Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 82 - Malam Pertama?


__ADS_3

Setelah penantian panjang, hari yang sejak lama ditunggu tiba juga. Bukan Kama dan Ayas saja, tapi juga keluarga besar serta orang-orang yang telah menantikan Kama mengenalkan wanitanya. Ya, setelah begitu banyak keraguan terkait pria itu normal atau tidaknya, kali ini dia menunjukkan pada dunia seorang wanita yang dia sebut sebagai istri.


Walau hanya sebuah resepsi, tapi perasaan Kama justru seperti benar-benar baru menikah kala menatap pengantinnya. Bahkan, dia sempat meneteskan air mata pasca mengecup kening Ayas. Hal itu ditafsirkan berbeda-beda, siapapun bisa menerka apa sebab Kama sampai meneteskan air mata.


Ya, tidak lain dan tidak bukan Kama terharu karena hidupnya yang dulu seakan tanpa arah berhasil menemukan titik terang. Sementara di sisi lain, melihat suaminya menangis, mata Ayas juga turut membasah hingga pesta yang seharusnya hanya diisi dengan senyum bahagia itu berawal haru dan isakan tangis pasangan maupun pihak keluarga.


Ayas tak menduga dia akan menjadi seorang mempelai dengan pesta pernikahan yang bahkan dahulu tidak berani dia impikan. Walau bersatunya mereka diawali dengan cara yang tak wajar bahkan dipandang hina, hari ini Kama memperlihatkan seberapa berharga seorang Larasati baginya.


Tidak hanya pada rekan bisnis dan koleganya, tanpa sepengetahuan istrinya pria itu ternyata turut mengundang semua tetangga di kampung Ayas, sudah tentu lewat kakak iparnya yang diminta sebagai penyambung lidah.


Memang tak semuanya bisa datang, mungkin malu atau ada alasan lain, tapi yang pasti Dania berhasil membawa sebagian, terutama orang-orang penting di kampung ke pesta pernikahan adiknya.


"Mas kenapa tidak bilang kalau ngundang tetanggaku juga?"


"Kamu bilang terserah, mas tidak tahu siapa yang dekat denganmu jadi undang saja semuanya."


Mata Ayas masih membasah pasca tangisan sebelumnya, tapi begitu mendengar penjelasan Kama dia tertawa kecil. Sungguh kejutan yang tak pernah Ayas pikirkan, dia pikir Kama tidak akan sudi melihat tetangganya pasca kejadian itu.


Namun, nyatanya sang suami juga memfasilitasi kendaraan dan juga konsumsi para tamu dari kampung halamannya selama di perjalanan. Mungkin sebenarnya tujuan Kama bukan hanya mengundang biasa, tapi ada makna tersirat di sana. Jelas Ayas menangkap hal itu, hanya saja dia berharap sang suami tidak merencanakan hal buruk pada mereka.


"Terima kasih, Mas, tapi aku mau tanya sesuatu ... apa kamu sudah memaafkan mereka?" Jujur saja Ayas penasaran, karena seingatnya kebencian Kama pada tetangganya teramat besar, terutama pada yang telah menghina Ayas secara terang-terangan.


Tepat sekali tebakan Ayas, begitu ditanya Kama menggeleng kemudian menghela napas panjang. Sedikit saja dia tidak sudi memaafkan orang-orang yang telah menghina istrinya, sekalipun Kama mengundang mereka jelas tujuannya untuk membuat mulut mereka bungkam.

__ADS_1


Salah besar jika tetangga Ayas mengira dihormati oleh Kama. Walau mungkin sedikit yang tertampar, tapi setidaknya dengan Kama melakukan hal ini maka tidak akan ada yang berani merendahkannya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan mereka, Yas." Kama melayangkan tatapan tajam pada sekelompok ibu-ibu yang tampak heboh sendiri di depan sana.


Dengan alasan apapun Kama enggan untuk memaafkan mereka. Dia memang tidak akan membalas sebagaimana perlakuan mereka, dia tidak akan balas menghina dan menyakiti hati mereka satu persatu, tapi Kama justru membalas dengan cara yang baik sampai-sampai para tetangga Ayas justru mengira jika Kama memang menganggap mereka sebagai tamu kehormatan.


Ayas tidak bisa bicara banyak, Kama adalah pria keras pendirian yang cukup sulit untuk diajak kerja sama. Selagi sang suami tidak balas menyakiti, maka tidak apa baginya. Senyuman para tetangga Ayas terlihat sumringah kali ini, entah memang tulus atau karena status Ayas.


Kendati demikian, Ayas tetap membalas senyuman mereka dengan tulus, satu persatu Ayas memandangi mereka dari kejauhan, tidak pernah Ayas duga yang dahulu bahkan sempat tak sudi melihat wajahnya ternyata bisa melempar senyum di hari bahagianya.


"Ehem, kamu lihatin siapa sih? Mantan calon mertuamu tidak ada, aku sengaja tidak mengundangnya."


"Hah?"


Ayas mengerutkan dahi, tidak ada keinginan bahkan terbesit mengingat tentang Bu Dewi yang merupakan mantan calon mertuanya itu sedikit saja tidak. Namun, Kama justru salah paham dan menuduhnya yang tidak-tidak. "Aku lihatin Bu Lurah, tuh ketutupan konde Bu Rosmana."


"Terserah kamu saja, Mas."


Tidak ingin berdebat, Ayas memilih diam dan kembali duduk manis lantaran tak ingin masalahnya kian panjang. Dia sudah lama duduk di sini, kaki dan tubuhnya sudah pegal dan jelas jika harus ditambah adu mulut bersama Kama maka akan semakin lelah.


Kama menghela napas panjang, sebenarnya pertanyaan Kama yang membahas ibu Dewi hanyalah basa-basi. Tanpa Ayas ketahui, yang justru mencari keberadaan wanita itu adalah Kama sendiri, bukan Ayas.


Bukan hanya Ibu Dewi, tapi dia juga menunggu Marzuki. Tujuannya mengundang mereka sama, yaitu membalas penghinaan terhadap sang istri. Namun, sayangnya tujuan Kama tak tergapai, padahal dia sangat ingin melihat bagaimana wanita yang dulu menganggap Ayas tak sebanding dengan putranya.

__ADS_1


"Ck, terserahlah, kenapa aku malah memikirkan hal itu."


"Mikirin apa?"


Kama terbawa suasana, tanpa dia sadari jika ternyata dia mengumpat tidak dalam hati, melainkan secara lisan dan hal itu sampai ke telinga Ayas. "Hm?"


"Aku tanya, Mas mikirin apa?" tanya Ayas sekali lagi, tetap lembut walau sempat kesal lahir batin.


Tak ingin ketahuan apa yang dia pikirkan sebenarnya, Kama berpikir keras dan mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Ayas. "Mikirin malam pertama kita ... enaknya dimana ya?"


"Malam pertama?" tanya Ayas mengerutkan dahi, sungguh jawaban Kama di luar nalarnya.


"Iya, kenapa mulutnya jadi nganga begitu?"


"Memang hitungannya masih malam pertama? Bukannya udah sering ya?


"Masihlah ... kan kita jadi pengantin hari ini."


"Oh gitu, terus hitungannya dimulai dari awal ya?"


"Tentu saja, dimulai dari awal pokoknya."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2