Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 49 - Mau Yang Hangat?


__ADS_3

"What? Ap-apa kamu bilang?!!"


"Aku nanya, Mas, nanya."


"Asam urat, puas?"


Ayas tidak bermaksud menyindir, tapi ternyata dia yang tersindir. Percayalah, istrinya memang benar-benar bertanya, tapi respon Kama sedemikian rupa hingga Ayas tak kuasa menahan tawa. Bukannya takut, tapi Kama yang begitu justru terlihat lucu di mata Laras.


Sialnya, di sisi lain dia yang begitu teramat menggemaskan di mata Kama hingga naluri sebagai pria dewasa tak bisa ditahan pada akhirnya. Tanpa aba-aba, Kama merebahkan Ayas di atas rerumputan demi membuat sang istri tidak mampu menghindari kecupannya.


Sedikit pun Kama tidak sadar jika tindakannya ternyata terekam banyak mata hingga teriakan beberapa orang terdengar samar di telinga mereka. "Minimal bawa ceweknya ke hotel, Mas, masa di rerumputan?"


Ayas yang sejak tadi berusaha melindungi diri kesal tentu saja, dia mendorong tubuh Kama agar segera menjauh usai menyerangnya tanpa aba-aba. Entah apa yang dipikirkan Kama sebelumnya hingga penolakan Ayas seolah dia anggap angin lalu belaka.


"Tahu, malu sama sepatu mahalnya, Mas kalau bawa cewek ke hotel saja nggak mampu," sahut yang lain hingga Kama naik pitam, dia berdiri dan berencana akan menghampiri tiga pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Hahah imitasi kali, mana mampu beli aslinya."


"Heh, lo bertiga lebih baik diem ... mulut lo aja mampu gue beli, apalagi sepatu, tahu? Lagian suka-suka gue, mau di rumput, kolong jembatan, lapangan bola terserah gue, istri-istri gue kenapa kalian yang pusing?"


Kama tak main-main, hanya dengan ancaman semacam itu tiga pria yang tadi pergi begitu saja. Sementara Ayas sudah was-was, dia takut andai sang suami meluapkan emosi dengan kekerasan.


Seketika Ayas menyesali sempat mengejek Kama rematik lantaran faktor usia. Bagaimana tidak? Saat ini dia sama sekali tidak terlihat tua, bahkan darrahnya saja mungkin masih mendidih layaknya pemuda yang baru beranjak dewasa.


Ayas tidak terbiasa menghadapi orang-orang yang menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan. Bahkan, sejak tadi dia menggenggam ujung kemeja Kama lantaran takut sang suami bertengkar, sungguh.


"Cih, pengecut ... baru begitu saja tak_" Ucapan Kama terhenti, sejak tadi dia yang terbawa emosi hanya fokus pada ketiga pria tersebut, tidak pada sang istri.

__ADS_1


Begitu sadar Ayas terlihat pucat, jelas saja Kama bingung dibuatnya. "Kamu kenapa? Kesambet?"


Ayas menggeleng, dia mungkin hanya belum terbiasa dengan cara Kama menghadapi masalah. "Kita pulang saja, Mas, bentar lagi hujan." Khawatir suasana hati sang suami tengah panas, sebisa mungkin Ayas tidak mempermasalahkan hal itu walau kesal sebenarnya.


"Pulang? Katanya mau lama? Kok berubah pikiran?"


"Iya pulang, mendung tuh lihat."


"Cuma awan, lagi pula belum tentu hujan, tidak apa-apa kalau masih mau di sini," ucap Kama meyakinkan, dan tanggapan Ayas masih sama, dia menggeleng mantap.


"Tidak, Mas, aku mau pulang pokoknya."


Kama mungkin masih punya nyali untuk lebih lama di sini, tapi tidak dengan Ayas. Apa yang Kama lakukan padanya sudah cukup menjadi alasan untuk pulang secepatnya. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi begitu banyak mata yang melihat Kama menciumnya secara tiba-tiba.


Kebetulan, pikiran Kama memang sejak tadi tidak lagi berada di sini. Dia yang lelah dan memang malas terlalu banyak gerak telah membayangkan empuknya tempat tidur jauh sebelum ini. Tanpa banyak bicara dan jelas tanpa meminta persetujuan seperti sebelumnya, Kama membawa Ayas ke salah-satu hotel bintang lima di sana.


Beruntung saja statusnya sudah jadi suami istri, jadi Ayas tidak takut dan berusaha biasa saja karena memang sama-sama lelah. Walau sempat mengejek Kama rematik segala, pada akhirnya dia yang lebih dulu menghempaskan tubuh di atas tempat tidur begitu tiba di kamarnya.


.


.


"Capek?"


Tanpa menjawab, Ayas hanya mengangguk dan menatap lesu Kama yang duduk di tepian tempat tidur. Tidak lupa dengan tangan yang mengusap puncak kepala Ayas beberapa kali. Sentuhan yang manis, Ayas hampir terpejam sebelum kemudian mendadak panik begitu sang suami hendak beranjak.


"Mas mau kemana?"

__ADS_1


"Keluar, ada urusan sedikit," jawabnya singkat, dan Ayas sontak terbangun seakan lupa akan rasa kantuknya.


"Lama?" tanya Ayas lesu, nalurinya spontan saja bertanya demikian seakan enggan jika harus sendirian.


"Tidak, kamu tunggu saja di sini ... paling lama lima belas menit." Kama menatap pergelangan tangan kiri seraya mempertimbangkan akan selama apa dia pergi.


Ayas yang memang ditakdirkan tidak banyak protes dan menaruh curiga, mengangguk pelan dan mempersilahkan kemana Kama pergi. Setelah prasangka buruknya salah, Ayas mencoba mempercayai Kama sebaik-baiknya.


"Mau sesuatu di luar? Nanti aku bawain kalau mau."


"Ehm aku butuh yang hangat sepertinya." Ayas tampak berpikir, dia menjawab jujur begitu Kama tanya.


"Hangat?" Kama tersenyum simpul, dengan polosnya Ayas mengangguk hingga Kama mendekap istrinya cukup lama. Bukan hanya dekapan biasa, tapi juga erat dan penuh perasaan yang disertai kecupan di pipi hingga Ayas mengerutkan dahi.


"Mas ngapain?"


"Katanya mau yang hangat, ini sudah kukasih," jawab Kama dengan santainya dan Ayas memerah seketika. "Bu-bukan begini maksudnya."


"Lalu yang gimana? Kurang hangat? Mau skin to skin kah?"


"Ih udah sana pergi, katanya mau pergi!" kesal Ayas salah tingkah hingga Kama tergelak sebelum meninggalkan sang istri segera. "Lucu sekali, beginikah rasanya punya istri?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2