Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 66 - Masih Cinta?


__ADS_3

Setelah mendengar pengakuan Ayas tadi malam, tidur Kama terasa begitu nikmat. Tanpa mimpi buruk, tanpa perasaan bersalah dan tanpa ketakutan akan sakitnya bertepuk sebelah tangan. Bahkan, ketika membuka mata pria itu tersenyum tipis sembari mengingat kata demi kata yang Ayas tuturkan.


Sayangnya, sang istri tak lagi berada di sana, mungkin bangun lebih dulu dan sudah berlalu keluar kamar. Ciuman selamat pagi yang biasa dia lakukan terlewat, ini akibat tidurnya terlalu nyenyak.


Tak ingin sendiri lebih lama, Kama beranjak turun dari tempat tidur dan bermaksud akan menjadi sang istri. Baru saja hendak membuka pintu, dalam waktu yang sama seseorang dari luar justru menerobos masuk hingga Kama berteriak sekeras-kerasnya lantaran merasakan sakit yang luar biasa pasca pintu itu membentur keningnya.


"Aduh, Mas!! Sakit banget ya?" tanya Ayas panik dan mengusap kening sang suami pelan-pelan, sama sekali tak dia duga jika kejadiannya akan seperti ini.


"Pakai tanya, iyalah!!" Andai saja pelakunya bukan Ayas, mungkin dia sudah murka dan menuntut balas atas sakit yang dirasakan.


"Maaf, aku nggak sengaja, kamu juga ngapain berdirinya di depan pintu segala? Kan kejedot jadinya."


Sudah dalam keadaan ternistakan begini, Kama masih disalahkan hingga dia hanya menghela napas pasrah. "Aku yang salah? Ya, Tuhan, Lar_ Sayang kenapa buru-buru? Mukanya kok panik begitu?" Hampir saja tak bisa menahan emosi, tapi Kama berhasil mengendalikan keadaan walau sebenarnya kesal sekali.


"Mas yang lakuin, 'kan?"


Kama mengerutkan dahi, dia bingung lantaran Ayas tiba-tiba melontarkan pertanyaan semacam itu padanya. "Hm? Lakuin apa?"


Mendengar Kama yang berlagak tak tahu segalanya itu, jelas membuat Ayas semakin yakin dugaannya memang benar. "Kenapa harus aibnya yang disebar? Apa tidak ada cara lain untuk menjatuhkannya?"


Dari pertanyaan sang istri, sudah jelas yang Ayas bahas adalah Marzuki. Kama tak segera menjawab, dia terdiam beberapa saat dan menatap sang istri yang justru panik, padahal seharusnya Ayas bahagia dengan kehancuran Marzuki.

__ADS_1


"Mas ... apa yang kamu pikirkan?"


"Ehm, soal itu aku tidak menyebarnya, dia sendiri yang membuat kedoknya terbongkar ... selama ini aku menutupnya rapat-rapat, tapi sikapnya membuatku berubah pikiran. Jadi tidak ada salahnya aku beri sedikit pelajaran, iya, 'kan?"


Pagi-pagi, suasana hati Kama mendadak berubah. Ayas tampak menyayangkan keputusan Kama dan hal ini sedikit membuatnya sebal seketika. Perbedaan sikap antara keduanya terlihat jelas di sini, Kama yang pendendam dipertemukan dengan Ayas yang pemaaf.


"Dia ada adik, Mas ... dua-duanya masih sekolah, coba mas bayangin gimana nasib mereka."


Kama tampak berpikir, dia menatap Ayas begitu lekat sebelum kemudian kembali menjawab. "Adikku sudah lulus beberapa tahun lalu, sudah jadi ibu-ibu malah ... jadi aku tidak membayangkannya," jawab pria itu enteng sekali.


Sadar jika bicaranya mungkin akan sia-sia, Ayas hanya menggeleng pelan. Sama sekali tidak dia duga jika Kama akan bertindak sekejam itu. Skandal Marzuki menyebar begitu cepat, bahkan beberapa waktu lalu Dania menghubunginya dan mengabarkan jika ibu Marzuki dilarikan ke rumah sakit setelah tak sadarkan diri.


Panjang lebar Ayas mengatakan apa yang terjadi, bagaimana Marzuki yang mendadak menjadi trending topik bahkan di kampung halamannya juga heboh masalah itu. Sialnya, mau seserius apapun Ayas bicara dia tampak santai saja, menguap tanpa dosa dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Mas, aku serius loh."


"Aku juga serius ... coba dengarkan aku baik-baik." Kama benar-benar serius dan menepuk pundak sang istri kali ini. "Jadi orang jangan terlalu baik, Yas. Apa yang dia rasakan saat ini tidak sebanding dengan apa yang kamu terima ... lupa bagaimana mereka menghinamu? Bukan hanya ibunya, tapi Marzuki juga, ingat itu!!"


"Tapi setidaknya aku masih baik-baik saja, jadi tidak perlu mematahkan langkahnya hanya karena dendam."


Kama tertawa hambar, jawaban istrinya benar-benar membuat Kama dongkol, sungguh. Pria itu menghela napas kasar, suasana hati yang tadinya berbunga-bunga layu seketika.

__ADS_1


"Jadi begini rasanya punya pasangan yang belum selesai dengan masa lalunya?"


"Maksud kamu apa?"


"Masih cinta? Iya?" tanya Kama penuh penekanan.


"Tidak, Mas, tidak sama se_"


"Setelah apa yang dia lakukan, ternyata kamu tetap tidak tega itu artinya masih cinta, Laras!!"


Kama salah paham, Ayas hanya menyayangkan tindakannya menyebar tuntas aib Marzuki yang membuat pria itu bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga mendekam di penjara.


Salahnya, hal itu justru membuat Kama berpikir bahwa sang istri masih mencintai mantan kekasihnya. Padahal, sama sekali tidak begitu dan Ayas hanya takut jika tindakan Kama justru berbalik pada dirinya suatu saat, itu saja.


"Bukan begitu, Mas ... aku hanya takut kamu menerima akibatnya suatu saat," jawab Ayas sedikit ragu, entah hanya dugaan atau pikirannya yang berlebihan, tapi jujur setelah mendengar isu miring tentang Marzuki firasat Ayas mendadak tak nyaman.


"Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi ... aku tidak ingin mendengarnya."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2