Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 50 - Cabut Ubi?


__ADS_3

"Katanya lima belas menit ... bohong banget sih." Ayas mencebik, sejak tadi dia hanya memandangi jam di layar ponsel, dan memang benar Kama telah mengingkari janjinya.


Sepuluh menit berlalu, dan Ayas mulai berpikir macam-macam. Khawatir andai ditinggal atau Kama mengalami sesuatu yang tidak-tidak adalah alasannya. Dia menunggu di depan pintu, hingga ketika Kama datang wanita itu mengekor seraya melontarkan begitu banyak pertanyaan untuk sang suami.


"Memang abis dari mana? Itu apa? Woah siapa yang kasih, Mas?"


Semudah itu suasana hatinya berubah, kekesalan akibat Kama ingkar janji usai sudah begitu melihat beberapa paper bag yang Kama bawa. Bahkan, dia juga sampai lupa tentang permintaannya ingin sesuatu yang hangat, kebetulan Kama juga lupa. Ayas terlihat senang, dari luarnya sudah tampak jelas jika yang Kama bawa adalah pakaian.


"Beli dong, Sayaaang, mana ada yang mau kasih."


Kama menggeleng pelan, sungguh pertanyaan konyol yang pernah dia dengar. Pria itu kembali duduk di tepian ranjang, memerhatikan sang istri yang terlihat semangat membuka paper bag itu satu persatu. Berbagai ekspresi Ayas perlihatkan, hingga di akhir-akhir dia melihat senyum Ayas pudar, tergantikan wajah bingung penuh tanya yang kini menatap ke arahnya.


"Ini apa?" tanya Ayas memperlihatkan lingerie tembus pandang yang membuat Kama gelagapan.


"Itu? Oh itu gratis dari storenya karena aku beli piyama lebih dari satu," elak Kama padahal sudah jelas-jelas harganya masih tertera bahkan dua kali lipat dari piyama yang dia maksud.


"Gratis?"


"Iya, gratis ... kata yang jaga itu tidak dijual, khusus untuk pengantin baru saja."


Sesaat keduanya terdiam, tidak ada pembicaraan dan hanya ada mata yang saling memandang. Agaknya baik Kama maupun Ayas sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan kemungkinan besar yang mereka pikirkan tidak jauh berbeda.


"Ehm, mas mau aku pakai ini?" tanya Ayas tiba-tiba yang membuat Kama melotot seketika. "Iya mau?" Tak mendapat jawaban dari Kama, wanita itu kembali bertanya untuk kedua kalinya.


"Bo-boleh deh, eh ... ja-jangan!!"


"Hah? Boleh apa jangan? Jawabnya konsisten biar aku tahu apa maumu," ucap Ayas yang membuat Kama berpikir panjang.


"Boleh-jangan-boleh-jangan-boleh ... jang_" Masih dalam pengawasan Ayas, mulutnya komat-kamit mempertimbangkan dua pilihan itu dengan jemarinya, Kama dilema dan mendadak gusar seketika. "Kalau dilarang aku yang rugi, tapi kalau diizinkan aku yang gila nanti ... ck, kenapa juga pakai acara datang bulan segala?"


"Boleh!!" Berdasarkan jemari, sebenarnya pilihan Kama jatuh kepada jangan. Hanya saja, pria itu memilih memutuskan berdasarkan kemauannya sendiri.


Ya, seperti biasa seorang Kama, sekalipun sudah bertanya panjang lebar dan mempertimbangkan banyak hal, tetap saja keputusan akhir terserah dia. Ayas yang mendengar jawaban Kama hanya menghela napas panjang, dia mengangguk sebagai pertanda jika memang mengiyakan.


"Eits mau kemana?"


"Mandi, Mas, badanku agak gatel soalnya." Ayas baru hendak beranjak, tapi Kama secepat mungkin menghalangi pergerakan sang istri.


"Sama, aku juga begitu ... gatalnya di punggung lagi, susah kalau mau garuk sendiri."

__ADS_1


Bahasa lainnya, dia tengah meminta Ayas untuk mandi bersama, tapi mana mau mengatakan niatnya secara terang-terangan. Lucunya, Ayas yang terlalu dini dan terkadang tidak sadar tengah diperdaya percaya begitu saja dan kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Kama memerah.


"Mau mandi sama-sama? Biar aku bantuin kalau susah."


"Bukan begitu sih maksudnya," tutur Kama seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, sejak tadi cari kesempatan, tapi begitu Ayas bicara terang-terangan dia malu sendiri.


"Loh kenapa? Kata mbak Dania disarankan mandi sama suami, Mas."


Berlagak menolak di awal, tapi percayalah dia bahagia luar biasa. Kama berseru yes bahkan jika bisa dia ingin terbang saat ini juga. Tidak perlu susah-sudah merayu, istrinya yang justru berinisiatif mengajak mandi bersama, jelas saja Kama bahagia tak terkira.


"Ehm, baiklah kalau kamu yang minta."


Ayas tidak meminta sebenarnya, hanya saja nasihat Dania yang membuat Ayas melakukan hal itu. Sebagaimana sang kakak katakan, ketika sudah menikah maka apapun yang dilakukan bersama suami dihitung sebagai pahala. "Iya, tapi bentar ... di sini tidak ada kemben atau kain gitu ya?"


"Hah? Bu-buat apa?"


"Buat mandi, masa buat piknik."


Kama baru saja senang, dan kini mendadak bergeming begitu mendengar pertanyaan Ayas. "Tidak ada, lagian kenapa harus pakai kain segala?"


"Malu, Mas, gitu aja pakai nanya," gerutu Ayas memalingkan muka, wajahnya tampak memerah hingga Kama tertawa seketika.


Sudah jelas malu, dan kini justru ditanya jelas saja Ayas semakin malu. Wanita itu menunduk dan agaknya tengah menyesali ajakannya, sungguh. "Sama suami kenapa malu? Tubuhmu milikku kalau kamu lupa," bisik Kama dari jarak yang begitu dekat hingga Ayas bergidik seketika.


.


.


Dalam hidup, penyesalan memang kerap terjadi di akhir. Dan Ayas tengah merasakan sesal mendalam pasca menawarkan kama mandi bersama. Niat awal hanya ingin membantu Kama yang katanya gatal bagian punggung, nyatanya begitu tiba di kamar mandi bukan punggungnya yang gatal.


"Mas, perjanjian kita tidak begini," tolak Ayas seraya mendorong dada Kama lantaran menghimpit tubuhnya yang membentur tembok.


"Perjanjian apa? Kita bahkan tidak berjanji apa-apa."


"Katanya minta garuk punggung, kalau begini posisinya gimana aku bisa bantuin kamu?" tanya Ayas dengan napas yang mulai tersengal lantaran keduanya memang tak lagi berjarak.


"Posisi? Kamu nyamannya gimana? Kata dokter interaksi dalam berhubungan suami istri itu penting, Yas, bilang saja maunya apa."


"Ih ngaco!! Siapa yang mikir kesana? Mas sumpah sanaan dikit, ini kamu bikin aku merinding," ucap Ayas bergidik ngeri karena merasakan benda asing yang tengah mengeras itu bersentuhan dengan miliknya secara langsung.

__ADS_1


"Ini apa?"


"Manukmu, Mas Kama!!" pekik Ayas tak kuasa menahannya lebih lama.


"Oh," jawab Kama santai, dia terbahak begitu sadar bagaimana raut wajah istrinya. "Dia bangun tanpa kuminta, bantu aku, mau, 'kan?"


"Ehm, cepetan." Seolah sudah terbiasa, begitu mendengar perintah Kama, Ayas segera mengalungkan tangan ke leher Kama tanpa menunggu perintah. "Siapa bilang bantuinnya gini doang?"


"Hah? Terus maunya gimana?"


"Sini tangannya."


"Bu-buat apa?" tanya Ayas dan firasatnya mulai tak enak.


"Sini pokoknya," ucap Kama lembut sementara wajah Ayas kini semakin takut, senyuman Kama sama sekali tidak membuat Ayas tenang kali ini. "Lakukan."


"Gimana caranya?"


"Sebisamu."


Dada Ayas bergemuruh begitu menggenggam secara langsung lonceng kematian tersebut, geli dan merinding bersatu padu dalam dirinya. Kendati demikian, dia berusaha memposisikan diri sebagai istri sebagaimana mestinya dan melakukan sebisanya saja. "Baiklah, begini ya, Ma_"


"Aaaaaaaaarrrggghh, Laras!! Bukan begitu caranya!!" pekik Kama tiba-tiba menahan tangan Ayas hingga sang istri bingung dimana letak kesalahannya.


"Kenapa? Kekecengan?"


Bibir Kama gemetar, begitu juga dengan seluruh tubuhnya. "Yash ... kamu bayangin apa? Cabut ubi apa gimana hah?"


"Ya aku kan tanya gimana? Mas bilang sebisaku ya sudah kenapa tetap salah?"


"Ya tapi tidak begitu juga, Larasati!!"


.


.


- To Be Continued -


Kama : Info tempat kursus bini😒

__ADS_1


__ADS_2