
"ayo duduk, sebentar lagi sudah jam makan siang. kita makan siang bersama ya. aku sudah pesan makanan untuk kita" ucap rayhan menyuruh anissa duduk di sofa santai ya. anissa hanta tersenyum lalu duduk di samping rayhan.
"sayang" rayhan.
"hemm.." anissa manatap rayhan.
"ada yang ingin ku sampaikan sayang" rayhan menatap anissa hingga kedua netra mereka bertemu.
"tentang apa?" anissa mengkerutkan keningnya.
"tentang kecelakaan kalian haritu" rayhan.
"siapa pelakunya?" ucap anissa mulai marah.
"leni dan kakaknya luna" ucap rayhan. lalu mencoba mengengam tanggan anissa berusaha menenangkannya.
mendengar leni dan luna yang telah mencoba menyelakakannya bersama brayen anissa mulai terpancing emosi. tangganya mulai dinggi berkeringat. aura kemarahan telah terlihat jelas dari wajahnya.
"apa kau sudah mengumpulkan semua buktinya?" anissa menatap rayhan.
"sudah sayang, semua sudah di urus zidan. kamu tenang aja ya" rayhan menenangkan.
"tuan ini makan siangnya" ucap zidan tiba2 datang.
melihat keadaan anissa yang begitu menyeramkan zidan tak berani berkutik. dia hanya bisa berdiri kaku memegangi makan siang yang di pesan rayhan.
"ternyata aura kemarahan nona muda jauh lebih menakutkan dari aura kemarahan tuan muda" batin zidan.
"sudah sayang jangan marah seperti itu. serahkan saja semuanya pada zidan ya sayang" ucap rayhan mencoba membujuk anissa yang sedang marah.
"kayak mana aku bisa tenang rey. sedangkan orang yang telah mencoba melukaiku dan anakku masih bisa berkeliaran dengan tenang di luar sana. jika yang mereka lukai hanya aku, aku tidak akan bisa memakluminya. tapi, mereka mencoba untuk melukai anakku rey" ucap anissa tak terasa air matanya mengalir deras.
"ia sayang aku tau, aku juga tidak akan membiarkan mereka bebas berkeliaran di luar sana setelah apa yang mereka lakukan kepadamu dan anak kita. aku janji akan menghukum mereka seberat beratnya karna telah berani melukai hartaku yang paling berharga" ucap rayhan sambil mengahupus air mata anissa.
"ternyata sekejam apa pun orang itu akan tidak berdaya jika di hadapkan dengan orang yang ia cintai. kau memang telah menemukan tempat pelabuhanmu tuan muda" batin zidan sambil tersenyum.
setelah beberapa lama akhirnya rayhan berhasil meredakan amarah anissa. hingga dia sadar jika sedari tadi zidan telah berdiri bagaikan patung di hadapannya.
"ngapain kau berdiri kayak patung di situ?" ucap rayhan menatap zidan.
"maaf tuan. ini makan siangnya" zidan. zidan langsung meletakkan makanan yang sedari tadi dia pegang di atas meja.
"ya sudah kita makan dulu ya" ucap rayhan ke anissa. anissa hanya menganguk mengiyakan.
mereka bertiga langsung menyantap makanan mereka masing2. mereka makan dalam keheninggan. zidan tak berani berkata kata di depan anissa. sedangkan rayhan tak berani berbicara takut akan memancing amarah anissa lagi.
__ADS_1
setelah mereka selesai menyantap makanannya. mereka masih diam di tempatnya masing2.
"tuan, apa tuan masih menyimpan semua bukti2 tentang kecelakaanku dan brayen tempo hari?" tanya anissa ke zidan memecahkan keheninggan.
"ia nona, saya masih menyimpannya dan mencoba mengumpulkan semua buktinya" zidan.
"kalau tuan sudah selesai mengumpulkanya pastikan mereka mendapatkan hukuman yang berat. agar mereka tidak berani lagi melakukan kesalahan yang sama lagi. baik itu kepadaku dan anakku ataupun kepada orang lain" ucap anissa.
"baik nona, saya akan memberi hukuman yang setimpal kepada mereka." zidan.
"kalau begitu pergilah, selesaikan tugasmu. aku dan anissa mau keluar dan mungkin tidak akan kembali lagi." rayhan.
"baik tuan" zidan langsung pergi meninggalkan anissa dan rayhan berduan.
"ayo, tunggu apa lagi" ucap rayhan melihat anissa yang masih betah dalam duduknya.
"mau kemana? ini kan masih jam kerja" anissa.
"sayang kau lupa ya jika yang pemilik perusahaan ini adalah calon suamimu ini?" ucap rayhan lalu berjalan keluar ruanganya.
tak punya pilihan anissa langsung saja mengikuti langkah rayhan. karna dia tau jika rayhan sudah berkehendak menolak sekeras apa pun takkan ada artinya.
setelah 15 menit akhirnya mereka sampai di sekolah brayen.
"jagoan papa sudah pulang sekolah?" ucap rayhan melihan brayen keluar dari ruangan kelasnya.
"ia sayang. itu mama di dalam mobil" rayhan.
rayhan langsung membawa brayen ke dalam mobil lalu mendudukan brayen di kursi belakang. setelah itu dia kembali ke kursi kemudi lalu melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang.
" pa kita mau ke mana inikan bukan jalan ke rumah kakek" ucap brayen binggung.
"kita mau ke taman bermain sayang," rayhan.
"jadi kita mau jalan2 ya pa?" brayen. rayhan hanya mengangguk sambil menoleh ke belakang.
"hore... akhirnya brayen bisa juga jalan2 sama papa dan mama" brayen tertawa bahagia.
melihat tingkah brayen anissa dan reyhan terkekeh bersama. setelah sampai di taman bermain terbesar di kota rayhan langsung turun dari mobil. tak lupa rayhan membuka pintu untuk anissa lalu membawa brayen dalam gendonganya.
"pa brayen mau berenang" ucap brayen menunjuk ke arah kolam renang yang memiliki banyak jenis permainan seusianya di sana.
"boleh sayang. ayo kita beli baju berenangnya dulu" rayhan.
mereka memilih baju yang akan mereka kenakan untuk berenang. setelah memilih baju yang mereka kira cocok untuknya. mereka langsung menganti pakaianya masing2.
__ADS_1
setelah selesai rayhan keluar dengan celana pendek dan baju kaos biasa. dengan mengunakan baju seperti itu rayhan tampak lebih mempesona. anissa yang melihat langsung terpana.
"ya allah memang kalau sudah tampan mau memakai pakaian apapun akan tetap tampan" guman anissa sambil menatap rayhan kagum.
"sayang sudah selesai juga?" ucap rayhan mendekati anissa dengan mengandeng tangan brayen.
"su..sudah. ini barang2 kita tarok di mana?" ucap anissa memalingkan pandangannya.
"mbak ini barang2 kami tolong di simpan ya" ucap rayhan kepada penjaga penitipan barang.
"baik tuan" ucap penjaga itu.
"kamu sangat cantik mengunakan pakaian seperti itu" ucap rayhan.
rayhan menatap anissa yang menggunakan baju kaos lengan panjang kebesaran dan celana lejing dan tentu saja dengan jilban simple.
"terimakasi. kamu juga tampan dengan pakaianmu" anissa. rayhan hanya bisa terkekeh kecil mendengar jawaban anissa.
"pa, brayen naik prosotan itu ya" ucap brayen menunjukkan prosotan yang begitu panjang.
"sayang, kamu berani?" ucap anissa. menatap prosotan yang tingginya kurang lebih 500 meter itu membuat anissa ngeri. apalagi ada trowongan beberapa tempat prosotan itu.
"mama takut ya" ucap brayen meledek anissa.
"kalau tidak takut ayo kita coba" ucap rayhan. lalu mengandeng tangan anissa dan brayen.
sesampainya di tempat peluncuran prosotan itu ada dua orang penjaga yang menyediakan ban untuk prosotan.
"maaf tuan, mau mengunakan ban yang sendiri atau yang berdua?" ucap penjaga.
"brayen mau yang sendiri" ucap brayen semangat.
"sayang mau yang mana?" rayhan.
"yang berdua aja" anissa gugup.
"teryata anissa takut ketinggian. hehe kesempatan." batin rayhan tersenyum.
"pa, ma brayen duluan" ucap brayen penuh semangat langsung meluncur.
"sudah siap tuan?" ucap penjaga yang hendak mendorong mereka.
"sudah" rayhan.
penjaga itu langsung mendorong mereka.
__ADS_1
"aahhh" teriak anissa. repleks anissa langsung memeluk rayhan lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang rayhan saat mereka melewati trowongan yang begitu gelap.