
melihat badan ny berlumuran darah rayhan pun menyuruh leon untuk mengambilkan baju gantinya di mension dan juga menyuruh zidan untuk membelikan beberapa baju ganti untuk brayen.
setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya zidan pun tiba dan menyerahkan baju ganti untuk tuan mudaya itu.
"ini tuan baju gantinya" zidan. rayhan pun menerima nya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri tak lupa ia melirik anak kecil yang setia duduk d samping ibu ya menunggu sampai ibunya siuman.
setelah selesai membersihkan diri rayhan pun mendekati brayen lalu menyerahkan pakaian ganti untuk brayen.
"sayang mandi dulu ya. ini paman udah belika baju untuk mu" ucap rayhan sambil membelai rambut tebal brayen.
"terima kasih paman" brayen tersenyum lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriya.
"tuan apa aku beri tau suaminya tentang nona ini" zidan.
"jagan dulu" ucap rayhan lalu duduk di kursi samping anissa sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu" batin rayhan sambil menatap lekat wajah anissa yg blm sadarkan diri.
tak berselang lama brayen yg sudah selesai membersihkan diri menghampiri rayhan yang duduk di samping ibunya.
"paman sampai kapan ibu tidur terus" ucap brayen dengan polosnya.
rayhan pun mengendong tubuh mungil anak itu lalu membawanya ke sofa tempan zidan duduk.
"sayang mana nomor hp ayah mu? biar paman beritau jika kau dan mamamu ada di sini" ucap rayhan lembut.
"hiks... jangan beritau ayah paman hiks...hiks..." ucap brayen menangis mengingat kejadian tadi. rayhan dan zidan pun saling bertatapan.
"memang kenapa sayang?" rayhan.
brayen pun menceritakan semua yang telah terjadi kepada ibunya selama ini tak lupa juga tentang mamanya yang memergoki ayahnya sedang bercembu mesra dengan wanita lain. refleks rayhan pun tersenyum sinis ada kelegaan dalam hatinya.
"kamu cari tau semua tentang mereka" ucap rayhan ke zidan sambil memeluk brayen yang masih menanggis.
"baik tuan" zidan pun pergi meninggalkan tuan mudanya itu.
"sudah jangan nangis lagi. kalau boleh paman tau siapa nama mu?" rayhan.
__ADS_1
"namaku brayen paman. kalau nama paman?" brayen.
"nama paman rayhan panggil saja dengan paman rey" rayhan.
keduanya pun saling bercerita seperti ayah dan anak rayhan memang menyukai anak2 karna itu lah dia bisa gampang dekat dengan brayen. brayen juga sangat nyaman dengan rayhan dia merasakan kasih sayang dari ayah yang selama ini tidak dia dapat dari ayahnya leon karna terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga selingkuhannya jadi tifak ada waktu lagi untuk anak dan istrinya.
lelah berbicara dan berhubungan hari juga semakin gelap rayhan pun membaringkan badannya di bangsal samping anissa yang ia suruh di sediakan alex untuk tempatnya istirahan dan juga brayen.
karna bangsal yang kecil membuat tubuhnya dan juga brayen menempel sangat dekat.rayhan pun memeluk brayen agar menjaga jaga agar tubuh munggil itu tidak terjatuh nantiya. mereka pun memejamkan matanya masing2 hingga larut dalam tidurnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ditenggah malam anissa tersadar ketika ia membuka matanya ia melirik bangsal yang ada di sebelahnya. dia melihat seorang pria gagah tidur dengan lelapnya sambil memeluk buah hatinya ia pun menatap keduanya tak terasa air bening itu pun jatuh dengan derasnya.
"ya allah sampai kapan ujianmu ini akan berakhir?" batin anissa sambil menatap langit2 rumah sakit itu.
karna merasa haus anissa pun meraih air mineral yang ada di sampingya. tapi tiba2 gelas yang ia pegang terjatuh prrakk....mendengar suara gelas yang jatuh rayhan pun terbangun dan melihat anissa sudah sadar rayhan pun menghampirinya dan menuangkan air mineral ke gelas yang baru.
"ini kamu haus kan?" ucap rayhan menyodorkan air mineral itu ke anissa.
"kenalkan nama ku rayhan kalau nama mu siapa?" ucap rayhan duduk di tepi bangsal anissa.
"anissa nama ku anissa" ucap anissa tersenyum.
tiba2 pintu ruangan anissa di buka oleh seorang suster ketika melihat anissa dan rayhan sedang berduaan suster itu pun melotot.
"anissa... lho kenapa trus kok" ucap tika sambil menunjuk ke arah rayhan.
"tika... lho bekerja di sini" ucap anissa mengalihkan pembicaraan.
"ia nis gue kerja di sini. tapi lho kenapa kok bisa di rawat disin tapi kok sama? memang leon ke mana? ucap tika sambil melirik rayhan yang masih setia di tempatnya.
anissa pun hanya menunduk dan air matanya pun kembali mengalir dgn derasnya. melihat itu tika pun menarik anissa ke pelukanya. meliat kedua sahabat itu pun memilih untuk beranjak dari tempatnya lalu duduk di sofa sambil menatap kedua sahabat itu.
"lho kenapa nis cerita sama gue kalau lho ada masalah jangan lho pendam sendiri" ucap tika sambil mengelus halus rambut anissa.
"hikss.... leon tik hiks...hiks..." ucap anissa sambil menanggis.
__ADS_1
"leon kenapa tik" tika.
"leon hianatin gue nis hiks... gue melihat pakek mata kepala gue sendiri dia sedang bercumbu mesra dengan sekertarisnya" anissa
mendenggar ucapan anissa tika pun melepaskan pelukan ya lalu menghapus air mata anissa.
"nis... gue yakin lho itu wanita kuat jadi gue yakin lho pasti bisa hadapi semua cobaan ini lho kan wanita kuat" ucap tika menyemangati sahabatnya itu. anissa pun hanya menjawab dengan senyumannya.
karna anissa pasien yang terakhir untuk d kontrol oleh tika maka tika pun memilih untuk mwnemani sahabatnya itu. anissa pun menceritakan semua perubahaan leon semenjak ekonomi mereka sudah sangat meningkat.
"iisss... gue jadi sebel melihat lelaki brengsek itu dulu selama dia susah dan serba kekurangan lho selalu setia menemaninya tapi sekarang setelah dia mempunyai segalanya dia malah hianati lho kayak gini" ucap tika kesal. anissa pun hanya menunduk sedih mendengarkan ocehan sahabatnya itu.
"tapi kenapa dia ada di sini? lho tau gak siapa dia?" tika
"gak tau ,memang siapa?" ucap anissa dengan polosnya.
"beneran lho gak tau dia siapa?" tanyak tika kembali. anissa pun hanya mengelengkan kepalanya heran.
"dia itu anak tertua dari pemilik rumah sakit ini dan satu lagi lho harus tau dia itu pemilik Pt.R.A. grub" ucap tika pelan supaya yang di bicarakan tidak mendengarnya.
tapi sayangnya orang yang sedang mereka gosipkan sudah berada tepat di belakang mereka sambil melipat kedua tanganya di dada.
"ehem...kalian sedang membicarakan aku ya" ucap rayhan tersenyum.
mendengar suara itu tika pun menoleh kebelakang.
"eh... tuan muda" ucap tika salah tingkah anissa pun hanya diam tak berani menatap pria itu.
"saya di sini hanya untuk mempertanggung jawabkan apa yang terjadi ke anissa karna mobil yang menabrak anissa dan juga putranya adalah mobil saya. saya memang sudah menanyakan ke brayen nomor hp ayahnya agar saya bisa mengabari ayahnya tentang keadaan mereka tapi brayen menyuruh saya untuk tidak memberitau ayahnya soal ini" jelas rayhan panjang lebar kedua wanita itu pun hanya menggangguk mengerti.
" ya sudah lagian ini udah larut malam lebih baik kamu istirahat supaya kamu bisa cepat pulih" ucap rayhan lalu membaringkan tubuhnya kembali di samping brayen.
"ia benar apa yang dikatakan tuan muda lebih baik lho istirahat dulu. besok siang gue kan gak kerja jadi gue akan jagaiin lho seharian" ucap tika lalu dijawab dengan senyuman oleh anissa.
setelah tika pergi dari ruangannya anissa pun membaringkan tubuhnya sambil menatap pria gagah di sampingnya lalu dia memejamkan matanya kembali.
bersambung...
__ADS_1