
Bermula dari kata lagi yang dia lontarkan tadi malam, Ayas baru merasakan akibatnya tepat keesokan hari. Bukan hanya bangun kesiangan, tapi tubuhnya juga sakit semua seakan baru saja melakukan olahraga berat.
Matahari sudah meninggi, tapi matanya masih tertutup rapat. Perlahan, Ayas mengumpukan nyawa dan membulatkan tekat untuk bangun segera. Sialnya, entah kenapa sulit sekali sampai Ayas menyerah dan kembali merebahkan tubuhnya.
Bukan hanya lelah, tapi semakin dia terjaga rasa sakit di bagian bawah mulai terasa. Ayas sangat sadar apa yang telah terjadi, tapi ketika dia ingat-ingat lagi tingkahnya semalam, wanita itu mendadak malu sendiri.
Wajah Ayas memerah, terlebih lagi kala dia menyingkap selimut untuk memastikan keadaannya. Tentu saja begitu tahu dirinya masih dalam keadaan polos, Ayas merutuki kebodohannya.
"Mas ... lagi."
Memalukan sekali, pertama kali justru minta tambah adalah hal yang sama sekali tidak pernah Ayas duga. Dia mengusap kasar wajahnya, tidak ingin terlalu lama terjebak dalam situasi semacam ini, Ayas berencana untuk membersihkan diri segera.
Bukan tanpa alasan dia buru-buru, tapi saat ini Kama tidak ada di sisinya. Entah keluar lebih dulu atau kemana, yang jelas Ayas tidak ingin ditemui dalam keadaan semacam ini.
"Aaaawwwh." Ayas menggigit bibir, ternyata sakit pasca melakukan hubungan semacam ini benar adanya.
Seperti kata Dania, walau memang tidak sesakit yang digambarkan sang kakak, tapi bagi Ayas ngilunya lumayan. Wanita itu perlahan bergeser menuju tepian tempat tidur. Bayangan dirinya di cermin membuat Ayas terkejut dan takut melihat diri sendiri.
Tanda kemerahan di leher dan dadanya begitu banyak, entah bagaimana Ayas menutupinya. Sejenak melupakan tentang hal itu, Ayas kembali fokus dengan tujuannya. Namun, baru saja hendak bergerak, Kama justru muncul dari pintu kamar mandi yang tak terpikirkan oleh Ayas sejak tadi.
"Morning, Honey ... kok cepet bangunnya?" Itu sapaan atau sindiran, Ayas tak tahu juga.
Hendak bertanya dia juga malas, bahkan untuk menatap Kama seolah tak punya keberanian. Jangan ditanya alasannya apa, jelas saja malu. Mengingat, dia saat ini tidak lagi merasakan efek obat semalam, Ayas benar-benar kembali ke setelan malu-malu dan memang tidak mau seperti dulu.
Sapaan Kama bahkan tak dia jawab, Ayas mengalihkan pandangan dan tidak ingin melihat ke arah sang suami yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya itu. Bukan karena tidak suka, dia hanya malu, tapi gelagat Ayas justru membuat Kama berpikir jika istrinya marah.
__ADS_1
"Maaf ya, harusnya aku membuang obat itu sejak awal," ucap Kama tiba-tiba, dia bahkan menunduk agar wajah mereka lebih dekat.
Ayas tidak begitu mengerti, dia mengerutkan dahi sebelum kemudian kembali bertanya. "Mas yang siapkan?"
"Kamu tahu itu obat apa?" Kama tidak segera menjawab, melainkan bertanya lebih dulu pada Ayas karena dari raut wajahnya sang istri sudah tahu tanpa perlu dijelaskan.
Sesuai dugaan, Ayas tahu dan dia mengangguk pelan. Sebelum Kama pulang, Ayas sempat memastikan keadaannya lewat internet, dan beberapa sumber membuat pikiran Ayas terbuka jika yang dia minum memang bukan obat meriang seperti kata Kama.
Dia marah? Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja, dia sangat menyayangkan kenapa Kama tidak memberitahunya sejak awal. "Kalau sampai aku minumnya pas kamu sedang keluar kota bagaimana? Dan juga, untung yang minum aku ... kalau sampai mbak Ida gimana?"
"Ya, terserah mbak Ida, minta puasin sama Somad atau cari apa kek gitu," celetuk Kama asal padahal sang istri tengah serius-seriusnya.
"Aku serius, Mas, untung kamu pulang cepet semalem."
Sungguh jauh dari prediksi Kama, istrinya sama sekali tidak marah dan membencinya. Padahal, ketika terbangun sempat terbesit Ayas tidak terima akan apa yang dia alami, sungguh. "Benar tidak marah? Kamu sudah tidak perrawan loh, Yas," ucap Kama tersenyum tipis dan menatap lekat manik indah sang istri.
Kama tersenyum tipis, dari tarikan napasnya memang jelas jika Ayas kelelahan. Pria itu menghela napas panjang, leganya luar biasa. "Iya, aku juga habis tenaga, sisanya akan kukembalikan pada Kalila ... buaya betina itu yang kasih, bukan aku yang beli."
Ayas tak peduli masalah itu, dia juga tidak marah walau tahu Kalila biang keroknya. Sekalipun yang melakukannya adalah Kama sendiri juga tak masalah, dia mengerti mungkin memang kurang pengalaman jika tanpa bantuan ketika berhubungan.
"Mau kemana? Aku bantu ya."
"Bisa sen_ aduh, kok perih ya?" Ketika dia coba untuk berdiri ternyata rasanya juga bertambah, dan hal itu yang membuat Ayas bingung seketika.
"Perih? Kenapa perih?"
__ADS_1
"Nggak tahu, apa mungkin robek ya, Mas?"
"Robek? Bukannya dari lahir memang udah robek, Yas?"
"Ih!! Mas Kama!! Serius sekali saja bisa?" Ayas tidak bercanda, tapi sejak tadi mulut sang suami tidak ada seriusnya hingga sebagai istri dia hanya bisa mengelus dada.
Mendapati istrinya sebal begitu, Kama bukannya panik melainkan terbahak dan merasa yang dia ucapkan lucu sekali. "Sini, biar kuperiksa ... siapa tahu memang robek seperti kat_ what? Kenapa bisa begini."
Niatnya bercanda, tapi ketika Kama benar-benar memastikan sendiri dia dibuat terkejut begitu menyadari milik sang istri tampak memerah dan bengkak.
"Kita ke rumah sakit saja mau ya?"
Ayas sontak menggeleng dan kembali menyembunyikan bagian sensitifnya dari Kama. Mana mau dia ke rumah sakit, malunya dua kali lipat menurut Ayas. "Kata mbak Dania sembuh sendiri kok, Mas."
"Sembuh sendiri gimana? Bengkak gitu."
"Nanti pas ditanya dokternya gimana? Aku malu ngaku."
"Ya jawab saja gigit tawon atau serangga gitu, kan bisa," jawab Kama yang hanya Ayas tanggapi dengan helaan napas pasrah. "Tawon apa yang gigitnya di sana?"
"Tawonku," jawab Kama santai hingga Ayas benar-benar menyesal bertanya dan seketika membatin pagi ini. "Aku ada dosa apa di kehidupan sebelumnya?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -
Selamat malam, tidur nyenyak ya penduduk bumi❣️ terima kasih atas antusiasnya, emuach👄