
di mension rayhan.
setelah merasa letih karna seharian ikut bersama suami ke kantor anissa mencoba membaringkan tubuhnya di dekapan suaminya sambil menelungkupkan wajahnya ke leher sang suami.
semenjak hamil aroma tubuh sang suami sangat menenangkan dirinya. jika mencium aroma tubuh suaminya maka dia tidak akan merasa mual dan pusing lagi.
"saya**ng, kamu besok cek kandungankan?" ucap rayhan sambil mengelus lembut rambut anissa.
"ia sayang, kamu ikut kan?" anissa.
"pastilah sayang, aku juga kan pingin lihat anak kita. tapi kita ajak brayen ya pasti dia senang" rayhan.
" ia sayang, pasti dia senang bisa lihat adiknya" ucap anissa tersenyum menatap rayhan.
" ia sayang, aku juga sangat rindu padanya. sudah lama aku tidak menemui anak kita" rayhan.
"ya sudah besok kita habiskan waktu bersama. kamu gak usah berangkat ke kantor besok" ucap anissa tak mau di bantah.
"ia sayang. apa sih yang tidak untuk anak dan istriku" ucap rayhan menoel hidung mancung anissa.
"sayang besok setelah selesai cek kandunganku kita ke panti asuhan untuk memberi bantuan ya" ucap anissa menatap lekat wajah suaminya.
mendengar ucapan anissa rayhan tersenyum kecil. dia merasa bangga kepada sang istri karna selalu memikirkan orang lain. walaupun mereka sekarang mempunyai segalanya tapi anissa tak pernah mengunakan uang suaminya untuk kepentingannya sendiri.
anissa selalu saja berbagi kepada orang2 sekitarnya yang kesusahan. rayhan memang sangat beruntung mempunyai istri sebaik anissa.
" ia sayang tentu saja" ucap rayhan lalu mencium lembut bibir munggil istrinya.
awalnya hanya ciuman lembut biasa saja namun akhirnya mereka terlena lalu memperdalam ciumannya.
sehingga akhirnya mereka mengulat saling menguras tenaga mereka masing masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
di rumah sakit.
melihat anak dan menantu kesayangannya datang bram langsung menyambut mereka dengan hangat.
"halo cucu kakek" ucap bram langsung membawa brayen kedalam gendongannya.
__ADS_1
" kakek tampan sekali memakai baju dokter" ucap brayen memuji.
" ya pasti dong. walaupun kakek sudah tua tapi aura kakek masih terpancar" ucap bram tertawa.
"ingat umur pa" ucap maya tiba2 datang.
membuat bram tak berani berkutik karna tatapan tajam istrinya. melihat papa mertuanya diam tak berkutik anissa langsung ketawa lepas.
"hehe... papa takut sama mama ya" anissa.
" hehe sama seperti rayhan yang takut padamu nis" ucap bram tertawa kecil.
sedangkan maya hanya mengelengkan kepalanya pelan. bram dan maya sudah tau akan sikap anissa yang berubah semenjak mengandung.
" mama kenapa ke sini" ucap rayhan mengalihkan pembicaraan.
" mama juga mau lihat calon cucu mama dong" ucap maya mengelus perut anissa.
"ya sudah ayo kita ke ruangan dokter alena papa sudah menyuruhnya menunggu dari tadi" ucap bram membawa menantunya ke ruangan dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakitnya.
mereka langsung saja pergi mengikuti bram ke ruangan dokter alena.
"terima kasih dok" ucap anissa ramah.
"ayo nona berbaring biar aku periksa kandungannya" ucap dokter alena mebimbing anissa ke bangsal.
anissa hanya menurut lalu berbaring di bangsal yang telah di sediakan. rayhan selalu setia menemani istrinya. sedangkan bram masih mengendong brayen barsama maya di sisinya hanya memperhatikan.
"kandungannya sehat ibu ya juga sehat. karna bayinya masih sangat kecil jadi masih belum terlihat jelas bentuknya" ucap dokter alena menjelaskan yang terlihat di komputer USG.
rayhan hanya menatap kagum bayinya yang terlihat di layar monitor USG sambil mengengam erat tanggan anissa sesekali membawa tangan munggil istrinya ke dalam ciumannya.
"lihat adikmu nak, masih sangat kecil" ucap bram sambil menunjuk layar monitor.
"tapi kok seperti itu kek? gak ada bentuknya cuman" ucap brayen binggung melihat adiknya yang masih segumpalan daging.
"ya memang seperti itu nak. itulah kuasa allah dari segumpalan daging itu nanti akan berubah jadi bayi yang sangat munggil" ucap bram binggung bagaimana menjelaskannya kepada anak sekecil brayen.
"ooo gitu ya kek" ucap brayen mengangguk mengerti lalu memerhatikan adik bayinya kembali.
__ADS_1
"saya harap nona menjaga pola makannya. upayakan bayak makan makanan yang bergizi. saya akan menulis resep untuk ibu dan bayinya. nanti tuan muda bisa ambil di apotik" ucap dokter alena mengakhiri pekerjaannya.
"tapi kenapa sikap kakak sekarang berubah dok? bahkan sering sekali menjahili aku" ucap alex yang sebetulnya sudah ada di ruangan itu sedari tadi tanpa ada yang menyadarinya.
"kalau itu biasa dalam proses hamil muda seperti ini dok. kalau di bilang masa ngidam sang ibu memang sering meminta yang tidak tidak. maka di situlah kesabaran keluarga termasuk suami di uji. saya lihat nona muda terliat sangat ceria dan tidak mengalami mual, muntah, dan gak selera makan seperti bumil lainnya" jelas dokter alena.
"ia dok bahkan sekarang aku makan makin banyak. tapi tidak mengubah postur tubuhku kan dok?" tanya anissa polos.
"itu lebih baik nona jika anda makan banyak di jamin nutrisi bayi yang ada di dalam kandungan anda tercukupi" jelas dokter alena.
"sayang jika nanti aku gendut kamu tidak akan berpaling dariku kan?" ucap anissa menatap rayhan.
"tidak akan sayang. bagaimana pun dirimu nanti aku akan tetap mencintaimu. karna aku mencintaimu jadi sudah pasti bagaimanapun dirimu akan terlihat sangat cantik di mataku" ucap rayhan memengang wajah anissa dengan kedua tanggan kekarnya.
"bener ya sayang. jika sampai kamu tergoda dengan wanita di luar sana aku akan menghukummu" ancam anissa.
bukannya takut dengan ancaman sang istri rayhan malah terkekeh kecil.
"apapun hukuman yang kamu beri untukku aku akan melakukannya dengan senang hati. karna setiap hal yang keluar dari mulutmu adalah perintah untukku" ucap rayhan tersenyum.
melihat keromantisan dan kesabaran rayhan menghadapi istrinya yang sedang hamil muda dokter alena hanya bisa tersenyum kecil.
"betul ya" ucap anissa menunjuk ke arah rayhan. rayhan hanya tersenyum kecil menghadapi istrinya itu.
"ya sudah kalau begitu kami permisi dulu ya dok" ucap rayhan tersenyum.
"baik tuan muda." ucap dokter alena tersenyum ramah kemudian mengantar keluarga itu keluar dari ruanggannya.
namun saat keluar dari ruanggan anissa melihat seorang pasien wanita hamil di bawa terburu buru oleh para perawat di ikuti beberapa polisi wanita.
"sayang itu" ucap anissa menghentikan langkahnya menunjuk ke arah pasien dan perawat yang melewati mereka.
"itu kan luna istri leon kak" ucap alex yang melihat luna di bawa oleh perawat ke ruang ICU.
"ia apa dia mau melahirkan. tapi di mana leon?" ucap anissa mendekati luna.
"sayang tunggu saja di sini biar aku yang bertanya ke polisi yang mengantarnya" ucap rayhan mendudukkan istrinya di kursi tunggu.
bersambung....
__ADS_1