Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK


__ADS_3

"Bentar dulu, ini serius ... kalian bulan madu, 'kan? Kemana? Bandung ya aku dengar-dengar? Kemana memangnya?"


"Nguping?"


Sudah pasti iya, agaknya Kalila memang sengaja tak pulang segera hanya demi memastikan bagaimana Kama menjalani lembaran barunya. Karena biasanya, Yudha adalah manusia super sibuk dan mereka seolah tak punya waktu untuk berdiam diri di Jakarta lebih dulu.


Anehnya, kali ini justru keluarga kecil Kalila tampak masih santai saja di rumah utama. Bahkan, begitu jelas Kama lihat Yudha tengah bermain game sembari mengawasi kedua buah hatinya.


"Ck, kalian benar-benar tidak berniat untuk pulang?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab saja pertanyaanku," desak Kalila tak mau kalah.


Kama yang mendapat pertanyaan semacam itu hanya menghela napas panjang. Dijawab malas, tapi jika tak dijawab biasanya akan menjadi masalah. Kama berdecak kesal dan menatap datar saudara serahimnya, senyum Kalila sungguh menyebalkan.


"Apa pergi berdua selalu dianggap bulan madu?"


"Siapa tahu, makanya aku tanya."


"Agak sedikit menyedihkan, tapi aku belum melakukannya jadi mana kutahu legit atau tidaknya!!" Memalukan sebenarnya, tapi untuk kali ini Kama memilih mengakui saja karena berbohong dari Kalila adalah hal mustahil dan takkan pernah bisa dia lakukan.


"Sudah kuduga ... kasihan sekali."


"Apa terlalu kentara?"


"Hm, aura perjakamu masih terlihat jelas," jawab Kalila yang kemudian Kama angguki, entah memang benar atau hanya di mata Kalila, Kama tidak tahu juga.


Hanya saja, Kama akui memang firasat adiknya tidak pernah salah. Mungkin karena memang sudah bersama sejak dalam kandungan hingga ikatan batin itu teramat erat. "Boleh tahu alasannya apa? Jangan-jangan kau belum sembuh total ya?"


Sedikit banyak Kalila tahu tentang penyakit Kama, sudah tentu Yudha sumbernya. Hanya saja, dia memang tidak mengejek atau menertawakan Kama begitu tahu karena sadar penyakit semacam itu tidak perlu ditertawakan.


"Sembuh, tapi memang belum waktunya saja," balas Kama meneruskan langkah dan diikuti Kalila yang memang penasaran tentang keadaan saudaranya.


"Belum waktunya gimana? Apa karena gadis itu masih terlalu muda?"


"Istriku punya nama, Larasati ... kau bisa panggil Laras, Ayas, Ay, Yas atau kalau lidahmu kaku panggil kakak saja lebih bagus." Kama menyela, untuk hal ini dia memang agak sedikit sensitif dan merasa Kalila tidak sopan.

__ADS_1


"Iya sudah kuulang, apa karena Laras terlalu muda jadi tidak tega?"


Kama menggeleng, sebenarnya bagian ini agak rahasia, tapi untuk dia utarakan pada Kalila mungkin tidak masalah. "Dia kedatangan tamu, dan aku tidak tahu kapan selesainya ... ck, menyebalkan sekali."


"Aaah syukurlah."


"Syukurlah apanya?" Mata Kama membulat sempurna usai Kalila menghela napas lega seraya mengelus dada, padahal jelas-jelas yang Kama rasakan adalah sebuah derita.


"Syukurlah kalau alasannya cuma itu, aku pikir ada masalah antara kalian berdua."


Hampir saja Kama marah, bahkan tangannya sudah siap andai diperlukan untuk mendarat ke kepala Kalila. Kebiasaan Kama yang selalu berprasangka buruk agaknya memang sulit untuk diubah.


"Tidak, tidak ada masalah."


"Yakin?"


Hanya anggukan yang Kama berikan, Kalila memang terbiasa bertanya tak cukup satu kali, harus berkali-kali. Kama sampai lelah menjawab pertanyaan wanita itu, sungguh. "Iya yak_ ehm sepertinya ada."


"Ada? Apa masalahnya?"


Berawal dari Kalila yang memastikan hubungan mereka, berakhir jadi ajang curhat yang membuat Kama mengutarakan keresahannya. "Aku rasa kalau dia begitu karena malu, namanya belum pernah sama sekali, masa langsung punya mental penggoda?"


"Hmm aku rasa tidak," jawab Kalila yang kemudian disambut senyum penuh percaya diri oleh Kama. "Tidak salah lagi maksudku," lanjutnya kemudian.


"Ck, settan!!"


Kalila tergelak, tapi setelah itu dia memberikan solusi yang sejenak membuat Kama terdiam. Agak sedikit mengerikan, tapi Kalila mengatakan hal itu baik untuk Laras sendiri. "Sebentar, aku ambil dulu."


Kama mengangguk, dia bersedia menunggu Kalila yang kini masuk ke kamarnya. Sama sekali tidak Kama duga jika adiknya ternyata menyimpan hal semacam itu.


Tak berselang lama, Kalila kembali dengan sesuatu di tangannya. "Ini, tapi jangan sekaligus ... kasih setengah saja."


"Setengah? Apa ngaruh?"


"Ya ngaruhlah, biasanya kalau pakai ini keingininan untuk dibelai menggebu-gebu ... buktikan sendiri pokoknya."

__ADS_1


Sebagai seseorang yang tidak berpengalaman, Kama iya-iya saja dan menerima beberapa obat yang Kalila berikan. Walau dia tidak yakin akan menggunakannya atau tidak, yang jelas terima lebih dulu.


"Tapi kau yakin obat ini tidak bahaya?"


"Yakin, temanku banyak pakai obat itu karena memang agak susah, demi keharmonisan rumah tangga tidak masalah."


"Sampai istriku kenapa-kenapa awas, kupotong telinga suamimu, siap?"


"Iya!! Buktiin sendiri kalau tidak percaya."


.


.


Hingga tiba di kamar, Kama masih terus memandangi obat yang Kalila berikan. Bukan hanya sesaat, tapi lama hingga ketika mendengar pintu dibuka Kama cepat-cepat meletakkannya ke tempat penyimpanan obat biasa.


Jujur saja dia tidak berani andai Ayas tahu saat ini. Walau istrinya belum pernah marah, tapi bayangan istrinya marah karena dia melakukan hal semacam ini sudah begitu jelas.


"Mas lagi apa?"


"Tidak ada, kamu diajak mama ngapain?" Kama menghampiri sang istri yang kini baru saja masuk.


Entah apa yang mamanya bicarakan hingga sangat lama, besar kemungkinan membicarakan dirinya. "Ngobrol biasa," jawab Ayas kemudian, sedikit pun tidak akan ada yang dia sembunyikan.


"Oh iya? Apa saja? Kalian membicarakanku?"


Ayas tersenyum tipis, benar kata mertuanya jika sang suami memang sejak dulu terbiasa menduga-duga dan asal bicara. "Tidak, mama membicarakan tentang kita berdua."


"Tentang kita? Apa memangnya?"


"Ehm pernikahan ... mama bilang segera urus administrasinya karena Mas mau dikeluarkan dari KK," jawabnya kemudian yang membuat Kama mengerjap pelan.


"Dikeluarkan dari KK? Serius Mama bilang gitu?" tanya Kama yang kemudian Ayas angguki, hendak dianggap pembohong mana mungkin, tapi sungguh Kama agak sedikit terkejut dengan alasan mamanya. "Apa tidak ada bahasa lain? Dikeluarin dari KK ... kentara sekali aku dianggap bebannya."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2