
Sesuai permintaan, tadi malam Ayas meminta keesokan hari Kama segera memenuhi keinginannya. Jangankan untuk pulang kampung, andai Ayas memintanya keliling dunia juga akan Kama kabulkan. Tidak hanya berdua, Kama juga meminta tiga orang pengawal untuk mendampingi mereka.
Walau memang sampai hari ini tidak ada hal aneh yang terjadi, tapi Kama merasa akan lebih baik bersiap sejak awal. Bukan hanya menghindari Marzuki sebenarnya, tapi dia juga berusaha melindungi diri mengingat tujuan mereka bukanlah kota besar, melainkan desa terpencil dan jujur saja Kama memang penakut sebenarnya.
Cukup lama waktu yang mereka butuhkan untuk tiba di sana, tubuh Kama sampai pegal dan dia tampak gusar lantaran sudah bosan dengan perjalanan panjang yang tak usai juga. Pepohonan di sisi kanan kiri jalanan yang mereka lewati tak membuat Kama terpesona, bosan iya.
Terlebih lagi jalanan yang mereka lewati rusak parah dan bahkan tak layak disebut jalan. Kama mengomel tanpa henti, pria itu berceloteh dan menilai kinerja pemerintah yang dia anggap sangat tidak becus dalam menjalankan kewajibannya.
Tak hanya berceloteh, Kama juga mual hingga beberapa kali muntah dan Ayas yang berada di sampingnya benar-benar bingung kenapa bisa Kama mabuk separah itu seolah tidak pernah naik mobil.
"Berapa lama lagi? Apa tidak ada jalan yang lebih baik dari ini, Yas?"
"Sebentar lagi, Mas, sabar."
"Sudah lima kali kamu bilang begitu, sebentar lagi, Mas sabar ... aku sudah sabar dari tadi, sudah berjam-jam belum sampai jug_ hueeek."
Kama menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan, jujur dia akui sakit kepalanya semakin parah, mual yang dia rasa semakin menggila. Pijatan di tengkuk leher dan usapan lembut di perutnya sama sekali tidak membuat penderitaan Kama mereda.
"Jangan ditahan, muntahin biar lega."
Kama menggeleng, isi perutnya seakan telah habis dan tidak ada lagi yang bisa dia keluarkan saat ini. "Sial, kenapa aku jadi begini?" tanya Kama bingung sendiri, padahal biasanya balap liar sekalipun tidak membuat Kama mual, apalagi muntah.
__ADS_1
Mungkin ada penyebab lain, pasca terbangun lantaran kehilangan istri tadi malam Kama memang tak tidur lagi. Bagaimana tidak? Pria itu sudah menyibukan diri demi mengusahakan perjalanan mereka akan berjalan sesuai rencana.
Sialnya, terlalu sibuk menyiapkan kepergian mulai dari menghubungi Ida dan yang lainnya, Kama justru tak tidur sama sekali hingga keesokan hari barulah dia merasakan akibatnya. Bukan hanya mengantuk, tapi lemas dan tubuhnya seolah tak bertenaga.
Perjalanan menuju kampung halaman Ayas bak siksaan bagi Kama, bibirnya sampai pucat, tubuh pria itu panas dingin dan Ayas dengan sabar merawatnya. "Masih mualnya?" tanya Ayas sembari terus mengoleskan minyak tellon ke permukaan kulit Kama.
"Masih, tambah parah," jawabnya lesu, Kama menatap lekat Ayas dan berharap penderitaannya akan benar-benar usai.
Ayas tak mengerti harus berbuat apa lagi, karena semua yang dia tahu sudah dilakukan. Dia tidak berbohong pada Kama, memang benar mereka sebentar lagi tiba, tapi bagi Kama yang mabuk perjalanan jelas saja terasa lama.
"Harusnya jangan pakai minyak telon, Mas ... aku ganti yang lain ma_"
"Jangan!! Pakai ini saja, panas, Sayang," tolak Kama menggeleng mantap dan benar-benar tak bersedia kala Ayas hendak mengoleskan minyak angin yang menurut Ayas akan sedikit berefek bagi Kama.
Terpaksa, mau tidak mau Ayas menuruti kemauan Kama yang saat itu benar-benar tak bisa dirayu. Padahal, jujur saja Ayas gemas sendiri lantaran sang suami begitu menyebalkan dan bertingkah selama perjalanan.
Sedetik pun Ayas tidak bisa tidur lantaran harus menjaga Kama sepanjang perjalanan. Jika diam dan minta dielus atau sebagaimana tidak masalah, tapi yang menyebalkan dia selalu berusaha mencari posisi nyaman dan bisa dua atau tiga kali dalam sepuluh menit.
Tidur di pangkuan Ayas salah, bersandar di tubuh sang istri salah, merebahkan tubuh di kursi juga semakin salah. Berjam-jam Kama melakukan hal itu, hingga menjelang magrib, tepatnya malam mulai berganti mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sederhana yang tampak gelap dan minim penerangan.
Begitu sudah berhenti, Kama juga masih diam saja di pangkuan Ayas seraya memijat pangkal hidungnya. Dia masih butuh waktu untuk sedikit lebih tenang sebelum kemudian masuk ke dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Mas tunggu di sini dulu, aku ambil kuncinya bentar."
Untuk bangkit dan mengangkat tubuhnya Kama seakan tidak mampu, berat sekali. Pria itu mengangguk, tapi tidak segera berpindah posisi hingga terpaksa Ayas yang membantunya untuk beranjak bangun.
"Jangan lama, kepalaku sakit."
Tanpa menjawab, Ayas berlalu seraya menepuk pelan dada Kama sebagai ungkapan dan memohon agar dia sedikit lebih sabar. Sepeninggal Ayas pergi, perlahan Kama membuka mata dan menatap sekeliling.
Penglihatannya tidak terlalu jelas, selain karena tempatnya yang memang agak gelap, kepalanya juga masih terasa begitu sakit. Cukup lama Kama menunggu, hingga ketika Ayas kembali menghampiri dia memaksakan diri untuk turun dari mobil tanpa bantuan hingga hampir saja terperosok ke semak-semak, beruntungnya sang istri sigap dan bertenaga malam ini hingga mampu menahan tubuh Kama yang lemah.
"Mas baik-baik saja?"
"Tidak, Yas, kamu tidak lihat mas seperti mau mati begini?" tanya Kama yang membuat Ayas menatapnya penuh iba, kasihan dan benar-benar tak tega.
Khawatir Kama benar-benar terjatuh, Ayas meminta bantuan dua pria di antara pengawal mereka, sementara yang satu berjalan di sisi Ayas. Sejak tadi Kama belum terlalu jelas memandang, hingga ketika tepat berada di teras rumah tersebut barulah Kama menyadari ada yang aneh dan membuat langkahnya sontak terhenti detik itu juga.
Ayas masih berusaha membuka pintu rumah, sementara Kama tengah berpikir dan mengenali apa yang ada di depan matanya. "Tunggu ... ini rumahnya? Dia tidak salah?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -