Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan


__ADS_3

Awalnya Ayas masih berharap Kama bercanda, karena memang faktanya pria ini tidak dapat dipercaya menurut penuturan Ida dan juga Somad, security yang berjaga di gerbang utama. Namun, kali ini Ayas menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Kama benar-benar bertanya pada batu nisan bertuliskan nama Anya Rosaline yang wafat beberapa tahun silam.


Sama seperti kalimat yang dia tata sebelumnya, sedikit pun tidak berubah dan Kama benar-benar melakukan hal konyol tersebut tanpa terduga. Seketika Ayas berpikir, di antara mereka siapa yang gila sebemarnya. "Mas sudah, tidak begitu adab ziarah kubur."


Terpaksa Ayas menegurnya, bukan karena dia sok paham ilmu atau bagaimana, tapi jujur saja ayas takut melihat Kama berinteraksi seolah yang bersangkutan masih hidup. "Ah begitu ya?"


Ayas tidak lagi bersuara, dia hanya megangguk pelan kemudian beranjak berdiri sebagai kode jika memang tak lagi nyaman. Bukan tak suka, tapi agaknya dua puluh menit sudah cukup untuk sekadar meminta penjelasan dari orang yang telah tiada.


"Aku pamit, Anya ... jangan ganggu istriku, jika ada yang ingin disampaikan datangi saja aku, sampai akhir kita akan terus berteman jadi jangan sungkan."


Lagi, Ayas kembali dibuat bergidik dengan ucapannya. Tidak ingin Kama semakin gila, Ayas segera mengajak pria itu berlalu segera. Sungguh Ayas khawatir, andai tiba-tiba Kama kerasukan hendak bagaimana dirinya? Sementara tempat ini amat sepi dan jauh dari permukiman warga.


Sebelumnya Ayas tidak begitu percaya ucapan Ida yang mengatakan Kama memang agak berbeda, selain sikap juga ada hal-hal tak terduga yang tidak mampu diterima akal, termasuk ini.


Tiba di mobil, Ayas masih gemetar sementara Kama sudah terlihat biasa saja. Jika tahu bahwa akan berakhir begini, akan lebih baik dia tidak perlu membahas masalah gadis itu.


Seketika, kecemburuan dan kegelisahan itu hilang, terganti dengan ketakutan lantaran merasa ada yang tidak beres dengan suaminya. Sepanjang perjalanan Ayas berpikir keras, wanita itu menatap Kama melalui ekor matanya demi menyimpulkan seperti apa pria yang ada di hadapannya ini.


Kama sempurna, jujur saja Ayas akui ketampanannya tidak dapat dinafikan lagi. Hanya saja, semakin dia lama dia bersama Kama semakin banyak hal yang justru menjadi tanya. "Langsung tanyakan saja, kalau diam begitu kapan selesainya?"


Lihat, baru saja dipikirkan dan Kama kembali membuat Ayas terkejut. Dia mengerjap pelan seraya mengalihkan pandangan seketika, ucapan Kama barusan seolah membuatnya merasa kepergok tengah melakukan tindakan asusilla.

__ADS_1


"Ehm, mas bisa baca pikiranku ya?" Nanti dulu bertanya masalah lain, tapi kali ini Ayas mendadak pelanasaran karena ucapan Kama begitu sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


Mendengar pertanyaan Ayas, pria itu hanya menarik sudut bibirnya tipis, nyaris tak terlihat. Siapapun di posisinya jelas mampu menebak, gelagat Ayas memang terlalu kentara, sementara yang dia hadapi bukan orang biasa, jelas saja semudah itu bagi Kama menyimpulkan isi hatinya.


"Aku menunggu, tanyalah selagi kuberi kesempatan," ucap Kama serius, seserius tatapannya yang kini fokus mengemudi. "Karena setelah ini, aku tidak ingin kamu membahas hal yang sama ... terlebih lagi jadi masalah untuk hubungan kita," tambah Kama mempertegas jika dia tidak ingin Ayas berlarut-larut menjadikan Anya duri yang dia ciptakan sendiri dalam pernikahan mereka.


Setelah selama ini berusaha terbiasa dengan sikap tengilnya, Ayas kembali dibuat terkejut mendapati sikap Kama yang terasa berbeda. Dia tegas, sorot tajam dan nada bicara yang penuh penekanan seolah menjadi acuan jika dia sedang tidak bercanda.


Tanpa senyum tipis dan tatapan hangat seperti biasa, Ayas sampai menunduk dalam-dalam dan merasa jika sikapnya berlebihan. "Ehm, maaf, Mas ... aku tidak tahu kalau temennya sudah meninggal." Sebelum kembali bertanya, Ayas ingin menyampaikan permintaan maaf lebih dulu lantaran khawatir Kama bersedih karena ini.


"Tidak masalah, kamu memang berhak tahu."


Demi menghindari perasaan yang semakin tak karu-karuan, Ayas memilih untuk tidak mencari tahu lebih dalam. Biarlah berlalu, dan seperti yang Kama tegaskan dia juga tidak akan menjadikan Anya sebagai masalah dalam hubungan mereka kedepannya.


Sialnya, Ayas yang menggeleng pelan justru dianggap berbeda oleh Kama. Walau memang dia tidak begitu memahami wanita, tapi sedikit banyak dia mengerti kamus kaum hawa yang mana kata tidak dapat juga bermakna sebagai iya.


"Anya teman sekolahku ... kami berteman baik, dan memang benar seperti katamu tidak ada hubungan yang murni persahabatan antara laki-laki dan perempuan." Tanpa diminta, Kama mulai angkat bicara dan Ayas mendengarkan dengan seksama.


Tanpa ditutup-tutupi, Kama menceritakan dengan jelas bahwa Anya memang menyukainya, tapi berakhir di rel kereta pasca pengakuan cinta lantaran Anya memiliki kakak yang luar biasa posesif dan menentang hubungan mereka. Ayas yang mendengar seketika bergidik ngeri, mulutnya menganga saat membayangkan Anya yang menabrakkan diri ke kereta api tepat di depan mata Kama.


"Tragis sekali, jadi ini ceritanya cinta monyet?"

__ADS_1


"Aku tidak mengerti, entah siapa yang monyet di antara kami ... tapi aku tidak merasakan hal yang sama, berarti dia yang monyet ya?"


Entah siapa yang salah, mungkin pertanyaan Ayas terlampau ambigu hingga Kama menanggapinya begitu. Padahal, Ayas tengah serius-seriusnya mendengar cerita Kama tentang sosok Anya tersebut.


"Lupakan, terus sekarang bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana? Kamu tidak lihat kuburannya sebesar apa? Ya meninggal, Laras." Ayas bertanya baik-baik, tapi Kama tidak bisa santai hingga sang istri menyesal bertanya.


"Maksudku kakaknya, apa masih ada?"


Kama terdiam sejenak, seketika pertanyaan Ayas membuatnya mendadak kepikiran. "Di penjara, terakhir bertengkar denganku dan sikapnya tidak berubah ... Anya mengakhiri hidup, tapi aku yang disalahkan, padahal aku juga hampir mati karena berusaha menyelamatkan adiknya."


"Kenapa di penjara?"


"Sudahlah, kenapa kamu jadi penasaran tentang kakaknya? Aku hanya memintamu bertanya tentang Anya, bukan siluman labi-labi itu, Sayang, tolonglah."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2