Penghianatan Terdalam

Penghianatan Terdalam
part 51


__ADS_3

"aauww" pekik rayhan memegang perutnya yang di cubit anissa dengan kerasnya. anissa hanya melipat tangganya lalu memalingkan wajahnya tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.


"kan benar aku bilang sayang, bagaimana?" ucap rayhan menaik turunkan alisnya mengoda anissa.


anissa yang kesal langsung mendorong badan rayhan lalu menghentakkan kakinya begitu kerasnya sambil mengerutu sepanjang langkah kakinya.


"bbuugghh" anissa lalu membanting pintu kamar mandi dengan kerasnya. rayhan yang kaget hanya bisa memegang dadanya terkejut.


"ternyata istriku yang begitu polos dan lugu ternyata sangat menyeramkan juga" ujar rayhan mengerutu dalam hati.


anissa yang masih begitu kesal melihat rayhan mempermainkan dirinya terus saja mengerutu di dalam kamar mandi.


hingga benda2 mati yang berada di dalam kamar mandi pun terkena ocehanya. mendengar sang istri masih saja mengoceh sendiri di dalam kamar mandi rayhan hanya bisa geleng2 kepala tanpa berkata apapun sambil menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


setelah setengah jam merendam di kamar mandi sambil menghilangkan rasa lelah karna ulah sang suami anissa langsung keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi sedikit badannya.


melihat penampilan sang istri rayhan hanya bisa menelan ludahnya kasar. dia tak berani mengeluarkan sepatah katapun.


anissa hanya menoleh sedikit ke arah rayhan lalu pergi lagi ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.


setelah selesai anissa keluar dengan handuk yang melilit di kepalanya. melihat sang istri tidak mengomel lagi rayhan langsung meletakkan hp yang sedari tadi ia mainkan.


"sayang lelah ya?" ucap rayhan memeluk anissa dari belakang sambil mencium halus wajah anissa.


belum menjawab tiba2 bel kamar mereka berbunyi. rayhan langsung keluar untuk membuka pintu tapi menyuruh anissa tetap di dalam kamar.


setelah membuka pintu rayhan melihat pelayan yang membawa mampan berisi makanan yang di pesan oleh sekertarisnya.


rayhan langsung menyuruh para pelayan menata makanan mereka di meja tamu.


"ayo makan dulu sayang" ucap rayhan memangil anissa. mendengar pangilan sang suami anissa langsung keluar lalu duduk di samping rayhan.


tanpa banyak pikir anissa melahap makanannya dengan rakusnya. bukannya dia rakus tapi jujur perutnya sudah sangat lapar.


melihat sang istri makan begitu rakusnya rayhan hanya tersenyum kecil. dia menatap badan munggil di sampingnya yang telah dia kuras tenaganya habis habisan.


selesai makan anissa langsung bersandar kepada suaminya kekenyangan. rayhan mengelus halus rambut anissa yang masih basah.


"sayang," ucap rayhan lembut sambil memainkan rambut panjang anissa.


"ehem" dehem anissa tanpa melihat rayhan.

__ADS_1


"apa kamu tau bagaimana keadaan leon sekarang?" rayhan.


"memang dia kenapa?" ucap anissa datar masih betah dalam posisinya.


melihat ekpresi sang istri biasa saja saat dia menyebut nama mantan suami istrinya. rayhan tersenyum bahagia karna dari respon sang istri rayhan tau jika nama mantan suaminya tidak ada lagi sedikit pun di hati anissa.


"aku mendengar dari zidan dia mengalami defresi dan sekarang dia di rawat di rumah sakit papa" ujar rayhan pelan.


mendengar ucapan suaminya anissa langsung duduk lalu menatap rayhan tak percaya.


"mana mungkin itu terjadi. semalam aku lihat dia baik2 saja waktu pernikahan kita" ucap anissa tak percaya.


rayhan menarik dapasnya dalam2 lalu menjelaskan semua yang telah di sampaikan zidan kepadanya tanpa tertinggal sedikit pun.


mendengar penyelasan rayhan ,anissa langsung mengingat bagaimana hancurnya perasaannya saat di hianati leon dulu.


tak terasa air mata anissa berhasil lolos dari mata indahnya. melihat itu rayhan langsung menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya.


"apa bisa kita menjenguknya?" ucap anissa dengan tatapan memohon.


"ia sayang tapi kamu istirahat dulu. lihat wajahmu masih terlihat sangat letih" ucap leon menasehati.


anissa hanya bisa menganguk setuju. dia bersyukur karna suaminya masih mengizinkanya untuk bertemu mantan suaminya.


di rumah sakit.


leon duduk di kursi roda sambil menatap ke arah luar jendela rumah sakit.setelah sadar dari pingsan dia tetap tidak mau makan.


juli sudah kehabisan akal bagaimana cara membujuk putranya itu. juli hanya bisa menatap putranya dengan penuh rasa kasihan.


juli hanya bisa berharap anissa mengunjungi leon lalu memberi kekuatan kepadanya. namun tiba2 senyuman yang indah terlihat dari wajah juli ketika melihat anissa datang bersama rayhan.


"nak, kamu datang?" ucap juli menghampiri anissa.


"ia ma, bagaimana keadaan bang leon?" ucap anissa menatap punggung leon.


juli hanya bisa menatap punggung leon sedih. berlahan senyuman yang terpancar saat kedatangan anissa tiba2 hilang ntah kemana.


melihat dari raut wajah mantan mertuanya anissa langsung mengerti lalu mencoba mendekati leon. anissa berjongkok lalu menatap mata leon dengan lekat.


melihat anissa berjongkok di depannya leon langsung menatapnya dengan penuh rasa penyesalan.

__ADS_1


"maafkan aku" ucap leon lirih.


"aku sudah memaafkan mu sedari dulu" ucap anissa tersenyum membuat kecantikannya terpancar indah.


mendengar ucapan anissa leon langsung tersenyum menatap anissa lalu mengengam tangan anissa.


"terimakasih" ucap leon meneteskan air matanya.


"tapi kamu harus makan dulu" ucap anissa mengambil bubur yang terletak di meja lalu menyulangi leon.


leon hanya menganguk menuruti keinginan anissa. di makan dengan lahapnya hingga buburnya habis tanpa tersisa.


"gitu dong, kalau makannya banyak abang akan cepat sembuh" ucap anissa tersenyum lalu memberi leon minun.


"terimakasih sudah mau melihatku" ucap leon lirih.


"aku akan selalu melihat abang, walaupun aku sudah mempunyai keluarga baru tapi abang tetaplah ayah kandung brayen" ucap anissa menatap leon begitu lekat.


"ia kan sayang" ucap anissa menatap rayhan tersenyum.


mendengar ucapan anissa, rayhan langsung berjalan mendekati leon.


"anissa benar, bagaimanapun kamu tetap ayah kandung brayen. apa kamu tidak memikirkan perasaan brayen jika dia melihat ayah kandungnya berada di dalam keterpurukan seperti ini?" ucap rayhan menasehati.


mendengar ucapan rayhan, leon menatapnya tidak percaya. jujur dia sangat takut jika di jauhkan dari brayen.


sudah cukup dia kehilangan anissa, dia tidak mau kehilangan anaknya juga.


"papa, mama" ucap brayen berlari ke arah rayhan. melihat putranya datang rayhan langsung mengangkat tangan ya membawa brayen kedalam gendonganya.


"jagoan papa dari mana?" ucap rayhan mencium pipi gembul putranya.


"brayen tadi dari rumah sama nenek" ucap brayen menunjuk ke arah yanti.


"ibu" ucap anissa dan rayhan serentak lalu menyalim tangan yanti tak lazim secara bergantian.


"bagaimana keadaan mu nak?" ucap yanti menatap wajah mantan menantunya penuh rasa iba.


leon hanya tersenyum menjawab pertanyaan yanti. dia melihat seluruh orang di sana secara bergantian.


dia merasa malu ke anissa karna dulu pernah menyakiti anissa sebegitu dalamnya. tapi, anissa masih begitu peduli kepadanya.

__ADS_1


juli yang melihat leon sudah mau merespon merasa tenang. karna sebelum anissa datang leon sama sekali tidak mau berbicara kepada siapapun kecuali brayen.


bersambung....


__ADS_2