Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 73 - Bawel


__ADS_3

Masih berlanjut tentang semalam, keesokan harinya Ayas kembali mengulangi ucapannya hingga Kama hapal kata demi kata yang sang istri lontarkan. Bukan tanpa alasan Ayas bersikap demikian, tapi ketakutan andai hal buruk terjadi pada Kama memang sebesar itu.


Terlebih lagi, baru-baru ini Kama melakukan hal yang mungkin saja berpotensi menghadirkan dendam di hati Marzuki. Ya, mungkin Ayas dianggap penakut, tapi tidak bisa dipungkiri dia yang mengenal sepak terjang keluarga Marzuki di kampung jelas saja khawatir perbuatan sang suami berbalik suatu saat nanti.


Panjang lebar Ayas mengungkapkan keresahannya, dan kali ini Kama dibuat terdiam karena Ayas sebegitu seriusnya. Tidak ingin terjadi salah paham seperti kemarin, kali ini Ayas mempertegas jika dia terus membahas Marzuki bukan karena masih cinta, tapi yang justru Ayas pikirkan adalah Kama.


"Iya, jangan khawatir ... mas mampu mengatasinya, dia tidak tahu mas pelakunya, santai saja."


Selalu begitu, Kama menganggap segalanya menjadi mudah, dan hal itu yang membuat Ayas kesal sebenarnya. Tak mampu lagi berkata banyak, Ayas hanya menghela napas panjang seraya menatap datar sang suami.


"Menurut kamu, Mas, tapi belum tentu menurutnya."


Kama terdiam sesaat, dia menatap Ayas yang sejak tadi pagi tak henti-hentinya berceloteh layaknya burung beo dengan bahasan itu-itu saja. Kama tidak bosan mendengarnya, dia justru bahagia karena merasa berharga di mata Ayas.


Hanya saja, yang dia pikirkan adalah tenggorokan sang istri, dia dengar-dengar suaranya mulai serak karena sepanjang pagi sudah banyak bicara, panjang dan melebar kemana-mana.


Agaknya citra Ayas yang pendiam dan tidak banyak bicara sewaktu bertemu pertama kali adalah topeng semata, kini perlahan topeng itu terbuka dan Kama pahami jika sang istri tak jauh berbeda seperti mamanya jika sudah marah.


Tak hanya di kamar, setelah mengantar Kama ke pintu utama dia juga tetap membahas hal itu. Jika tak salah, Ayas hanya diam ketika sarapan dan di hadapan mertuanya, setelah hanya bersama Kama dia begitu juga.


"Hati-hati ya, jangan anggap sepele siapa Marzuki, karena_"


"Kita tidak bisa menerka apa yang ada di pikirkannya, dan yang punya otak bukan cuma kita, tapi dia juga ... gitu 'kan?" tanya Kama tersenyum tipis.


Kama yang memang pengingat handal jelas bisa hapal ucapan Ayas lantaran sudah sekian kali dia utarakan. Bukannya marah, wanita itu hanya tertawa pelan begitu Kama meneruskan ucapannya. "Iya, begitu ... makanya aku bilang hati-hati, dimanapun mas berada," tutur Ayas sekali lagi.


Seolah tak jera walau Kama sudah bersikap demikian, tetap saja Ayas mengulanginya kalau perlu hingga Kama bosan. "Jawab, mas denger, 'kan?!"

__ADS_1


Jika saja bukan istrinya, mungkin Kama akan marah. "Iya bawel! Mas denger," celetuk Kama seraya mencubit pipinya lantaran gemas amat sangat banyak bicara.


"Maaf, aku begini karena sayang, bukan karena hal lain." Pengakuan tak sengaja yang terlontar dari bibirnya tanpa sadar, sontak Kama tersenyum simpul mendengarnya.


Sudah pasti hal itu akan dia jadikan kesempatan untuk membuat sang istri mengaku lebih dalam. "Kamu bilang apa tadi?"


Walau tahu suaminya pura-pura tuli, Ayas tetap menjawabnya dengan senang hati. Benar saja, begitu Ayas mengulangi ucapannya, Kama berseru yes dengan gerakan tangannya. "Serius? Sesayang apa, Yas?"


"Segini," jawab Ayas memperlihatkan ujung kuku kelilingnya, nyaris tak terlihat hingga raut wajah Kama berubah seketika.


"Masa segitu? Seujung kuku, dikit banget artinya."


Ayas tersenyum simpul, reaksi Kama yang memperjelas seberapa kesal dirinya begitu lucu bagi Ayas, sungguh. "Tapi tidak pernah habis, 'kan? Seumur hidup akan terus tumbuh, kalau nggak aku potong kukuku udah sampai di Swedia tahu," tambah Ayas hingga Kama yang tergelak.


Entah dari mana istrinya bisa berpikir sejauh itu, tiada pernah dia duga imajinasi Ayas ternyata tinggi juga. "Bercanda terus, kamu lupa semalem bilang apa?"


"Iya, Sayang, iya, sudah mas pergi ya ... lihat sudah jam segini, nanti suamimu ini dipecat." Bukan Kama tidak ingin mendengarkan sang istri, tapi kalau sudah seratus kali rasanya sudah cukup, telinganya menolak.


Karena itulah Kama merasa lebih baik dia hentikan sebelum sang istri kembali membahas hal yang sama. Tak lupa, dia kembali mengecup kening dan pipi Ayas berkali-kali, bahkan papanya yang hendak keluar terpaksa mengurungkan niat dan memilih masuk lagi.


"Jangan keluar tanpa izinku, sekalipun Ida ngajak makan ice cream ke Turki, mas minta selagi mas kerja, kamu di rumah saja, paham?"


"Iya paham, Mas."


Setelah Ayas mengiyakan permintaannya, barulah Kama melangkahkan kaki. Walau dia terkesan tidak peduli, tidak takut dan biasa saja, tapi apa yang Ayas katakan sudah begitu Kama wanti-wanti.


Itulah mengapa dia tidak mengizinkan Ayas keluar jika tanpa dirinya, seperti kemarin yang katanya diminta menemani Ida potong rambut, beruntung saja Ayas ke kantor lebih dulu hingga dia berhasil menahan kepergiannya.

__ADS_1


Hingga mobil perlahan berjalan, Kama masih menoleh dan menatap sang istri yang terus melambaikan tangannya. Baru juga beberapa meter, Kama seolah berat sekali meninggalkannya.


"Apa saya harus mundur lagi, Pak?"


"Ti-tidak, kenapa pertanyaanmu seperti itu?" tanya Kama sedikit tersinggung karena memang dari cara Zidan bicara terdengar seperti mengejek.


Padahal, Zidan sampai bertanya seperti itu lantaran Kama terus menoleh sejak awal masuk mobil. "Saya hanya khawatir leher Anda sakit."


"Kau mengejekku?"


"Tidak ... ehm, kita langsung ke kantor, Pak?" Tidak ingin berakhir dipecat atau potong gaji, Zidan mengalihkan pembicaraan.


"Hudzai's Cafe," jawab Kama yang membuat kening Zidan berkerut seketika. "Aku ingin bicara bersama laki-laki itu," lanjutnya lagi seolah mengerti kebingungan asistennya.


"Anda bercanda?"


.


.


- To Be Continued -


Hari senin, yang punya vote daripada hangus lempar Kama yuk❣️


Minggu ini tembus 500 Vote bisa?


btw aku mau bilang, kalau bisa aku mau ganti Cover Kama karena tulisannya rada kurang cerah di beranda, semoga ga kaget ntar ya.

__ADS_1



__ADS_2