Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 29 - Bete Deh


__ADS_3

Cara Kama membuat istrinya tidur tadi malam benar-benar berhasil. Matahari sudah meninggi, dan Ayas masih begitu lelap berbantalkan lengan Kama yang kini terasa amat keram.


Pria itu meringis, menggigit bibirnya perlahan dan mencoba menarik lengannya. Cukup sulit ternyata, karena Kama harus berhati-hati, khawatir istrinya justru terbangun. Bukan karena ingin mencuri kesempatan di saat dia sedang tidur atau semacamnya, tapi yang Kama takutkan Ayas terbangun padahal masih mengantuk dan berakhir sakit kepala, sungguh dia tak ingin.


"Nyenyak sekali tidurnya."


Kama mengulas senyum hangat, dia membelai lembut rambut Ayas seraya menelusuri wajahnya dengan jemari. Kecantikan wanita itu memang sulit dia temui, bukan tipe cantik yang berlebihan, tapi pahatan wajah Ayas begitu sempurna di matanya.


Tidak salah Mbah Joko sampai butuh ritual beberapa malam untuk menemukan obat Kama, karena memang bukan sembarang wanita. Jika ingat tentang itu. Kama mendadak lucu sendiri. Hanya demi menyembuhkan penyakitnya, dia sampai rela ikut bertapa entah apa gunanya.


Bahkan, sang papa sampai marah besar begitu tahu Kama berobat dengan cara itu. Beruntung saja Yudha mampu menjadi juru bicara yang membuat Gian tidak lagi mempermasalahkan hal itu pada akhirnya.


Andai saja papanya sudah pulang, maka Kama bisa membuktikan secepatnya bahwa ucapan Mbah Joko memang tidak salah. Walau memang tidak patut ditiru, tapi kalau kata Yudha selagi tujuannya baik maka tidak mengapa.


Cukup lama Kama memandangi sang istri, hingga Ayas menggeliat dan membelakanginya. Padahal sudah waktunya bangun pagi, tapi begitu Ayas berubah posisi, pria justru kembali menyelimuti sang istri.


"Hm? Tunggu di-dia kenapa?"


Kama mengerjap pelan, ada yang tidak beres dan jantungnya berdegup tak karu-karuan begitu melihat noda merah di tepat di celana sang istri. Dia mulai menerka, dan dalam keadaan panik Kama menghubungi sahabatnya, Samuel.


"Ck, cepat angkat ...."


Dalam keadaan kalut, semua terasa salah bagi Kama. Pria itu mengusap kasar wajahnya seraya mengatur napas. Apa yang telah dia lakukan pada sang istri? Apa perbuatannya semalam sekasar itu sampai Ayas berdarah atau semacamnya.


Walau belum ada niat untuk mempublikasikan hubungannya pada siapapun, kali ini Kama terpaksa menghubungi Samuel yang merupakan ahli dalam urusan wanita.


Begitu Samuel menerima panggilannya, Kama berkonsultasi dan menceritakan apa yang dia lihat. Cerita sekaligus pengakuannya itu jelas saja membuat Samuel terkejut, terlebih lagi dengan jelas Kama menyebut Ayas sebagai istri.


"Istri? Kapan lo nikahnya?"

__ADS_1


Sudah tertebak, memang sangat wajar Samuel tidak akan segera menjawab, melainkan balik bertanya setelah Kama bercerita. Mau tidak mau, Kama terpaksa menjawab walau setengah tidak niat. "Panjang ceritanya, nanti saja soal itu ... sekarang jawab dulu pertanyaan gue, dia bisa berdarah karena apa?"


"Pakek nanya, lo begoo apa pura-pura begoo sih, Kam? Atau mau pamer ceritanya?" Niat hati Kama mendapat penjelasan, nyatanya justru disemprot pria bermulut pedas itu.


Kama menghela napas panjang, ingin rasanya dia segera mengakhiri panggilan ini dan bertanya pada yang lain saja, Kalila misalnya. "Banyak omong lo, jawab aja pertanyaan gue ... istri gue kenapa?"


Terdengar Samuel menghela napas panjang, agaknya yang di seberang telepon juga bingung hendak menjawab apa. "Ya semalem lo apain? Kalau abis diperawanin ya jelas ada darahnya dongok!!"


Kama memejamkan mata, dia menatap panik Ayas yang panik tertidur begitu lelapnya. Dia menggeleng pelan seraya menggigit kuku sebagai pelampiasan rasa gugupnya. "Gue belum sampai kesana, cuma pakai jari masa iya bisa berdarah?"


"Ntar dulu, jari sedalem apa? Kalau sampai pergelangan tangan lo masukin ya mati anak gadis orang, Kama!!"


"Eh, Nyet! Gue sayang sama dia ... tahu batasan, gue pelan-pelan dan masuk aja enggak."


Sama-sama bingung, keduanya terdiam beberapa saat dan Kama yang panik sengaja mendekat demi memastikan napas Ayas, normal atau tidak.


.


.


"Agak sulit mendiagnosanya kalau cuma dari telepon, kita VC aja gimana? Gue nggak bisa menyimpulkan kalau nggak lihat asl_."


"Lo mau mati, Samuel?"


Belum selesai Samuel bicara, Kama sudah tidak bersedia sama sekali menuruti keinginan Samuel yang menginginkan untuk melihat secara langsung.


"Pelit banget, kalau keberatan VC kirim aja foto bini lo."


"Wah, kebetulan papa gue udah siapin lahan buat tempat pemakaman kami sekeluarga, nah kalau lo ada niatan pulang duluan gue panggil tukang gali kubur nih sekarang."

__ADS_1


"Maksud gue darah yang di sprei, ribet banget punya temen begini."


Walau sedikit tak ikhlas, Kama mengalah kali ini. Dia mengirimkan foto bercak darah yang ada di sprei, itu juga diatur sekali lihat hanya karena takut Samuel gunakan untuk hal yang tidak-tidak.


Cukup lama Samuel menelaah, entah apa yang dia lakukan yang jelas Kama mulai mendesaknya. Hingga, perlahan pria itu cekikikan dan berganti gelak tawa yang menggema bahkan telinga Kama sampai sakit rasanya.


"Kok ketawa? Apa lucunya?"


"Lo beneran nggak tahu?"


"Tahu apa?"


"Kama-kama ... bini lu datang bulan, gitu doang pakai tanya," ucap Samuel kembali tergelak dan Kama benar-benar kesal dibuatnya.


Tanpa pamit, Kama mematikan panggilan teleponnya dan kembali mendekati Ayas. Kabar buruk pagi ini berhasil membuatnya frustrasi. "Bodohnya Kama, harusnya tadi malam kuhajar saja."


"Siapa yang mau dihajar, Mas?"


Kama terperanjat kaget kata mendengar suara sang istri, sama sekali Kama tidak sadar jika Ayas kini sudah terjaga di sampingnya. "Ah, bukan siapa-siapa, kamu kenapa bangun? Masih pagi juga."


"Mau cuci selimut."


"Kenapa harus? Mbak Ida ada," ucap Kama mengerutkan dahi, sejak dahulu apapun itu memang Ida dan Ida.


Berbeda dengan Ayas, sebagai seorang wanita jelas saja dia malu apapun alasannya. "Ya malu, Mas, masa min_ eeh aku kenapa?" Berlagak panik, Ayas terperanjat kaget begitu sadar akan darah di seprai dan juga celananya.


"Datang bulan, perawanmu masih aman, jangan panik begitu," celetuk Kama dengan entengnya yang membuat Ayas bersemu merah. "Tapi kok dia yang bete, kan aku yang mens?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2