Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib


__ADS_3

Celaka besar, sama sekali Kama tak meduga jika sang mama akan pulang malam ini. Dari penampilannya memang baru tiba, sontak Kama berusaha memberikan pembelaan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Banyak omong!! Mama paling tidak suka orang yang sudah tahu salah masih tidak mengaku!!"


Ayas dalam keadaan tak sadar kembali meracau dan menunjuk sang mertua dengan tenaga seadanya. "Mas? Mama siapa yang bawel ini?"


"Heeeei, shuut jangan begitu di hadapan Mama!!" bisik Kama panik seraya membekap mulut Ayas dengan telapak tangan.


"Dia bilang apa, Kama?" Kening Zura mengerut, racauan gadis itu kurang jelas, tapi dapat dia simpulkan jika tengah membicarakan dirinya.


"Ti-tidak, Ma, Laras tidak bilang apa-apa."


Sedikit saja Kama tidak bercita-cita mengenalkan Ayas dalam keadaan begini, dia justru ingin mereka bertemu dalam keadaan yang sangat baik, bukan sekacau ini. Keadaan Ayas yang mabuk berat jelas menimbulkan tanya di benak mamanya, Mama Zura berkacak pinggang seraya memerhatikan Ayas yang masih berada dalam pelukan putranya.


"Laras? Bisa jelaskan dia siapa?"


"Nanti aku jelaskan, kita masuk dulu ya, Ma ... istriku mabuk berat."


"Hah? Is-istri?"


Kama tak punya pilihan lain, dia khawatir Ayas kembali berceloteh dan asal bicara yang membuat mamanya kian marah. Saat ini saja dia mulai bicara macam-macam, Kama tidak ingin sampai istrinya membongkar semua yang terjadi dan berakhir petaka malam ini.


Begitu mendapat anggukan, Kama bergegas masuk dan melangkah cepat tanpa peduli walau mata tajam Papa Gian yang menyambut kedatangannya di ruang tamu. Mungkin bukan tatapan amarah, melainkan tatapan bingung tentang siapa yang tengah berada dalam pelukannya.


Saat ini, tidak ada yang ingin Kama lakukan selain membawa istrinya ke kamar. Bahkan, pertanyaan papanya tak sempat Kama jawab. Begitu tiba di kamar, Kama merebahkan tubuh sang istri begitu pelan dan berharap Ayas akan tidur dengan tenang.


Walau dalam keadaan terburu-buru, Kama tetap memastikan istrinya tidur dengan nyaman. Tanpa peduli saat ini hatinya sedang berdegub tak karu-karuan. Bagaimana dia menjelaskan apa terjadi? Mulai dari mana dan bagaimana caranya membela Ayas di hadapan sang mama, sungguh hal itu masih menjadi tanya.


Kendati demikian, Kama tidak akan pernah lari dari tanggung jawab. Kama tetap turun dan kembali menemui kedua orang tuanya demi memberikan penjelasan. Wajah datar Gian dan mata tajam Zura tidak membuat Kama ragu, dia duduk seraya menghela napas panjang dan siap untuk diintrogasi kedua orang tuanya.


"Papa tidak akan bertanya, jelaskan saja apa yang perlu kau jelaskan."


Ya, seperti biasa papanya tidak akan marah dan menggebu-gebu dalam menyelesaikan masalah. Gian memberikan kesempatan untuk putranya bicara, menjelaskan apa yang seharusnya perlu mereka sebagai orangtua.

__ADS_1


Sedikit banyak Gian tahu sebenarnya, Haidar sudah menyinggung hal ini sejak beberapa waktu lalu. Memang tidak bisa dipastikan kesimpulannya, tapi yang pasti fakta bahwa Kama telah menemukan tambatan hati sudah sampai ke telinga Gian.


Namun, sama sekali dia tidak menduga jika ternyata putranya mengalami hal seburuk itu tanpa sepengetahuannya. Walau hassrat ingin marah dan menyalahkan Kama yang memilih diam sejak awal sudah menggebu, tapi hal itu dia urungkan begitu Zura menghalanginya.


"Untuk hal itu tidak perlu dipermasalahkan, Pa. Lagi pula Kama tidak mengalami hal buruk di sana, yang perlu kita pertanyakan saat ini adalah kenapa dia membawa istrinya mabuk segala?"


Susah payah Kama membangun komunikasi yang tidak mengarah kesana, Zura justru kembali kepada inti dari permasalahan yang menurutnya sangat penting untuk dibahas. Awalnya Zura pikir gadis itu memang wanita nakal yang menghabiskan malam bersama putranya.


Begitu mengetahui siapa Ayas dan latar belakangnya beberapa saat lalu, dia berubah pikiran dan justru menyalahkan putranya. Bagaimana tidak? Masih 19 tahun, terpaksa menjadi istri putranya akibat fitnah yang sama sekali tidak dia lakukan.


Tak hanya itu yang membuat Mama Zura tercengang, tapi fakta bahwa Ayas menikah tepat satu hari setelah kematian ibunya juga demikian. Mirisnya, begitu diperistri Kama justru dikenalkan dengan dunia malam bahkan terpengaruh alkohol yang membuatnya mabuk berat hingga hilang kesadaran.


Semakin diingat semakin menyebalkan hingga Zura tak kuasa menahan diri untuk tidak menarik telinganya sekuat tenaga. Sejak dahulu pergi ke club sudah jadi hal terlarang sebenarnya, tapi memang Kama agak sedikit pembangkang bahkan pernah sakit keras akibat terlalu banyak mengonsumsi alkohol beberapa tahun lalu.


Beberapa waktu terkahir setahu Zura putranya sudah sedikit lebih baik, tapi nyatanya baru ditinggal liburan sebentar Kama telah melakukan hal gila yang sama sekali tidak bisa diterima akal.


"Kamu yang cekokin? Hah?"


"Sumpah bukan, Ma!! Laras minum sendiri karena dia pikir teh man_"


"Dia tidak akan sampai mabuk kalau kamu hentikan, Kama!!"


Kama akui memang salahnya, kurang tegas melarang hingga Ayas tak terbantahkan. Pria itu mengalah pada akhirnya, dia mengusap kasar telinga yang tampak merah lantaran kemarahan sang mama.


.


.


Mamanya jarang marah, tapi sekalinya marah Kama tersiksa. Zura memang main tangan, bahkan telinga dan pinggang Kama terasa panas akibat serangan mamanya. Sejak dulu sama sekali tidak berubah, jika saja bi Rosma masih ada, mungkin Kama akan mengadu dan tidur di pangkuan pengasuhnya.


"Mama bikin malu, aku tidak punya harga diri di depan Laras nan_"


"Buka coba, dikunci tidak?"

__ADS_1


"Bentar, Kama benar-benar masih di bawah, 'kan?"


"Iya, udah cepetan, Sayang!!"


Samar terdengar, dari jarak yang masih cukup jauh Kama mampu menyimpulkan apa yang sedang dilakukan kedua orang itu. Entah sejak kapan mereka berada di sana, karena setahu Kama keduanya memang diminta untuk masuk ketika Kama tengah dimintai keterangan beberapa saat lalu.


Agaknya, mereka tidak terima hingga memilih mencaritahu sendiri dengan cara sembunyi-sembunyi semacam ini. "Ck, dikunci ternyata, kamu punya kunci cadangannya?"


"Aku tanyain sama Mbak Ida, bent_"


"Ehem."


Tidak berniat membuat siapapun terkejut, tapi Yudha dan Kalila memekik begitu Kama mendekat dengan maksud yang sama. Pria itu merogoh kunci kamar dan membukanya seolah tak menganggap keberadaan mereka.


"Apa tidak ada cara yang lebih elegan untuk berkenalan dengan istriku?" tanya Kama bersedekap dada dan kembali berlagak cool padahal beberapa saat lalu teriakannya persis anak TK yang dipaksa pulang menjelang magrib.


"Ah bisa saja, maunya sih gitu, tapi kakak ipar tidurnya pulas sekali ... bisa spill ciri-cirinya? Biar aku tidak terkejut besok pagi," pinta Kalila baik-baik.


Sudah pasti Kama tidak keberatan sama sekali jika hanya diminta menjelaskan ciri-ciri Ayas. "Dia cantik."


"Pasti itu, lalu?"


"Masih muda, tapi bukan di bawah umur."


"Eum spesialnya dimana? Apa dia mampu menggetarkan hatimu seperti Anya?" tanya Kalila yang sudah pasti Kama angguki, bahkan lebih dari itu Ayas juga punya.


"Dan yang pasti, burungmu berkicau jika bersamanya? Benar begitu, Givendra Kama Wijaya?" tambah Kalila di luar dugaan yang membuat Kama memerah, dia menatap tajam Kalila dan mulai melepas sandal untuk siap dilemparkan ke wajah adiknya.


"Sial, pasti si kemayu itu yang membocorkan rahasiaku," gerutu Kama menatap kesal Yudha dan Kalila yang kini telah menutup pintu kamar rapat-rapat usai membuatnya naik darah.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2