas maksud. Dia menggeleng, sikap keluarga Kama sangat hangat dan dia juga nyaman. Namun, yang menjadi beban pikiran Ayas justru sebaliknya, dia khawatir sejak kedatangannya justru Kama yang tak nyaman.
"Maaf ya, harusnya aku tidak perlu jawab begitu tadi."
"Tidak masalah, jangan pikirkan ... aku yang kurang persiapan," tutur Kama mengulas senyum hangat.
__ADS_1
Semua ini bukan salah Ayas, andai Kama menyiapkan segala sesuatunya mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Pembicaraan mereka terhenti sejenak kala bubur ayam pesanan Kama tiba, anehnya jika hanya bersama Ayas, Kama seakan senang melakukan segala hal, apapun itu.
"Kamu mau?" Sebelum menyuap untuk dirinya sendiri, Kama menawarkan satu suapan untuk Ayas lebih dulu.
"Aku kenyang, Mas saja."
"Yakin kenyang? Tadi kamu makannya cuma roti, bukan nasi seperti biasa." Ucapan itu sedikit pertanda jika dia memaksa, karena Kama yakin Ayas tidak sekenyang itu.
Bak kerbau dicolok hidungnya, Ayas membuka mulut hingga Kama menarik sudut bibirnya tipis, nyaris tak terlihat dan ada hal yang tak bisa Kama utarakan kala Ayas menerima tawarannya seperti ini.
Tak hanya Kama yang merasakan hal berbeda, Ayas juga demikian. Sikap Kama terhitung dari tadi malam sedikit berbeda, walau memang tetap seenaknya, tapi pagi ini dia merasa pria yang di hadapannya seolah bukan Kama.
Cukup lama Ayas memandanginya, kemarin-kemarin memang Kama berada di depan mata, tapi baru kali ini Ayas memandang begitu lekat, bahkan tidak melepaskan sang suami sedetik saja.
"Mas Kama."
"Apa, Sayang? Kurang?"
Ayas tersenyum simpul, mungkin bukan kali pertama Kama memanggilnya seperti itu, tapi pagi ini dia berdesir entah apa alasannya. "Bukan, aku mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?" tanya Kama mengikis jarak, selalu saja hal-hal semacam ini berhasil membuat Ayas panas dingin.
"Jika wanita mampu melupakan masa lalunya selama 18 bulan, lalu bagaimana dengan laki-lakinya?" tanya Ayas tanpa terduga yang membuat Kama mengerutkan dahi seketika.
Istrinya bertanya jelas bukan tanpa alasan, besar kemungkinan ada penyebab dibaliknya. "Seberapa banyak yang dia lihat? Auuh malunya ... kentara sekali aku cinta mati, kalau bertepuk sebelah tangan gimana? Ck, apa pura-pura pingsan saja ya?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -