Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 64 - Sudah Ada?


__ADS_3

Jika Marzuki tengah dilanda kegelisahan dan menuduh Ayas dalang dibalik kehancurannya, di sisi lain wanita yang dia maksud tengah menikmati drama para suami halunya. Sungguh dugaan Marzuki salah besar, dia menyalahkan Ayas terkait apa yang terjadi.


Padahal, gosip tentang Marzuki bahkan belum dia ketahui hingga kini. Selain karena memang tak begitu peduli dengan berita selebritis dalam negeri, Kama juga tidak memberikan ponsel Ayas sejak tadi.


Walau memang tidak semudah itu Kama membatasi sang istri, tapi pria itu rela asal Ayas tidak banyak tanya malam ini. Ya, hanya demi melancarkan aksinya, Kama terpaksa rela kala sang istri meminta izin untuk menonton drama yang dibintangi beberapa aktor tampan asal negeri gingseng itu, lebih menyebalkan lagi Ayas menyebut salah-satunya sebagai cinta pertama hingga Kama mual seketika.


Kama tak mengerti kenapa istri maupun adiknya begitu menggilai pria yang bahkan tidak tahu mereka ada di dunia ini, padahal jelas-jelas sudah bersuami. Sesekali Kama turut menyaksikan, tapi tidak begitu fokus karena dia masih memantau sejauh mana aib Marzuki menyebar.


Tak hanya itu, dia juga memastikan keadaan Marzuki yang agaknya telah menyadari kericuhan tersebut. "Lemah sekali mentalnya." Sejak tadi Kama terlihat tenang, tapi begitu melihat status terbaru Marzuki mendadak pria iti tersenyum tipis.


Miris sekali melihat pembelaan diri yang Marzuki lakukan, bukannya kasihan dia justru merasa semakin yakin untuk menghancurkan pengecut itu. Tidak hanya pandai menjilat, Marzuki juga sangat pandai memutarbalikkan fakta dan mengumumkan jika apa yang terjadi padanya adalah ulah orang-orang iri.


Siapa yang iri padanya? Sekalipun ada, mungkin orang-orang yang tahu bagian luarnya saja. Kama masih tidak habis pikir kenapa bisa Ayas mencintai pria itu sebegitunya dahulu, bahkan begitu jelas Kama ingat bagaimana gusarnya sang istri menunggu sebuah kabar dari Marzuki, dan sebuah ingatan itu bahkan membuatnya kesal hingga tanpa sengaja mencengkram pundak Ayas yang sejak tadi tidur di pangkuannya.


"Mas kenapa? Sakit tahu!!"


"Ya, Tuhan, maaf, Sayang ... kebablasan, gemesin soalnya," elak Kama beralasan, padahal sudah jelas-jelas jika gemas tidak sampai mencengkram sebegitu kuatnya.

__ADS_1


Sadar jika ada yang tak beres, Ayas beranjak duduk dan mengambil posisi di samping sang suami. Secepat mungkin Kama meletakkan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya pada Ayas saja. "Mas lihat apa?"


"Baca email dari Zidan dan sudah selesai ... kamu gimana?"


Kama berharap istrinya akan menjawab sudah, karena memang dia malas luar biasa jika Ayas mengajaknya menonton bersama. Saat ini suasana hatinya sedang tidak mendukung untuk menonton, Kama malas dan ingin segera tidur sebenarnya.


Terlebih lagi, malam ini dia belum bisa meminta haknya lantaran tak tega usai memeriksa bengkak yang istrinya derita. Ayas sudah mengizinkan andai memang tak lagi bisa ditahan, tapi Kama memilih mengalah lantaran khawatir justru makin parah dan bengkaknya menjadi lama.


"Eum episodenya masih panjang sih, tapi ...." Dari jawabannya sudah dapat disimpulkan dia masih ingin, tapi tatapan Kama membuat Ayas berpikir dua kali sebelum menjawab.


Ayas mengerjap pelan, dia sama sekali tak menduga jika sudah selarut itu. Tidak menunggu perintah kedua kali, Ayas segera berbaring hingga Kama mengulas senyum hangatnya. Memiliki istri yang penurut seperti Ayas benar-benar bermanfaat bagi Kama, terlebih lagi untuk kesehatannya.


Bertahun-tahun dia dihadapkan dengan Kalila yang keras hati dan kerap membuat sakit kepala, jelas ketika bersama Ayas hati Kama merasa berbeda. Layaknya seorang kakak yang bertanggung jawab atas adiknya, hingga memastikan Ayas tidur dengan nyaman adalah tugasnya.


Perubahan sikap Kama jelas saja membuat Ayas bingung, jika dibandingkan dengan sebelum menikah, jelas jauh berbeda. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan Kama yang bertemu dengannya pertama kali, jangan ditanya kalau soal itu.


Ayas merasa begitu disayang, usapan lembut dan kecupan manis di kening sebelum tidur sudah dia rasakan sejak awal menikah, semakin kesini Ayas semakin mengerti jika Kama memang penyayang seperti kata mertuanya.

__ADS_1


"Selamat malam, mimpi yang indah, Istriku," tutur Kama begitu pelan seraya menggenggam tangan sang istri.


Ayas tersenyum simpul, jantungnya berdegub tak karu-karuan dan ucapan Kama bahkan belum dia jawab. Belum selesai kegugupan itu, Kama mengecup jemari dan punggung tangannya berkali-kali, jelas Ayas salah tingkah dibuatnya.


"Eum, ka-katanya mau tidur, Mas?" Ayas menarik tangannya perlahan, debaran jantungnya semakin tak normal seiring dengan apa yang Kama lakukan.


"Sebelum tidur, boleh mas tanya sesuatu, Sayang?" Tak hanya lembut, caranya bicara juga berbeda hingga hati Ayas menghangat seketika.


"Ta-tanya apa?"


"Setelah beberapa waktu kita lalui bersama, apa di sini sudah ada cinta untuk mas, Yas?" Tanpa berbasa-basi, Kama langsung pada intinya dan dia bertanya seraya menunjuk tepat di dada Ayas.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2