Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu


__ADS_3

Kekesalan Kama berlanjut cukup lama, cemburu atau apa namanya yang jelas hari ini dunia terasa suram baginya. Walau Ayas telah menjelaskan jika sudah tak cinta pada Marzuki, tetap saja pria itu gusar hingga Zidan mulai muak berada di ruangan bosnya.


"Apa yang Anda pikirkan sebenarnya?"


"Menurutmu, apa keputusanku berlebihan? Bukankah skandal semacam itu lumrah di dunia entertainment?"


"Iya, dan kasusnya juga mirip-mirip, lalu kenapa?" tanya Zidan memastikan, firasatnya mulai tak enak karena di balik keputusan Kama, ada dia yang berperan sebagai eksekutor dalam menghancurkan karir Marzuki.


"Aku juga berpikir begitu, tapi kau tahu? Istriku justru tak tega dan mengatakan bahwa aku tidak seharusnya menyebar aib bedebah itu." Kama memijat pangkal hidungnya, Zidan mulai mengerti sekusut apa pikiran bosnya saat ini.


"Oh I see, jadi karena hal ini kening Anda sampai merah, jangan terlalu dipikir_"


"Ini kejedot, bukan karena memikirkan laki-laki itu," jelas Kama dengan suara lesunya, sungguh terlihat jika dia kecewa lantaran tidak membuat istrinya bangga.


"Oh, saya kira karena itu."


Kama menggeleng, dia tidak marah walau pertanyaan Zidan sedikit tidak penting. Sejenak dia terdiam, perhatian Kama beralih pada paper bag yang sejak tadi ada di tangan Zidan. "Itu apa?"


"Oh ini?" Terlalu serius membahas Marzuki, pria itu sampai lupa memberikan sesuatu yang memang seharusnya dia kembalikan pada atasannya.


Seraya menyerahkan paper bag tersebut, Zidan tak lupa berterima kasih tentu saja. "Terima kasih, Pak ... kemarin begitu pulang langsung saya cuci, saya setrika juga jadi Anda bisa langsung pakai jika mau."


Penjelasan Zidan tak lagi Kama jawab, dia fokus dengan isi paper bag yang merupakan baju tidur dan pakaian dallam miliknya. Mata Kama membulat sempurna "Ke-kenapa bisa benda ini ada padamu?"


"Ah, kemarin Nyonya memberikannya pada saya, dan saya lihat di sana ada nama Anda, jadi saya kembalikan," ucap Zidan susah payah menahan tawa, sementara di sisi lain Kama susah payah menahan malu. "Memalukan, kenapa juga mama kasih pinjam."

__ADS_1


Kama membantin cukup lama, dia berusaha untuk bersikap biasa walau jujur saja harga dirinya benar-benar jatuh di hadapan Zidan. Jika di hadapan Ayas mungkin sudah biasa dia seakan tak punya harga diri, tapi di hadapan Zidan jelas saja dia gengsi.


"Ehem, kau kenapa?"


"Tidak, Pak."


"Itu sudah lama, sekarang aku tidak pernah pakai yang merk itu." Tidak ada yang bertanya, tapi dia memberikan klarifikasi lantaran tak ingin malu lebih lama.


Sialnya, penjelasan itu justru membuatnya semakin malu. Kesal lantaran tatapan Zidan begitu menyebalkan, Kama meminta asisten pribadinya untuk keluar segera.


Entah apa yang terjadi padanya hari ini, baik Ayas maupun Zidan sama iyanya. Sama-sama menyebalkan dan Kama sakit kepala dibuatnya. Ditambah lagi, dia tidak sarapan akibat kesal dengan sikap sang istri, jelas sakit kepalanya kian menjadi.


"Bisa-bisanya mereka kompak membuatku sakit kepala ...." Kama bersandar seraya memejamkan mata.


Sungguh dia tak mengerti, dimana letak keistimewaan pengecut itu hingga sang istri masih menatapnya iba. Tak heran, wajar saja sebenarnya jika Ayas bersikap begitu, karena sejak awal sudah dapat disimpulkan seberapa naif dan bodohnya Ayas memandang dunia.


Tok tok tok


"Pak, No_"


Begitu mendengar suaranya, Kama beranjak dari tempat duduk dan menghela napas kasar begitu tiba di hadapan Zidan. "Sudah kukatakan aku tidak ingin diganggu, kenapa masih saja ... keluar!!"


Sikapnya kembali, setelah beberapa waktu Kama bisa menahan emosi kini dia kembali meninggi di hadapan Zidan. Tak sampai lima detik, Zidan menghilang dari pandangan Kama dan pintu itu kembali tertutup.


"Menyebalkan sekali," gumam Kama pelan, baru saja berbalik dan hendak kembali ke kursi kekuasaannya, Kama mendengar pintu itu kembali dibuka dari luar.

__ADS_1


"Astaga, kau bodoh atau bagai_ Sa ... sayang? Kamu di sini?" Suaranya yang sempat meninggi seketika melemah begitu sadar jika yang berada di depannya bukanlah Zidan, melainkan istrinya.


"Mas beneran lagi nggak bisa diganggu ya?" Ayas tampak ciut, dia terperanjat kaget usai mendengar bentakan Kama.


Walau mungkin bukan untuknya, tapi tetap saja masih begitu nyata terasa hingga Ayas bermaksud pamit dan menyerahkan kotak bekal pada sang suami. "Aku cuma mau kasih ini, Mas tidak makan sarapannya tadi," ucapnya tanpa berani menatap mata Kama.


Sadar jika sang suami mungkin benar-benar marah, Ayas tidak berani bertingkah. Melihat pemandangan di depannya, jelas saja Kama melemah, dia tak menerima kotak bekal yang Ayas berikan, melainkan meraih pergelangan tangan sang istri hingga Ayas mendongak seketika.


"Mas, aku tidak bisa lama-lama ... Mbak Ida sama pak Ruslan nungguin dibawah."


"Suapi," ucapnya tak lupa mengunci pintu dari dalam, agaknya dia benar-benar tak ingin diganggu kali ini.


"Suap? Kan mas bisa makan sendiri."


"Jangan setengah-setengah kalau menyenangkan suami ... aku lapar sekali, sudah seperti mau mati," ucapnya mengada, padahal yang menolak sarapan pagi tadi adalah dia sendiri.


.


.


- To Be Continued -


Selamat malam, dan selamat beristirahat ... jangan lupa ritualnya, taburkan bunga cinta untuk Kamayas❣️ Saranghaeo penduduk bumi.


~ Salam hangat, Bidadari Mikhail.

__ADS_1


__ADS_2