Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 78 - Janji Kama


__ADS_3

"Sakit?"


"Lumayan, mama memang kasar ... aku bingung papa nemunya dimana."


Begitulah kalimat pembuka yang dilontarkan Kama sebelum lanjut menggunjingkan sang mama, wanita mungil dengan gerakan secepat kilat dan menyerang tanpa bicara yang menjadi ras terkuat di muka bumi bagi Kama.


Sehebat apapun dirinya, tetap saja takut jika Zura sudah membawa gagang sapu atau lainnya. Sayang, hari ini dia justru sial dan tak sempat menghindar hingga kepalanya menjadi sasaran teflon anti lengket tepat di hadapan sang istri.


Mungkin Ayas sedikit terkejut, sama sekali dia tidak mengira pria dingin dengan mata tajam itu sama halnya seperti anak-anak yang biasa dia lihat berlarian dikejar ibunya lantaran tak mau pulang kala menjelang magrib.


Kama sudah terbiasa dengan hal itu, dan hidup dengan didikan papanya yang keras dan serius dia tidak bisa mengadu atau merengek dengan hukuman yang diberikan. Karena itulah, begitu menikah kesakitan yang dia rasakan seolah dijadikan senjata untuk diperhatikan sang istri.


Sudah lima belas menit sejak kejadian tamparan teflon oleh mamanya, Kama masih nyaman dengan posisi duduk di tepian tempat tidur sembari memeluk sang istri yang mau-mau saja mengusap pelan kepala Kama.


Begitu lembut dia lakukan, jiwa penyayang Ayas yang memang sudah terbiasa mengasuh keponakan jelas sangat berguna dia saat-saat seperti ini. Walau, sebenarnya Ayas bingung kenapa dia meringis seolah tertimpa durian, padahal sudah berkali-kali Ayas cari bengkak tidak ada tetap saja wanita itu melakukannya dengan tulus, tanpa mengomel ataupun menuduh Kama pembohong.


"Jangan dibuat marah makanya, semua ibu pasti melakukan hal yang sama."


"Ibu kamu begitu juga?"


Ayas menggeleng, dia tersenyum getir mendengar pertanyaan Kama. Agaknya, jika boleh memilih dia akan senang diperlakukan seperti itu oleh mendiang ibunya. Namun, sayangnya selama sang ibu masih hidup, Ayas tidak begitu merasakan kasih sayang sebagaimana yang dia dapatkan.

__ADS_1


"Kata kamu semua ibu, kenapa sekarang jawabannya jadi beda, Yas?" tanya Kama terus mendongak demi bisa puas menatap wajah sang istri.


"Ya, sama mbak Dania memang begitu, tapi sama aku tidak."


"Bagus dong, berarti yang paling disayang ... Mama sama Kalila gitu, dari kecil siluman itu tidak pernah mama cubit, apalagi gampar seperti tadi," timpal Kama kemudian, dia menangkap kesedihan di mata Ayas, sedikit pria itu menyesal membahas orang yang telah tiada.


"Bukan begitu juga, bukan karena sayang sepertinya."


Kama mengerutkan dahi, seketika dia tidak lagi protes kala Ayas berhenti mengusap kepalanya. "Terus kenapa? Tidak tega karena anaknya selembut ini?"


"Tidak peduli, bukan terlalu sayang atau karena tidak tega ... cuma memang berbeda saja perlakuannya."


Perlahan Kama mulai mengerti, kenapa sewaktu dia mengutus seseorang untuk meminta Ayas, ibunya tidak memberikan penolakan. Jika hanya karena uang 2M rasanya tak mungkin, karena di kesepakatan awal tidak ada perjanjian jual beli, uang itu Kama berikan sebagai hadiah dan ibu dari Ayas menyerahkan anak perempuannya tanpa syarat.


"Tidak juga, Mas. Ibu tidak sejahat itu, kami hanya tidak dekat, mungkin karena sejak kecil aku bersama ayah ... bahkan tahu kalau aku punya ibu itu kelas 3 SD."


Ayas tidak sedang mengarang cerita, tapi memang begitu fakta yang terjadi. Sejak dibawa pada ibunya, dia memang merasa seakan dianggap asing. Ibunya mungkin sayang, tapi seperti berbatas dan segan untuk marah hingga lebih memilih membebaskan Ayas untuk melakukan apa saja karena tak begitu dekat.


Mendengar jawaban Ayas, pria itu sejenak menghela napas lega. Dugaannya salah, dia pikir Ayas memang diperlakukan buruk sejak lama. Namun, di balik ketenangannya ada satu hal yang justru menarik perhatian Kama, yakni tentang ayahnya.


Sejak lama Kama penasaran lebih jelasnya tentang keluarga sang istri, hanya saja mengingat apa yang pernah Ayas katakan kemarin, mendadak dia ragu dan khawatir Ayas justru tidak nyaman.

__ADS_1


Ingin sekali dia urungkan, tapi kapan lagi karena jika di lain waktu maka akan semakin sulit untuk memulainya, begitu pikir Kama. "Ehm, boleh tanya sesuatu?"


"Boleh, tanya apa, Mas?"


"Tadi kamu bilang tinggalnya sama ayah, apa orang tuamu bercerai?"


Ayas mengangguk, dia tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan Kama karena memang bukan lagi rahasia baginya. Dia berasal dari keluarga yang dicap tidak baik di kampung. Ayah dan ibunya bercerai sejak Ayas masih bayi, selama beberapa tahun hidup bersama sang ayah barulah Ayas tahu jika dia punya ibu.


Sejak saat itu pula, Ayas menetap di kediaman ibunya. Stelah pertemuan itu, hubungan kedua orang tuanya cukup baik, tapi bukan berarti rujuk. Mereka tinggal di desa yang berbeda, dan selama mendiang ayahnya masih ada, Ayas masih kerap mengunjungi sang ayah sewaktu libur sekolah.


Cukup lama Ayas melakukan hal itu, dan dia bahagia-bahagia saja walau keluarganya tak utuh. Sampai suatu ketika, Ayas kehilangan salah-satu rumah yang menjadi tempat pulangnya, tepat sewaktu dia duduk di kelas dua SMP sang ayah pergi meninggalkannya tanpa pamit dengan cara yang sama sekali tidak bisa Ayas terima.


Bahkan, hingga detik ini dia masih terus mengingatnya. Tangan Ayas gemetar, tubuhnya terasa dingin kala mencoba menceritakan masalah itu. Dia tak sanggup, padahal pertanyaan Kama sederhana dan Ayas justru menceritakan panjang lebar hingga berakhir lemas dibuatnya.


"Jangan diteruskan, aku tidak seharusnya menanyakan hal ini, Laras." Kama merengkuh tubuh sang istri begitu erat, penuh kasih sayang dan sesalnya luar biasa mendalam.


"Sampai mati aku tidak akan memaafkannya ... sebelum orang itu merasakan hal yang sama," lirih Ayas pelan di sela isakan tangisnya.


"It's okay, percayalah karma itu nyata ... orang itu harus menebus dosanya, akan kupercepat jika karma Tuhan terlalu lambat." Kama menatap lurus, janji itu bukan hanya untuk Ayas, tapi dirinya sendiri.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2