Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda


__ADS_3

Bukan main malunya Ayas, tapi naluri dalam dirinya juga tidak dapat dibohongi dan nafkah batin dari Kama seolah terus dia ingini. "Mas yang seharusnya kutanya, kenapa diam?"


"Ehm kamu maunya gimana memang?" Kama balik bertanya, tak sadarkah dirinya saat ini sang istri tengah panas menahan malu.


"Ya apapun, masa mau begini terus."


"Maafin mas dulu." Kama memberikan penawaran, padahal yang untung banyak tetap dia.


Ayas yang tadi lupa mendadak kembali ingat akan salah Kama hingga dia menatap kesal sang suami. "Tidak akan, kalau dimaafin besok-besok kamu ulangi!!"


"Ya sudah, kita begini terus sampai pagi," ucap Kama sesantai itu.


Ayas pikir Kama bercanda, dia masih bertahan dan yakin Kama lah yang akan mengalah. Namun, setelah beberapa saat menunggu Kama tetap bergeming dan terus menatap Ayas dengan tatapan tak terbaca.


Dia yang malu terus ditatap seperti itu memilih mengalah, agaknya fakta bahwa Kama egois bukan isapan jempol belaka, tapi memang benar adanya. "Yaudah iya," kesal Ayas malas-malasan seraya menepuk dada Kama pelan, masih dengan perasaan.


Kama mengullum senyum, dia tahu percikan gairrah sang istri sudah menyala-nyala, sama seperti dirinya. "Iya? Iya apa, Sayang?"


"Iya, dimaafin!! Udah buruan, Mas, pegal tahu!!" Jawaban Ayas berhasil membuat Kama tergelak, kali ini internet tidak menyesatkan dan cara yang dia gunakan benar-benar berhasil.


Terkesal licik, tapi Kama tidak punya cara lain untuk membujuk sang istri. Pikiran Kama memang sesempit itu, dia tidak bisa membayangkan andai Ayas terus mendiamkannya hingga nanti.


Begitulah kelemahan Kama, kesabarannya teramat tipis. Dia tidak memiliki kemampuan menaklukan wanita dengan kata seperti adik ipar maupun kedua temannya, sekalipun sudah Samuel nasihati tetap saja dia menyelesaikan masalah dengan caranya.


Bukan hanya Kama yang punya kelemahan, istrinya juga demikian. Berkali-kali terjebak dalam siasat Kama, tapi otaknya yang tumpul belum mampu mengimbangi kelicikan sang suami.

__ADS_1


Malam ini sudah terbukti, Ayas akui pendiriannya lemah sekali. Padahal marahanya tak main-main, dia ingin membuat Kama mengerti, tapi ternyata dialah yang terjebak permainan sendiri.


Ayas tengah mengutuk dirinya sendiri, gampangan sekali dia di hadapan suami, begitu pikir Ayas. Berbeda dengan Ayas yang berpikiran semacam itu, Kama justru sebaliknya.


Berhasil menaklukan Ayas dengan cara seperti ini jelas membuat Kama berbangga diri. Kemampuannya menyelesaikan masalah tidak dapat diragukan, memang benar adanya semua bisa selesai dalam sekejab.


Walau harus mengeluarkan sedikit tenaga dan adrenalin ketika memulainya, di akhir Kama menghela napas lega setelah ambruk beberapa saat lalu di atas tubuh sang istri.


Bercinta setelah bertengkar ternyata memang berbeda, Kama telah membuktikannya dan benar hal itu dianggap sebagai cara menyelesaikan masalah. Kama kini berpindah ke sisi sang istri, tak lupa Kama menarik selimut hingga menutupi dada Ayas kembang kempis.


Kama takkan bicara untuk saat ini, sesaat dia biarkan istrinya tenang lebih dulu. Hingga, ketika Ayas menatap ke arahnya, barulah Kama tersenyum tipis seraya menyeka keringat di kening sang istri.


"Masih marah?"


Tanpa suara, Ayas menggeleng karena dia yakin jika menjawab masih maka Kama akan memanfaatkan kesempatan untuk kedua kali. Dia memejamkan mata sejenak seraya menghela napas panjang, agaknya dia akan bicara serius setelah ini.


Kama mengangguk, pria itu kembali bergeser padahal jarak mereka sudah teramat dekat. "Iya, besok tidak lagi."


"Bukan cuma besok, tapi sampai kapanpun!!"


"Iya, Laras iya, maksud mas besok-besok tidak lagi." Ucapan Kama agaknya kurang hingga Ayas salah dalam mengartikan, dan Kama yang paham istrinya masih memanas mencoba untuk mengalah dan tidak berdebat masalah kalimat yang dia ucapkan sebelumnya.


Tak sekadar ucapan, Kama kini merengkuh sang istri dengan harapan hatinya akan benar-benar memaafkan. Tanpa terduga, Ayas yang biasanya hanya diam ketika dipeluk kini balik memeluk Kama tanpa diminta.


Dia tidak sedang di bawah pengaruh obat, mereka juga sudah selesai bercinta, jelas saja Kama bingung mendapati sikap sang istri padanya. "Hm? kamu tidak salah makan kan?"

__ADS_1


"Tidak, seharian aku sama kamu ... yang kita makan hari ini sama. Mas kenapa tanya gitu? Mukaku merah-merah ya? Atau kenapa?" tanya Ayas beruntun yang membuat Kama tergelak, sejadi-jadinya dia terbahak dan pertanyaan Ayas terlalu lucu di telinganya.


"Bu-bukan begitu maksudnya."


"Terus kenapa tanya-tanya?"


Kama menggeleng pelan, dia tidak akan memperpanjang masalah ini, ada hal lain yang ingin dia tanyakan pada sang istri. "Lupakan, mas mau tanya yang lain saja boleh?"


"Eum boleh, mau tanya apa, Mas?"


Jujur Kama agak sedikit ragu, tapi dia merasa amat penasaran dan hal itu perlu dibahas. "Kenapa tadi sampai nangis di kamar mandi? Kalau cuma marah kan bisa kamu lampiaskan langsung, kenapa memilih ngurung diri?"


Ayas mengerjap pelan, dia tak segera menjawab, melainkan berpikir lebih dulu sebelum angkat bicara. "Sebenarnya bukan marah, aku juga tidak mengerti ... tapi ketika melihat kamu seperti itu pertama kali, aku benar-benar takut dan walau sadar bahwa kamu bercanda, tapi takutnya justru membekas di sini," tutur Ayas memegang kepalanya seraya memejamkan mata.


Jelas Kama menangkap ada hal serius di balik kepanikannya, dia juga ingat betul seberapa histerisnya Ayas di kantor. "Sedikit berlebihan, tapi aku tidak ingin duniaku hancur lagi."


"Lagi?" Kama mengerutkan dahi, jawabannya sedikit ambigu dan membuat Kama harus berpikir dua kali. "Lagi bagaimana maksudmu?"


"Beberapa tahu lalu, aku berharap ayahku bercanda sepertimu, tapi ternyata bukan ... darah dan lukanya sungguhan, dan aku hancur sekali waktu itu. Jadi, aku mohon sekali lagi kalau mas mau bercanda boleh, tapi jangan yang seperti tadi, aku takut kamu beneran kenapa-kenapa." Panjang lebar Ayas menjelaskan, dan Kama hanya mengangguk mengerti, wajar saja jika istrinya sepanik itu, pikirnya.


"Dan juga hidup jangan bercanda melulu, Mas, masih banyak hal yang bisa kamu lakukan kalau bosan seperti katamu, dagang asongan kek, kursus jahit atau apalah intinya banyak deh ... paham sampai sini?"


"Iya, Sayang, paham, kapan-kapan mas coba ... terima kasih nasihatnya."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2