Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 24 - First Kiss


__ADS_3

Sebelum naik, Ayas luar biasa ngantuknya. Matanya bahkan sudah memerah, tapi anehnya begitu tiba di kamar yang Kama bilang kamarnya juga, rasa kantuk itu tiba-tiba hilang begitu saja.


Susah payah dia berusaha mengembalikan kembali rasa kantuk tersebut. Merasa usahanya akan sia-sia, Ayas memilih untuk merapikan pakaian di koper. Agaknya, mencari kesibukan akan lebih baik dibandingkan was-was lantaran Kama pandangi sebegitu lekatnya hingga untuk memejamkan saja Ayas tidak bisa.


"Sini aku bantu."


Kama menawarkan, sengaja duduk manis dan turut menghadapi koper Ayas dengan tujuan akan membantu sang istri kali ini. Sudah tentu Ayas meragukan niatnya, terlebih lagi dari yang dia ketahui Kama adalah spesies yang terlahir acak-acakan, mana paham dia tentang rapi atau tidaknya.


"Biar aku saja, Mas," tolak Ayas baik-baik, bukan hanya karena takut tidak rapi sesuai maunya, tapi khawatir pria itu justru berulah hingga pekerjaannya semakin lama.


Sudah pasti Kama yang merasa bisa melakukan segalanya tak terima penolakan sang istri, "Kenapa memangnya? Lipat baju doang mah gam_ woah ini apa?"


"Kama!!"


Ayas memerah begitu Kama sengaja menarik bra yang Ayas letakkan paling bawah. Tidak hanya sekadar dia angkat, tapi juga Kama coba di dadanya entah untuk apa.


Baru juga setengah perjalanan, tapi Kama sudah menabuh genderang perang. Agaknya memang sengaja, bukan semata-mata berniat membantu. Terbukti dengan dia yang sengaja meninggikan benda itu begitu Ayas hendak memintanya kembali.


"Balikin, kapan selesainya kalau begini."


Melihat Ayas yang masuk dalam jebakannya, Kama semakin berambisi membuatnya lebih merengek lagi. Sengaja pria itu memancing sang istri untuk mengikutinya hingga ke balkon kamar, tempat dimana Kama sering kali mengintip Ayas.


Semudah itu membuatnya tak berdaya, tidak bisa dipungkiri Ayas memang masih sepolos itu dalam merespon apapun yang Kama lakukan. "Balikin, Mas."


Kama tersenyum simpul, saat-saat seperti ini yang dia tunggu. Saat dimana dirinya bisa memanfaatkan keadaan demi meraih keuntungan, sepihak tentu saja. "Kamu mau ini?"


"Iya."

__ADS_1


"Cium dulu." Tidak ada bedanya seperti merayu keponakannya, Kama melakukan hal sama pada Ayas.


Lama tidak merespon, Ayas tampak bingung dan menahan malu. Beberapa saat Kama tidak mendesaknya, pria itu masih diam saja hingga pada akhirnya dia mulai melayangkan ancaman yang membuat Ayas panik seketika.


Tanpa aba-aba, Kama sudah bersiap melempar aset pribadi milik Ayas ke bawah. Jelas hal itu akan membuat Ayas lebih malu lagi nantinya. "Ja-jangan dibuang."


"Bahannya bagus, elastis sekali dan bisa dibuat ketapel, tinggal tarik dan wush ... tahu-tahu di halaman tetangga," tambah Kama kembali menakut-nakuti Ayas dan mulai menarik benda elastis tersebut sebagai cara untuk membuat lawannya semakin tertekan.


Merasa tak punya pilihan, Ayas terpaksa mengikuti keinginan Kama dan mendaratkan kecupan di pipi sang suami untuk pertama kalinya. Begitu singkat, karena memang Ayas harus berjinjit demi bisa melakukannya.


.


.


"Cih? Apa itu? Bukan cium namanya ... tapi kecup."


Sama saja, Ayas tidak tahu bedanya karena memang belum pernah melakukannya. Lagi pula Kama terlalu tinggi dan sulit bagi Ayas andai harus melakukannya lebih lama.


Kama menunduk, menyesuaikan tinggi Ayas yang memang hanya sebatas dadanya itu. Wajahnya terlihat gugup, pertama kali mendapat perlakuan begini hingga bibirnya pucat pasi.


"Ya sudah aku ulang_"


Kali ini, Kama yang justru menolak kala Ayas hendak mendekatkan bibir ke pipinya. "Aku bukan bayi, masa ciumnya di pipi," protes Kama hingga kali ini Ayas benar-benar frustrasi.


"Terus maunya dimana?" Sedikit bunuh diri, tapi Ayas tetap bertanya dan Kama jelas tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.


"Di sini," ucapnya seraya menyentuh bibir hingga Ayas mengerjap beberapa kali.

__ADS_1


Cium pipi saja tidak berhasil, mendadak Kama memintanya cium bibir. Tentu hal itu membuat Ayas berpikir keras, dan Kama tampak menunggu walau tidak yakin Ayas mampu melakukannya.


"Three ... two ...." Tanpa kesepakatan, tiba-tiba Kama menghitung mundur dan bra yang tadi akan dia jadikan ketapel mulai ditarik hingga Ayas tidak lagi peduli dengan rasa malu.


Malu di hadapan Kama lebih baik dibandingkan malu dengan yang lainnya. Bermodalkan bayangan dari adegan drama yang sesekali dia tonton, Ayas menarik tengkuk leher Kama dan mengecup pelan bibirnya.


Sebuah hal tak terduga yang membuat mata Kama membulat sempurna. Dia pikir istrinya hanya akan mengecup sekilas bibirnya sebagai formalitas saja. Nyatanya, ciuman pertama yang Ayas berikan berhasil membuat Kama terlena hingga tak memberikan kesempatan untuk Ayas melepasnya.


Baru saja Ayas melepas pagutannya, kali ini justru Kama yang berbalik menarik tengkuk leher sang istri dan memperdalam ciumannya. Bukan lagi ciuman biasa, tapi sudah melibatkan naffsu bahkan napasnya mulai memburu.


Sebagaimana naluri seorang pria dewasa, tangan Kama tak mungkin diam saja. Pria itu mengeratkan pelukan dan mulai lancang menelusupkan tangannya demi menelusuri punggung halus Ayas.


Dia lupa diri, sampai-sampai tak sadar istrinya sudah sesak dan baru berpikir untuk melepaskan pagutan kala Ayas memukul dadanya berkali-kali. "Kamu gila ya?" Dada Ayas naik turun, sejak tadi dia mencoba melepaskan diri, tapi Kama seakan menutup mata tentangnya.


"Hm, gila memang," jawab Kama mengusap bibir Ayas yang kini basah akibat ulahnya.


Dan, hal itu pula yang membuat Ayas tersadar jika Kama tidak lagi memegang aset pribadinya. Sontak dia panik, matanya membola dan kini berusaha mencari dimana benda itu terjatuh, barang kali ada di dekat kakinya.


"Mas, yang tadi kamu pegang mana?"


"Hah? Di sit_" Jika tadi Ayas yang panik, kali ini Kama lantaran baru sadar jika dia melepaskan bra milik Ayas begitu saja.


Sontak pria itu menatap ke bawah dan benar saja, kacamata merah menyala milik istrinya itu sudah berenang di tengah kolam yang membuat Ayas melayangkan tatapan tajam ke arahnya. "Woah, anginnya deras sekali ... pasti terbawa angin iya, 'kan?


"Angin apanya?!!" pekik Ayas yang membuat Kama menghilang dari hadapannya dalam sekejab mata.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2