
Bagian paling malas dalam perjalanan bagi Kama adalah pulangnya. Sehari semalam seolah kurang dan Kama masih ingin tetap di sana sebenarnya. Hanya saja, mengingat dia pergi tanpa rencana dan sang mama sudah mengomel lantaran membawa Ayas tanpa izin, terpaksa mau tidak mau Kama pulang keesokan harinya.
Seolah tak belajar dari pengalaman, lagi dan lagi Kama membawa istrinya tanpa izin. Agaknya, kebiasaan sulit meminta izin dibandingkan meminta maaf sudah begitu melekat dalam diri Kama hingga sulit dihilangkan.
Baru juga memasuki gerbang utama, Kama sudah disambut mamanya yang berkacak pinggang dengan sapu di tangan kanannya. Ketika melihat hal itu jelas saja dia panik, Kama meneguk saliva dan kini menatap sang istri yang juga bingung sepertinya.
"Kenapa lihat-lihat?"
"Ehm, begini ... boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
Tak ingin kembali terjebak seperti kemarin, kali ini Kama mengatur strategi lebih dulu. Khawatir jika Ayas bicara sembarangan dan mengatakan sesuatu yang harusnya tidak perlu orang lain dengar, Kama memilih untuk sedia payung sebelum hujan.
"Jadi bagian itu jangan ceritain?"
"Iya, pokoknya bagian di kamar itu rahasia kita ... ehm sebut saja privasi suami istri dan tidak perlu diceritakan sana sini, Ayas paham?" Untuk bagian ini dia harus kembali menekankan pada Ayas dengan sejelas-jelasnya.
Tak apa walau seolah menuntut anak TK, hal itu lebih baik dibandingkan membiarkan istrinya memberikan pengakuan sendiri, tapi membahayakan dirinya. "Paham, Mas."
"Terus yang dimana lagi?"
"Ehm pinggir danau juga jangan!! Pokoknya bagian semacam itu kamu cut sebis_ eh, intinya jangan katakan sesuatu yang sifatnya privasi, anggap saja itu konsumsi pribadi."
Ayas mengangguk mengerti, cukup banyak peraturan yang Kama berikan sebelum mereka turun dari mobil. Pria itu memang tampak gugup, hendak menghadapi Mama, tapi ekspresinya seolah akan dimintai keterangan pihak berwajib.
Bahkan, ketika turun dan menghadap mamanya, tangan Kama yang menggenggap sang istri terasa amat dingin, Ayas paham akan hal itu. Semakin dekat, tatapan sang mama semakin mengerikan hingga Kama berdegub tak karu-karuan.
"Siang, Mama ... lagi apa?"
__ADS_1
"Dari mana kalian?" Tanpa sedikit pun niat untuk menjawab pertanyaan putranya, Mama Zura melontarkan pertanyaan yang membuat Ayas turut gemetar.
Kama menggigit bibir, sementara Ayas yang takut salah bicara memilih diam dan mempercayakan hal itu pada sang suami saja. "Bandung, Ma."
"Ke Bandung ngapain?" Suaranya mulai berubah, dan Kama tahu mamanya memang marah.
Namun, bukan Kama namanya jika tidak bisa mengendalikan suasana. Sebisa mungkin dia terlihat biasa agar istrinya tidak kena getahnya. "Healing, Ma, healing."
"Hilang hiling, kemana-mana tuh izin dulu apa susahnya? Pamitnya ke rumah sakit tahunya kemana."
"Memang benar ke rumah sakit, tapi pas pulangnya berubah pikiran, Ma, jad_"
Belum sempat dia meneruskan penjelasan, gagang sapu yang sejak tadi sang mama siapkan mendarat di pundak, pinggang dan juga kakinya hingga Kama gelagapan kala melindungi diri sendiri.
"Sakit, Ma!!"
"Kebiasaan lama tu diubah!! Kalau kamu sendirian Mama sudah terbiasa, sekarang beda cerita!! Ada anak gadis orang yang kamu bawa kemana-mana," seloroh Mama Zura tak lupa mencubit pinggang putranya hingga Kama menggigit bibir agar terlihat berwibawa di hadapan istrinya.
"Ngaku, dibawa kemana istrinya?"
"Ajak ke danau doang, abis itu ke hotel karena mau pulang takut kemaleman!!" jelas Kama berkali-kali, tuduhan sang mama yang mengatakan jika dia mengajak Ayas ke tempat maksiat itu kembali terlontar hingga Kama merasa perlu membela diri.
"Muka kamu sangat sulit dipercaya, Laras, apa benar yang dia katakan?" Beralih pada menantunya, Mama Zura tetap mencubit perut putranya sebagai bentuk hukuman kali ini.
"Iya, Ma, mas Kama tidak ajak aku ke tempat yang salah kok."
"Tuh denger sendiri dia bilang apa? Mama kenap_ aawwwh lepas, Ma, pedas juga lama-lama," pinta Kama menepis tangan mamanya.
Begitu mendengar keterangan dari Ayas, barulah Mama Zura bersedia melepaskan cubitannya. Sungguh Kama berhutang budi, jika Ayas tidak bicara besar kemungkinan pinggang Kama akan semakin tersiksa. "Sudah masuk sana, lain kali izin."
__ADS_1
"Kenapa harus izin? Kan Laras istriku, jad_"
Bugh
Bukan lagi pundak, tapi kali ini kening yang jadi sasaran gagang sapu sang mama akibat dia yang asal bicara. Kama memejamkan mata kemudian menyentuh bagian yang menjadi tempat mendaratnya benda itu, khawatir berdarrah atau semacamnya. "Apa Mama tidak bisa menggunakan cara yang lebih kejam dari ini? Pakai golok misalnya?"
"Iya, besok-besok kalau mulutmu masih kurang ajar, bukan golok lagi, Kama ... tapi pedang!!" bentak Mamanya seketika membuat Ayas susah payah menahan tawa.
"Mama tahu Laras istrimu, tapi dia juga menantuku dan kau masih putraku, Kama ... Mama tidak bermaksud ikut campur, tapi memastikan kalian ada dimana itu adalah kewajiban seorang ibu, tahu? Ayo, Laras, ikut Mama."
.
.
Sambutan yang begitu luar biasa dari mamanya, Kama berlalu dengan langkah lesu begitu Ayas terpaksa ikut dan meninggalkan dirinya. Dihadapkan dengan situasi semacam ini, Kama kembali merasa lelah dan menganggap dunia seolah tak adil padanya.
"Ehem, pengantin baru pulang, dari mana, Abwang?"
Beberapa saat lalu, Kama sudah berhadapan dengan mamanya. Begitu masuk dia kembali disambut oleh Kalila yang sepertinya memang menunggu kepulangannya. "Kenapa masih di sini? Pulang sana!"
"Ih, ini rumah papaku ya, terserah aku mau pulang kapan."
Tak ingin berdebat, Kama bermaksud meninggalkan Kalila. Namun, sialnya wanita itu justru mengekor dan membuat Kama kesal seketika. "Kalila kau!! Mau apalagi?"
"Gimana rasanya? Legit?"
"Legit apanya yang legit!! Sudah sana!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -