
Tidak, Kama tidak bercanda dan memang benar, dia ingin berbicara empat mata bersama Marzuki. Hal itu sudah dia rencanakan sejak tadi malam, tepatnya kala Ayas telah tertidur dan terbesit keinginan untuk bertemu dengannya.
Ayas yang keras hati dan setakut itu tentangnya adalah alasan kenapa Kama justru merombak segala yang telah dia tata. Sebelumnya dia sudah mantap, bahkan dengan yakin akan membalaskan dendamnya pada Marzuki, memperlihatkan sebesar apa kuasanya dan dia akan menunjukkan diri sebagai penyebab hancurnya pria itu.
Namun, melihat Ayas yang justru lemah dan sangat takut bahkan tadi malam sampai mengingau, Kama mengurungkan niatnya. Agaknya, kali ini menunjukkan kekuasaan bukanlah hal yang tepat, hingga dia memilih untuk tidak menunjukkan kebenciannya pada Marzuki.
"Minumlah, tidak ada wartawan yang mengejarmu sampai di sini."
"Iya, Pak."
Sudah hampir lima belas menit mereka bertemu, tapi Marzuki masih diam membisu. Pria itu tampak kacau, dan Kama lihat sorot matanya begitu ketakutan. Tak heran, bahkan hingga hari ini berita terkait isu miring tersebut belum juga mereda.
Karirnya benar-benar dipastikan berakhir, terlebih lagi skill Marzuki di dunia entertainment memang tidak begitu mumpuni. Dia memang tampan, fisiknya tidak ada yang kurang, bahkan hampir sempurna, tapi memang tidak ada aura bintang seperti kata Kama.
Ketika dia terjerat skandal, siapa lagi yang mau memperkerjakan orang seperti dia? Jelas tidak ada. Bahkan, perusahaan yang dulu menjadi tempatnya bekerja juga takkan lagi menerima, dan Marzuki sempat memastikan itu pada teman dekatnya sewaktu bekerja.
Kehadiran Kama sejenak membuat Marzuki lebih tenang. Sesuai dugaan Kama, pria itu tidak memperlihatkan tanda-tanda dia curiga ataupun menyalahkan Kama, Marzuki juga mulai bersuara, dia menuturkan kecurigaanya pada mantan kekasih sebagai dalang di balik kehancurannya.
"Mantanmu?"
__ADS_1
"Benar, Pak, aku yakin dia sakit hati," jawab Marzuki yang membuat Kama mengerjap pelan, seketika pikirannya tertuju pada Ayas, sang istri tercinta.
"Ehm, mantanmu yang mana?"
Marzuki tak segera menjawab, dia menghela napas panjang seraya menggigit bibir bawahnya. "Rindy," jawabnya kemudian tertunduk dalam, jelas jawaban Marzuki membuat Kama menghela napas lega.
Sesaat Marzuki terdiam, tapi sebentar dan kini pria itu menengadah ke atas seolah telah merelakan apa yang terjadi padanya. "Kami sempat cekcok belum lama ini, tapi ya sudahlah ... mungkin bukan nasib saya di dunia entertain, Pak."
Kama ingin simpati, tapi memang ucapan Marzuki seratus persen benar. Jujur Kama akui, Marzuki tidak punya nilai jual, tampan saja tidak cukup baginya karena dia juga butuh kharisma.
Sebagai orang yang dahulu membukakan jalan Marzuki, dia mencoba untuk mengambil tindakan yang sekiranya tidak begitu membuat Marzuki tercekik keadaan. Ya, lagi dan lagi semua berkat Laras yang membuat Kama menggunakan hati nurani dalam dirinya.
Dia memang tidak bisa jika harus menerima Marzuki lagi, karena memang tidak ada rencana untuk itu. Kama menemuinya hanya demi mencuci tangan, bukan untuk kembali berbuat baik pada Marzuki.
Beruntungnya, tidak perlu Kama meminta maaf karena tak bisa berbuat banyak, Marzuki justru mengatakan jika dirinya akan mencari jalan hidup yang lain. Dia terlanjur malu, begitu juga keluarganya dan satu-satunya jalan adalah pindah ke kampung halaman sang ibu.
"Lalu rumahmu yang lama bagaimana?"
"Semalam kami sekeluarga sudah sepakat, semua aset yang kami punya akan dijual, Pak ... dalam waktu dekat kami akan memulai hidup di tempat baru."
__ADS_1
Panjang lebar Marzuki menjelaskan, dan Kama mendengarkan dengan begitu seksama. Ternyata, imbas dari tindakannya bukan hanya pada Marzuki, tapi keluarga besarnya juga.
Kendati demikian, Kama tidak menyesal. Justru dia puas karena hal itu menunjukkan jika Dewi sudah menerima balasan dari perbuatannya pada Ayas.
Cukup lama mereka bicara, hingga ketika tiba waktu dimana dia harus pamit, Kama berinisiatif memberikan sisa sejumlah uang yang telah dia siapkan sebelumnya. Tidak sedikit, sebuah amplop putih itu cukup tebal dan dia ulurkan pada Marzuki.
"Untuk apa, Pak?"
"Hadiah atas kerja kerasmu ... maaf, aku tidak bisa membantumu kali ini."
Mata Marzuki tampak mengembun, pria itu sempat menolak, tapi Kama kekeuh memberikannya hingga Marzuki tak bisa menolak juga. "Jangan ditolak, sampaikan salamku pada keluargamu."
Kama sempat menepuk pundaknya sebelum pergi, dan Marzuki masih menatap punggung Kama yang perlahan menghilang. Semakin Kama jauh, semakin kuat kepalan tangannya, bahkan amplop berisikan uang itu mulai tak rapi.
Rahangnya mengeras, menatap datar sejumlah yang sempat Kama berikan padanya. Selang beberapa lama setelah Kama pergi, barulah Marzuki turut berlalu keluar. Tepat di depan kotak sampah, dia berhenti dan menatap tempat berbau itu dengan tatapan hina.
Dia berdecih, dalam hitungan detik dia melempar apa yang Kama berikan untuknya. "Kau pikir semua selesai dengan uang, Givendra Kama Wijaya?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -