
Ayas tersenyum kecut, dia menghela napas panjang setelahnya. Semua ucapan mantannya yang tak sengaja Ayas dengar tadi sore masih terngiang, sama sekali tidak Ayas duga bahwa pria yang begitu dia banggakan sampai hati melontarkan kata-kata yang teramat menyakitkan untuknya.
Kama sudah pasti tahu, dari ekspresinya jelas saja sudah tahu lebih dulu. Awalnya Ayas sempat menduga Kama marah karena itu, tapi dia bukan tipe wanita yang terlalu percaya diri bahwa dunia hanya terfokus padanya saja.
"Kamu dengar semuanya?"
Sesuai dugaan, Kama bisa menyimpulkan apa yang terjadi tanpa Ayas bicara. Dia yang semula hanya tersenyum kecut, kini mencebik dan mata mulai membasah. Dadanya sesak, hinaan semacam itu terlalu sakit, apalagi keluar dari mulut pria yang dahulu dia harapkan akan menjadi tempatnya pulang.
Cukup lama Kama memandanginya, seketika dia teringat akan pesan Samuel. Saat ini, dapat Kama simpulkan jika memang Ayas perlu dimanja, bukan sebaliknya. Pria itu menghela napas panjang seraya perlahan mengikis jarak.
Ayas mendongak, menatap balik mata Kama yang sejak tadi terus memandanginya. Tepukan di pundaknya seolah memberikan Ayas kekuatan, dan Kama melakukan hal tersebut dengan penuh perasaan.
"Ayas tahu tidak? Salah-satu yang tidak perlu kita pedulikan di dunia ini adalah bagaimana orang menilai kita." Kama mengulas senyum usai menuturkan hal sehalus itu pada Ayas.
"Mau dibilang kampungan atau segala macam terserah, seberapa banyak kontribusi mereka dalam hidupmu? Tidak ada, 'kan?"
Seperti biasa, Ayas tidak akan bersuara dan hanya anggukan yang dia berikan sebagai jawaban. Semua yang Kama katakan memang benar, tapi entah kenapa rasanya begitu membekas dan membuat pikiran Ayas terlampau panjang.
Bukan lagi perihal tersinggung karena dianggap kampungan, tapi dia khawatir anggapan Marzuki itu benar. Jika di mata Marzuki saja dia kampungan, lantas di mata Kama bagaimana? Jujur saja, sejak tadi sore Ayas tidak tenang dan berpikir suatu saat akan membuat Kama malu.
Anehnya, pria itu tidak bersikap demikian. Entah karena menjaga hati, atau memang di matanya Ayas sudah cukup sempurna. "Tapi menurut kamu gimana? Apa aku memang kampungan, Mas?" Ayas tetap meminta validasi dari sang suami.
Kama terdiam sesaat, dia tampak berpikir dan memilih jawaban yang tepat atas pertanyaan Ayas. Hanya sebuah pertanyaan sederhana, dan yang Ayas minta hanya jawaban iya atau tidaknya saja. Namun, Kama justru menatap Ayas dari ujung rambut hingga ujung kaki, teliti sekali.
Jelas saja Ayas gugup, walau sudah masuk dalam penilaian, dia masih menyempatkan diri untuk merapikan rambut dan memperbaiki posisi kacamatanya. Tidak lupa Ayas membusungkan dada agar postur tubuhnya terlihat lebih elegan di mata Kama.
"Heum ... gimana ya jawabnya," ucap Kama tampak sulit sekali menyampaikan isi hatinya, sementara Ayas yang sejak tadi menunggu sudah siap dengan segala keputusannya. "Bilang aja, Mas, kampungan ya?" tanya Ayas sekali lagi.
__ADS_1
"Sedikit," jawab Kama pada akhirnya, tapi disertai senyum tipis yang justru membuat kesannya berbeda.
Tidak seperti ketika mendengar dari Marzuki, kali ini Ayas merasa kejujuran Kama lebih baik dan sangat dia perlukan. Bukannya marah atau bersedih, Ayas justru gusar dan merasa perlu memperbaiki diri.
"Kalau gitu, aku mau kerja di sana ... tidak masalah jadi istri direktur yang penting jadi orang kota!!" seru Ayas menyampaikan tekadnya dan hal itu benar-benar lucu di mata Kama.
"Kok berubah pikiran? Mau jadi istri direktur sekarang?"
"Iya juga ya ... eum, tapi biasanya sudah aki-aki, 'kan, Mas? Sepertinya tidak masalah."
Ucapan Ayas seketika membuat Kama mencebik, "Siallan, aki-aki katanya," gumam Kama pelan sekali hingga Ayas penasaran apa dia bicarakan.
"Mas bilang apa barusan?"
"Tidak ada, aku tidak bilang apa-apa," jawab Kama menarik pergelangan tangan Ayas dan kembali mengajak sang istri untuk melangkah pergi.
Sayangnya, kaki Ayas saja yang melangkah pergi, sementara matanya terus tertuju pada gedung impian tersebut. "Bentar, Mas, aku belum selesai lihatnya."
Ayas yang merasa punya alasan segera membela diri, dia meminta Kama untuk berhenti sejenak demi bisa meluruskan maksudnya. "Tadi memang tidak, tapi setelah kamu bilang kampungan aku berubah pikiran," jawab Ayas tegas yang membuat Kama seketika menyesali ucapannya.
Sang istri tersentil dengan anggapan dia yang kampungan hingga sampai berani melontarkan ucapan tersebut. Namun, tak berselang lama Ayas meralat semua ucapannya. "Bercanda, Mas ... aku masih waras, tenang saja."
Setengah bercanda setengah tidak tepatnya. Ayas tidak berbohong tentang niat untuk memperbaiki diri, tapi tentu saja tidak dengan cara semacam itu. Perlahan dia mengutarakan alasannya hingga Kama sempat tertegun beberapa saat.
"Aku tidak menuntut apapun, cukup jadi dirimu sendiri, Laras." Panggilan itu hanya Kama utarakan jika dia benar-benar serius, dan ini adalah contohnya.
"Kamu mungkin memaklumi, tapi orang lain belum tentu ... aku hanya tidak ingin membuatmu malu nanti," tutur Ayas lembut, tampak jelas dia tidak sedang berbohong dan Kama dapat menangkap kejujurannya.
__ADS_1
.
.
Pengakuan Ayas seketika membuat Kama merasa begitu dihargai, istrinya setakut itu yang mana Ayas juga tidak ingin mengecewakan Kama. Cukup lama mereka terdiam, hingga Kama menawarkan sesuatu yang cukup menarik perhatian.
"Bisa diulangi, Mas?"
"Aku yang akan membimbingmu, mau?"
Seolah tidak belajar dari pengalaman, Ayas yang terlalu percaya pada siapapun iya-iya saja, begitu juga dengan tawaran Kama yang akan menuntunnya agar dapat mengimbangi pergaulan di kota metropolitan tersebut.
"Tapi bagaimana caranya? Waktumu di rumah sangat sedikit, itu juga ...." Ayas tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan keraguannya.
Bagaimana mungkin Kama punya waktu, sementara pekerjaannya seberat itu. Begitu di rumah juga yang mereka lakukan tidaklah banyak, bahkan cenderung di kamar saja.
"Gampang, malam ini kita mulai bimbingannya kalau kamu mau," tutur Kama seolah tengah menawarkan sesuatu yang begitu berguna, sudah tentu Ayas percaya begitu saja.
"Mau, Mas, aku mau." Tekad Ayas terlampau besar untuk membantah penghinaan Marzuki, karena itu dia tidak memiliki prasangka buruk pada Ayas sedikit saja.
Mendapat lampu merah dari Ayas, detik itu juga Kama mencari taksi yang akan mengantarkan mereka ke tempat dimana mata Ayas akan terbuka sebagaimana kemauannya.
"Kita mau kemana sih, Mas? Kok lama?"
"Melihat bagaimana pergaulan orang kota," jawab Kama tersenyum tipis kala Ayas mengangguk tanpa curiga sedikit pun pada sang suami. "Polos sekali, untung saja sudah kunikahi."
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -