Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 70 - Tidak Lucu


__ADS_3

Terkadang, terlalu percaya pada Kama adalah sebuah kesalahan, tapi terlalu berprasangka buruk juga bukan hal yang benar. Kenapa demikian? Ayas sendiri telah membuktikan, sudah berapa kali dugaannya selalu salah dan hingga menyesal pada akhirnya.


Sempat menduga Kama akan bertingkah saat dia tertidur, setelah terbangun barulah Ayas sadari suaminya tidak setengil itu. Ayas tidak tahu dia sudah tidur berapa lama, tapi yang pasti dia merasa siang sudah berganti karena suasananya sudah terasa berbeda.


Kama tidak membangunkannya, tidak juga mengganggu tidurnya. Ayas merenggangkan otot-ototnya, wanita itu perlahan menyingkap selimut dan turun dari atas tempat tidur. Perlahan, masih dengan wajah bingungnya dia berlalu keluar dari ruangan tersebut demi mencari sang suami.


Senyum Ayas terbit, padahal yang dia lihat hanya punggung Kama. Entah apa yang dia kerjakan hingga nampak fokus sekali, padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Perlahan Ayas mendekat, ketika diganggu dia kesal, tapi ketika Kama tak mengusiknya entah kenapa rindu,


"Mas ...."


Panggilan pertama tanpa jawaban, tidak biasanya Kama diam bahkan tak bergerak dari posisinya. Padahal, biasanya pria itu tidak pernah mengabaikan panggilan Ayas sama sekali, sedikit saja tidak.


"Mas."


Kecurigaan Ayas semakin menjadi kala panggilan kedua pria itu masih terus bergeming. Hingga, dia mendekat dan menepuk pundak Kama barangkali ada yang didengar sang suami hingga mendadak tuli malam ini.


"Mas Kam_ aaaaaaarrrggghhh!!" pekik Ayas menggema kala melihat wajah Kama berlumuran darrah dengan beberapa sayatan di sana.


Tubuh Ayas lemas, jantungnya seolah berhenti berdetak sementara Kama kini terbahak begitu melihat sang istri sampai tak kuasa untuk berdiri. "Kaget ya?" tanya Kama melepas topeng paling tak lucu yang dia dapatkan dari laci meja beberapa saat lalu.


Memang pantang dipuji, Ayas menatap kesal sang suami yang kini menjadikan kagetnya sebagai hiburan. "Tidak lucu!!" ketus Ayas bahkan menepis tangan Kama yang bermaksud untuk membantunya berdiri.


"Bercanda, kamu tidur lama banget ... mas bosan, Yas."

__ADS_1


"Bercanda ada batasnya, Mas, tahu?"


Istrinya benar-benar marah, candaan semacam itu ternyata sama sekali tidak bisa Ayas terima. Berbeda dengan biasanya, kali dia tampak sulit dibujuk dan tetap diam walau Kama sudah berusaha merayunya.


"Iyaya maaf, yuk pulang."


Ayas bergeming, bahkan genggaman tangan sempat dia tolak. Tak pernah Kama lihat wajah istrinya sekusut itu, jangankan senyum, menatap balik Kama saja enggan.


Sepanjang perjalanan dia juga tetap bungkam, Ayas menatap nanar keluar sementara Kama mulai kebingungan. Kemarin-kemarin diajak mabuk saja dia tidak marah, terbangun dalam keadaan tak perawan juga Ayas tidak marah, bahkan sampai kepergok mertua hendak bercinta juga tidak, tapi anehnya dikejutkan seperti tadi Ayas marah bukan main.


Zidan saja sampai bingung melihat istri bosnya mendadak diam tak berkutik, memang dia tidak meminta Kama menjauh atau sebagainya, tapi dengan caranya yang duduk mepet dekat pintu sudah menjelaskan jika malas didekati.


Tak hanya di jalan, begitu di rumah juga dia tetap sama. Ayas berjalan mendahului Kama, dan itu benar-benar bukan sikapnya. Tak dapat dipungkiri, Kama sedikit bingung dan menghela napas panjang seraya menatap sang istri yang kini meniti anak tangga tanpa melihat ke belakang walau sekali saja.


"Laras kenapa? Pasti kamu apa-apain ya?" tuduh Mama Zura menatap putranya curiga.


Bukan tanpa alasan, karena memang sejak dulu yang biasanya memulai petaka dan membuat Kalila menangis adalah Kama, jelas Mama Zura mampu menyimpulkan kenapa menantunya terlihat murka.


"Tidak, Ma, mungkin badmood atau apalah, aku tidak tahu juga."


"Halah, sudah bujuk sana." Istri dan yang lainnya mungkin bisa ditipu, tapi mamanya tidak kali ini.


Tak ingin berkilah lagi, Kama segera berlalu menuju kamar tidur. Sungguh tidak dapat diterka suasana hubungan mereka, secepat itu berubah, panas dingin dan cukup membingungkan karena mungkin belum mengenal karakter satu sama lainnya.

__ADS_1


Begitu tiba di kamar, Ayas tidak lagi berada di sana, kemungkinan tengah membersihkan diri lantaran gemericik air terdengar di sana. Kama mencoba tak mendesaknya untuk keluar, dia melakukan apapun yang memang harus dilakukan.


Apa saja, termasuk memastikan kembali perkembangan Marzuki dan beritanya. Kama mengenal banyak orang, relasinya amat luas hingga dia bisa mengetahui segalanya tanpa bertanya, tepatnya laporan itu datang dengan sendirinya.


Dalam waktu kurang dari 24 jam, karir Marzuki dipastikan benar-benar hancur karena berbagai skandal yang dia alami. Jumlah pengikut kian berkurang sementara hujatan kian bertambah. Kama termenung, seketika dia terpikir akan ucapan sang istri tadi pagi, terkait mematikan langkah orang lain.


"Apa aku keterlaluan ya?"


Seumur hidup, Kama tak pernah merenungi keputusannya. Selama ini, dia tidak pernah melihat ke belakang setelah melakukan segala sesuatu, apalagi sampai menyesal.


Cukup lama Kama tenggelam dalam lamunan, hingga suara pintu yang dibuka membuat perhatian Kama beralih seketika. Pria itu meletakkan ponselnya dan menghampiri sang istri yang telah menghabiskan waktu begitu lama di kamar mandi.


Kama mengerjap pelan, dia benar-benar terkejut begitu sadar mata Ayas tampak memerah, wajahnya juga sembab padahal habis mandi. "Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawabnya singkat dan kembali berlalu melewati Kama, pertanda dia memang masih marah.


Mendapati istrinya begini, naluri Kama yang keras dan gampang naik darah keluar seketika. Tanpa sadar, Kama mencengkram pergelangan tangan Ayas dan menariknya begitu kasar hingga sang istri membentur dadanya. "Katakan yang jelas kenapa, Laras!! Apa yang kamu tangisi? Hah?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2