
rayhan terus memperhatikan sang istri sambil melipat kedua tangannya. dia tersenyum kecil melihat sang istri yang begitu serius memperhatikan sepasang kekasih itu sedang bercumbu.
"sayang sedang melihat apa?" bisik rayhan lembut di teliga anissa.
plakk
anissa yang terkejut langsung menampar wajah rayhan.
"aw...sakit sayang" ucap rayhan sambil mengelus wajahnya yang panas karna tamparan anissa.
"maaf sayang aku tidak sengaja" ucap anissa mengelus wajah sang suami yang memerah karna ulahnya.
"kamu ngapain kok serius amat?" ucap rayhan melirik sepasang kekasih itu yang terus bercumbu tanpa menyadari kehadiran mereka di sana.
"gak papa sayang. sayang sendiri ngapain ke sini?" anissa.
"mencari istriku lah" ucap rayhan tersenyum nakal. lalu menatap bibir munggil sang istri kemudian melahapnya dengan lembut.
"apa kamu mau? kenapa harus melihat orng yang melakukannya kalau kita sendiri bisa mempraktekkannya bahkan yang lebih dari itu" ucap rayhan sambil mengusap lembut bibir sang istri yang basah karna ulahnya.
"apaan sih ini kan di kantor" ucap anissa memayunkan bibirnya sambil memainkan dasi sang suami.
"kalau di kantor memang kenapa? jika istriku sudah menginginkannya maka di manapun akan aku lakukan" ucap rayhan langsung membawa tubuh munggil sang istri kedalam gendongannya.
"rey" ucap anissa berusaha memberontak karna malu melihat para karyawan yang mereka lewati. namun sekeras apapun dia memberontak tak akan membuat sang suami melepaskannya begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
di ruangan rayhan.
anissa terus saja memperhatikan zidan yang menjelaskan laporan yang ada ditanggannya sambil tersenyum senyum sendiri.
zidan yang menyadari jika dirinya sedari tadi di perhatikan nona mudanya merasa sangat gugup sampai sampai salah menyelaskan laporannya ke rayhan.
"kenapa laporanmu seperti itu" ucap rayhan mengerutkan keningnya karna baru kali ini sekertarisnya salah memberi laporan kepadanya tanpa menyadari jika semua itu karna sang istri yang duduk bersandar di sampingnya.
"kenapa nona melihatku seperti itu?" bukannya menjawab zidan malah bertanya ke anissa.
__ADS_1
"memang aku memperhatikanmu seperti apa?" ucap anissa tanpa rasa bersalah karna membuat sekertaris suaminya itu gugup.
tak mampu menjawab pertanyaan sang nona muda zidan hanya mampu menarik naparnya dalam sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal melihat sikap nona mudanya.
"sayang jangan ganggu konsentrasi zidan seperti itu" ucap rayhan lembut untuk menengahi keduanya.
"aku tidak menganggu konsentrasinya. dia aja yang merasa gerah karna aktivitasnya tadi pagi" ucap anissa sambil tersenyum jahil mencoba mengoda zidan.
degh..
"aktivitas maksud nona apa? apa dia tau?" batin zidan mencoba memikirkan perkataan anissa.
rayhan hanya tersenyum kecil melihat reaksi zidan yang begitu terkejut karna perkataan istrinya. walaupun dia mendapatkan yang lebih spesial lagi karna ulah zidan yang tertangkap oleh istrinya.
"kenapa wajahmu merah seperti itu?" ucap anissa menaik turunkan alisnya tersenyum.
"ti..tidak nona" ucap zidan mencoba menyembunyikan wajah merahnya.
"sudah...sudah lebih baik kita teruskan pekerjaan kita. dan satu lagi zi, dilarang berpacaran apa lagi bercumbu di kantor ini apa kau mengerti" ucap rayhan tersenyum kecil.
"maafkan saya tuan" ucap zidan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
anissa sibuk memainkan ponselnya sambil memakan cemilan yang telah di sediakan suaminya untuknya.hingga dia tidak sadar jika pekerjaan suaminya telah selesai.
"sayang ayo kita pulang" ucap rayhan menghampiri istrinya yang duduk di sofa sambil memakan cemilan tak henti henti.
"udah selesai?" ucap anissa mengerutkan keningnya.
"sudah sayang. kamu juga pasti sudah lelahkan?" rayhan.
"ia kakiku sudah pegal. nanti pijiti ya" ucap anissa manja mengingat kakinya yang sudah pegal karna tadi sibuk mengelilingi kantor sang suami sampai sampai dia melihat pemandangan yang begitu horor di matanya.
"ia sayang" ucap rayhan langsung mengandeng tangan istrinya pergi meninggalkan sekertarisnya yang menatap mereka binggung.
"apa maksud perkataan nona dan tuan tadi ya? apa mereka tadi melihatku? tapi perasaan tadi tidak ada orang yang lewat. apa karna aku keasikan ya" gumam zidan tersenyum mengingat kejadian tadi pagi yang membuatnya berbunga bunga tapi sayang nona mudanya itu malah menjahilinya dan membuatnya mati kutu di depan tuan mudanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
di mension rayhan.
karna rindu dengan masakan sang kakak ipar alex memilih untuk pulang kerumah kakaknya. semenjak anissa dan rayhan menikah alex memang sering menginap di rumah mereka bahkan kadang hanya mampir untuk makan saja.
alex memang sangat menyukai masakan kakak iparnya. rasanya yang begitu pas di lidahnya hingga membuatnya candu akan masakan itu.
sudah sering alex menganti koki ternama untuk memasak untuknya tapi satupun tidak pas di lidahnya seperti masakan anissa.
hingga akhirnya ia menyerah dan lebih memilih untuk makan di tempat sang kakak bukan hanya pas di lidah tapi juga tidak perlu gerongoh kantong tentunya.
alex duduk bersantai di ruang tamu sambil membayangkan senyuman yang begitu manis hingga membuatnya berbunga bunga setiap hari.
anissa yang baru memasuki pintu rumah langsung binggung melihat adik iparnya duduk tersenyum senyum sendiri di sofa.
"apa kamu sakit?" ucap anissa langsung duduk di samping alex sambil memegang jidatnya untuk memastikan adik iparnya itu baik baik saja.
"tidak kak. aku baik baik saja" ucap alex tersadar dari lamunannya.
"kalau kau baik baik saja ngapain kamu senyum senyum sendiri" ucap anissa mengerutkan keningnya sambil menatap alex bingung.
sedangkan rayhan hanya diam menatap keduanya sambil menyeruput teh yang telah di sajikan pelayan.
"aku sedang bahagia sekali kak" ucap alex bahagia.
"apa sih yang membuat adik kesayanganku ini sebahagia ini?" anissa.
"aku sudah melamar seseorang kak" ucap alex tersenyum bahagia.
"kapan, dimana, siapa wanita itu? apa kamu di terima?" ucap anissa kaget.
"nanti akan aku kenalkan sama kakak. kalau soal diterima atau tidak kakak pasti tau dari ekspresi wajahku kan?" ucap alex tersenyum bahagia.
"wah... akhirnya aku punya teman juga" ucap anissa bahagia mengingat dirinya tidak punya kawan wanita di keluarga suaminya selain ibu mertuanya sendiri.
alex hanya tersenyum bahagia melihat kakak iparnya begitu bahagia dengan kabar baik yang ia bawa. sedangkan rayhan hanya tersenyum bahagia melihat kedekatan keduanya.
dia merasa bersyukur karna istrinya begitu akrab dengan semua keluarnganya. bahkan sang istri tidak membeda bedakan keluarnganya dengan keluarga suaminya. semua sama di matanya.
__ADS_1
bersambung...