Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 42 - Santai Saja


__ADS_3

Ucapan bahwa penyesalan memang selalu di belakang ternyata bukan isapan jempol belaka, dan kali ini Ayas sendiri yang membuktikannya. Seolah tidak belajar dari pengalaman, dia percaya saja pada Kama tadi malam tanpa berpikir panjang.


Cukup lama Ayas menenangkan diri di kamar mandi, bukan hanya sekadar membersihkan diri, tapi mengatur strategi dan berpikir bagaimana nanti menghadapi mertuanya.


Semakin lama, Ayas semakin mengingat kegilaannya tadi malam. Sudah pasti yang paling membekas ialah dia melontarkan sebuah kalimat tak pantas seraya menunjuk sang mertua. "Mama siapa yang bawel ini?"


Demi Tuhan Ayas mendadak ingin mengubur dirinya sendiri. Beberapa kali dia membenturkan kepala ke tembok kamar mandi dengan harapan ingatan semacam itu akan pergi, nyatanya semakin betah bahkan semua yang dia lakukan semalam terkenang semua.


Sejak awal menikah sudah diwanti-wanti, Ayas berusaha sebaik mungkin dengan harapan bisa diterima sang mertua. Namun, semalam semua itu hancur, alih-alih diterima, dia justru memperlihatkan hal tak baik di pertemuan pertama.


"Yas ... kamu baik-baik saja?"


Lamunan Ayas buyar kala mendengar suara sang suami. Entah sudah berapa lama dia berdiam diri hingga Kama sampai mengetuk pintu kamar mandi. Yang jelas, rambut Ayas mulai mengering, padahal sama sekali tidak dia keringkan usai keramas.


Tidak ingin membuat Kama semakin khawatir, Ayas segera mengenakan handuk sebelum kemudian berlalu keluar kamar mandi. Bisa dipastikan, setelah dia keluar Kama akan melontarkan begitu banyak pertanyaan untuknya.


"Kenapa lama? Masih mual?"


Tanpa menjawab, Ayas menggeleng. Mual dan pusing itu tidak ada lagi, tergantikan dengan jiwa yang ketar-ketir lantaran bingung hendak menghadapi mertua dengan cara apa.


Ayas lemas, bibirnya sampai pucat dan tangannya sudah keriput lantaran terlalu lama di kamar mandi. Jelas saja hal iti tertangkap jelas di mata Kama hingga sang suami benar-benar curiga.

__ADS_1


"Terus kenapa?"


"Mas, apa aku akan berakhir pagi ini? Apa tidak sebaiknya aku mengemasi barang-barangku lebih dulu?"


Kama mengerutkan dahi, jelas saja dia bingung apa maksud sang istri. "Untuk apa?"


Pikiran Ayas sudah terlampau jauh, bayang-bayang jika dia akan diusir mertua begitu jelas sejak membuka mata. "Kalau aku diusir, nanti pinjam uang kamu dulu ya? Setidaknya buat ongkos pulang kampung."


Kama menunduk, susah payah menahan tawa bahkan bibirnya terasa sakit. Ada-ada saja, entah kenapa Ayas sampai punya pikiran sejauh itu, padahal dalam hal ini justru Kama yang dimarahi habis-habisan, bukan dirinya.


"Kejauhan mikirnya, sana pakai baju ... sisiran, abis itu kita sarapan."


"Sarapan?"


"Mama kita, bukan mamaku saja." Kama mengulas senyum seraya mengacak pelan rambut Ayas yang mulai mengering itu.


Sikap Ayas yang seolah merasa asing terlalu lucu bagi Kama. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam, sudah pasti Kama tahu harus berbuat apa. Mental Ayas masih mental anak kecil, sesuai umurnya yang pasti merasa takut menghadapi orangtua setelah melakukan kesalahan, apalagi mertua.


Sudah Kama coba tenangkan, tapi Ayas masih saja panik bahkan dan jantungnya kian berdebar tak karu-karuan. Tak bisa dibohongi, dia memang takut bahkan tangannya terasa dingin. "Mas, semalem aku keterlaluan ya?"


"Tidak perlu dipikirkan, namanya mabuk santai saja," ucap Kama enteng sekali, sungguh prinsipnya amat berbeda dengan Ayas yang merasa masalah tadi malam bahkan lebih berat dibandingkan dosa-dosanya.

__ADS_1


"Santai? Bagaimana ceritanya bisa santai, Mas? Kalau samp_"


"Tidak akan terjadi apa-apa, mama tidak mungkin marah, percayalah."


Setelah apa yang terjadi tadi malam, Ayas mengambil kesimpulan bahwa percaya pada ucapan Kama adalah hal paling bodoh yang pernah dia lakukan. kendati demikian, Ayas yang tak ingin berdebat tetap menuruti perintah Kama pada akhirnya.


Persetan dengan nasibnya setelah ini, Ayas mengekor di belakang Kama dengan perasaan resah yang tak mampu dia utarakan dengan kata-kata. Jantung Ayas semakin tak bersahabat kala ruang makan kian dekat. Dia menunduk, ketakutan itu semakin mencekam dan pagi ini adalah pagi tersuram yang pernah Ayas punya.


Sementara dari sudut pandang lain, mereka justru menyambut kedatangan Ayas dengan baik. Kalila bahkan berdiri demi bisa melihat dengan jelas wanita yang mampu membuat saudaranya takluk itu.


Sesuai dengan ciri-ciri yang Kama sebutkan semalam, Ayas cantik dan memang masih begitu muda. Bahkan, Kalila sampai menganga begitu Kama mengenalkan istrinya, semua yang ada dalam diri Ayas masih asli, bahkan kukunya saja tidak menggunakan apa-apa seperti dirinya.


"Kau yakin dia tidak dibawah umur, Kama?" tanya Kalila terang-terangan usai menjabat tangan Ayas, sungguh di mata Kalila gadis itu sangatlah muda.


"Apa itu penting?"


"Pentinglah, siapa tahu kau pedof_"


"Kau mau mati, Kalila?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2