Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 26 - Panas


__ADS_3

Menjadi istri Kama bukan berarti membuat Ayas besar kepala. Dia tetap sadar akan tugasnya, bahkan dapat dikatakan justru bertambah dua kali lipat. Bagaimana tidak? Selain melayaninya di kamar, saat ini tugas di dapur juga menjadi tanggung jawabnya.


Menjelang malam, Ayas kini berperang di dapur menemani Ida yang masih terus menatapnya curiga. Apa yang terjadi tadi siang masih membuat Ida penasaran, tapi sialnya Ayas juga belum memberikan klarifikasi padanya.


"Mbak Ida, aku saja yang lanjutin ... Mbak istirahat," pinta Ayas dan meminta agar diizinkan mengambil alih tugasnya, jelas saja Ida tak segera menuruti keinginan Ayas.


"Sejak kapan masak jadi tanggung jawabmu juga, Yas? Bukankah kamu cuma memenuhi kebutuan tuan saja?"


"Makan juga termasuk kebutuhannya, 'kan? Maka dari itu aku saja," ucap Ayas tetap lembut walau terkesan sedikit memaksa.


"Tuan yang minta?"


Sebenarnya bukan Kama yang meminta, dia juga melakukannya tanpa izin karena andai minta izin bisa dipastikan tidak diperbolehkan oleh sang suami. Ayas bisa turun karena pria itu tengah tidur, katanya lelah akibat masuk angin kemarin.


"Iya, mas Kama yang minta," jawab Ayas seketika membuat mata Ida membola.


Dia terkejut, bingung dan tampak tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Mas? Kamu seakrab itu sampai manggil mas?"


Sudah Ayas duga respon Ida akan seperti itu, dia tersenyum simpul dan tak berniat menjawab pertanyaan Ida. Biarlah penasaran dan terus mengorek apa yang terjadi, hingga rasa penasaran Ida seolah terjawab begitu Kama datang dan berteriak memanggil istrinya.


"Dicariin tahunya di sini, Sayang masak apa?"


Tak hanya sekadar ucapan yang lolos dari bibir Kama, tapi tindakannya juga berhasil membuat mata Ida membulat sempurna. Tanpa peduli jika kini Ayas tidak sedang sendiri, pria itu dengan santainya memeluk Ayas dari belakang.

__ADS_1


Sikap Kama yang begini mendadak membuat Ayas tak enak hati. Dia menoleh ke arah Ida yang mengerjap pelan, agaknya tengah berusaha memahami keadaan.


"Kamu lihatin ap_ eh ada Mbak Ida, dari kapan di sini, Mbak?" Seolah sengaja mempertegas keadaan bahwa Ida tidak dia anggap, Kama bertanya sesantai itu.


"Dari tadi, Tuan yang baru datang," jawab Ida usai menghela napas panjang, hendak tersinggung tapi mau bagaimana karena di sini Kama yang bekuasa.


"Ah, maaf ... mataku cuma fokus melihat istriku saja."


Sejak pertama kali datang, dua orang ini seolah tak berhenti membuat Ida bingung sendiri. Kini, dia kembali dikejutkan dengan pengakuan Kama yang menyebut istri dengan sejelas-jelasnya. "Wah, sepertinya saya mengganggu, silahkan teruskan."


Pengakuan Kama semakin membuat Ida memerah, tidak ingin pingsan di tempat Ida memilih berlalu pergi. Fakta bahwa Ayas adalah istri majikannya sangat sulit Ida percayai, demi apapun dia terkejut bahkan jantungnya mendadak tidak normal.


Walau sudah sejauh itu meninggalkan Ayas, tapi jantung Ida tetap berdegub tak karu-karuan. Kembali dia mengingat lagi, wajar saja Kama sampai marah besar ketika Ida mengajaknya ke club malam waktu itu.


Ida memejamkan mata, dia terus meratapi kesalahan bodoh yang sempat mengajak Ayas bersenang-senang dengan caranya. Hampir saja dia mencelakai calon istri majikan, sungguh Ida tak habis pikir kenapa juga Kama harus membawanya dengan cara itu ke rumah utama.


"Aduh ... gajiku dipotong tidak ya?"


Meninggalkan Ida yang saat ini bingung bagaimana nasibnya di masa depan, di sisi lain ada Ayas yang tampak bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Ida nanti. Wanita itu melepaskan pelukan Kama setelah mematikan kompor, dan tentu saja membuat Kama tidak terima.


"Kok dilepas?" Kama memperlihatkan wajah masam yang menegaskan jika dia memang tak suka.


"Kan aku harus jalan, bukan diam ditempat."

__ADS_1


Kama berdecak mengikuti kemana Ayas melangkah, benar-benar mengekor persis balita yang tengah diasuh ibunya. "Mau makan sekarang?"


"Nantilah, kamu lihat panas ... mau membunuhku atau bagaimana?"


Ayas bertanya baik-baik, tapi dia menjawab persis ngajak ribut. Hanya karena tidak terima pelukannya dilepas, Kama sampai memperlihatkan sikap kekanak-kanakan yang membuat Ida menjulukinya anak kecil walau sudah kepala tiga.


"Terus gimana? Mau mandi dulu?" tanya Ayas lagi, masih tetap baik-baik walau emosi sudah mengalir hingga ke ubun-ubun.


"Tadi siang aku sudah mandi, masa mandi lagi ... dingin." Dia beralasan seolah manusia paling menderita, padahal tidak sama sekali.


Ayas sesabar itu menghadapinya, dia berpikir mungkin Kama masih sakit kepala hingga memastikan suhu tubuh sang suami beberapa saat. "Sehat kok, tapi kenapa marah mulu ya?" sarkas Ayas tersenyum manis.


Kama yang merasa tersinggung, segera meraih tangan Ayas dan menuntunnya untuk menjamah area terlarang hingga Ayas menunduk seketika. "Kepala ini yang panas, Sayang," bisik Kama sembari menahan tangan Ayas yang berusaha dia tarik bahkan sampai terduduk lantaran lemas.


"Mas lepasin!!"


"Kenapa? Berasa kan panasnya?" tanya Kama tergelak dan terus menahan tangan Ayas untuk tetap menyentuh miliknya, walau memang tidak bersentuhan secara langsung, tapi Ayas benar-benar merinding hingga memekik agar Kama melepaskannya.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2