Penghianatan Terdalam

Penghianatan Terdalam
part 17


__ADS_3

setibanya di kamar yang di katakan alex leon langsung membuka pintu itu dia pun melotot melihat anissa terbaring lemah di bangsal nya.


dengan kepala yang masih di perban dan juga selang imfus di tanggannya.


leon pun melangkahkan kakinya mendekati anissa dan duduk di tepi ranjangnya lalu mengelus wajah halus anissa. merasa ada yang memegang wajahnya anissa pun terbangun dari tidurnya.


ketika anissa mencoba membuka matanya betapa terkejutnya anissa melihat leon ada ada di sampingnya. anissa pun mencoba mengucek ucek matanya tapi leon masih juga ada di sampingnya. sadar jika itu adalah leon anissa pun melihat wanita yang berdiri di dekat leon.


"ngapain kamu di sini dengan wanita ****** itu?" ucap anissa ketus


"apa lho bilang? gue bukan wanita ****** ya" jawab luna lirih dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"bukan wanita ****** ya? jadi wanita apa dong yang mau jadi simpanan suami orang, oh gue tau sebutan untuk lho pelakor kelas kakap ia kan?" ucap anissa halus dengan penuh penekanan


"sayang kamu lihat istri pertama kamu itu" ucap luna manja ke leon.


melihat itu anissa hanya tersenyum sinis. namu percakapan mereka pun tiba2 berhenti karna pintu ruangan mereka dibuka dengan kerasnya dan mucul seorang wanita dan juga pria yang berjalan mendekati mereka sambil ngos ngosan.


"tika, dokter alex kalian kok ngos ngosan kayak gitu?" tanya anissa binggung.


"lho gak apa2 kan? apa kedua bajingan ini menggangu lho?" ucap tika sambil mengontrol napasnya.


"kak anissa gak papa kan?" ucap alex duduk di sofa.


mendengar sebutan kakak tika pun menatap alex dan juga anissa bergantian dan mulai mendekati anissa.


"sejak kapan dokter alex jadi adik lho?" bisik tika pelan agar yang di bicarakan tidak mendengarnya. anissa pun hanya mengangkat kedua bahunya.


"sayang bisa kita bicara sebentar?" ucap leon.


"mau bicara apa rupanya?" bentak anissa.


"bisa kalian keluar sebentar?" ucap leon sambil melihat ketiga alex dan tika.

__ADS_1


"jika pelakor ini bisa di sini gapain kau suruh kami keluar?" bentak tika geram.


"ya, jika dia aja tidak kau suruh keluar maka mereka pun akan tetap di sini" ucap anissa tegas.


"sayang kamu keluar sebentar ya" ucap leon membujuk luna.


"sayang aku mau disini, masak kamu tega nyuruh aku yang sedang hamil kek gini nunggu sendirian di luar" ucap luna dengan manjanya lalu tersenyum sinis ke anissa.


bagai tersambar petir mendengar bahwa suaminya akan memiliki anak dari wanita lain. anissa pun mencoba untuk tegar dan berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.


leon pun mendekati anissa lalu menggengam kedua tangannya dengan erat lalu menatap mata anissa dengan lekat.


"sayang abang hanya mau mengatakan jika aku sudah menikah sirih dengan luna sejak setahun lalu dan sekarang luna sedang menggandung anak abang, abang harap sayang bisa menerima ke hadiran luna di pernikahan kita abang janji akan bersikap adil kepada kalian berdua" ucap leon lirih sambil menatap mata anissa penuh harap.


" adil abang bilang apa abang sadar jika selama ini abang tidak pernah adil kepadaku. abang terus saja bersama wanita laknat itu sampai gak ada lagi waktu untukku dan juga anakku." bentak anissa lirih tanpa sadar air mata ya pun tak terbendung lagi sehingga membasahi pipinya dengan derasnya.


"sayang dengar istri tua mu ini dia terus aja menghinaku aku tidak terima sayang. kalau dia tidak bisa menerimaku dan menghormatiku sebagai istri muda mu lebih baik sayang lupakan saja aku dan calon anak kita" ucap luna sambil menangis lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu.


"terima atau tidak terima luna akan tetap menjadi istri ku jadi aku harap kamu bisa menghormati istri mudaku dan juga calon anakku" ucap leon dengan tegasnya ke anissa lalu membawa luna keluar dari ruangan itu.


belum sempat keluar dari ruangan anissa tiba2 pintu ruangan itu dibuka oleh pria berjas dan berpakaian rapi dan di belakangya berdiri seorang pria tampan dan juga gagah sambil menggendong anak.


leon hanya menatap pria itu dengan tajam


"untuk apa anda di sini terus gapain anda mengendong anak saya seperti itu?" ucap leon dengan dinginnya. hendak zidan menjawab namun di halangi oleh rayhan.


"terserah saya ini kan tempat umum jadi anda tidak ada hak untuk mengatur siapa saja yang boleh kesini. untuk anak anda tanyakan saja sendiri apakah dia mau digendong oleh anda" ucap rayhan tak kalah dingin lalu menatap wanita yang terus saja menempel kepada lawan bicaranya itu.


"sayang sudah lah ini sudah waktunya aku cek kandungan tadi" ucap luna dengan manja lalu menatap anissa lalu tersenyum sinis.


"ia sayang" ucap leon lalu berjalan melewati rayhan.


anissa hanya bisa menatap punggung suaminya itu hingga tidak lagi terlihat. melihat kedua orang itu telah pergi rayhan pun mendekati anissa lalu menyerahkan brayen ke tika.

__ADS_1


"kamu tidak apa2?" ucap rayhan tersenyum ke anissa. anissa pun hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus ait matanya.


melihat kesedihan anissa rayhan pun duduk di tepi bangsal anissa lalu membawa tubuh anissa ke pelukannya. merasa terharu akan perhatian rayhan anissa pun menangis di pelukan rayhan hingga jas dan kemeja rayhan basah terkena air matanya.


"aku tau kamu butuh tempat untuk bersandar jadi menangislah sepuas mu hingga tak ada lagi beban di dalam hatimu" ucap rayhan sambil menguatkan pelukannya.


"ma, mama jangan nangis terus nanti mama gak bisa sembuh ma, brayen janji akan belajar lebih giat lagi supaya bisa jadi pengusaha yang sukses ma, agar brayen bisa memberikan apa pun yang mama mau tanpa bergantung sama ayah lagi" ucap brayen sambil menangis mendekati mamanya.


mendengar ucapan brayen rayhan pun melepaskan pelukannya. anissa pun membawa tubuh munggil anaknya itu kepelukannya.


"ia sayang mama janji gak akan nangis lagi mama akan lebih kuat lagi demi kamu sayang" ucap anissa sambil mengecupi kening putranya.


meliahat itu semua orang yang berada disitu pun sangat terharu akan kekuatan cinta anak dan ibu itu. rayhan pun mengelus rambut lebat brayen.


"paman janji akan membantumu sayang" ucap rayhan. brayen pun melepas pelukan anissa dan menatap rayhan.


"paman apa paman mau membantuku?" ucap brayen dengan tatapan serius ke rayhan.


"ia sayang paman akan selalu membantumu, memang kamu mau bantuan ap dari paman?" ucap rayhan tersenyum.


" apa paman mau membantu mama untuk pisah sama ayah?" ucap brayen dengan tatapan memohon.


mendengar ucapan brayen semua orang pun terkejut tak kalah dengan rayhan dan anissa.


"sayang kok ngomong kayak gitu sama paman?" anissa.


" ma walaupun brayen masih kecil tapi brayen tau kalau mama gak bahagia sama ayah. apalagi melihat perempuan yang terus sama ayah" ucap brayen lirih.


anissa dan rayhan pun hanya bisa diam tak bisa menjawab ucapan brayen. lain halnya dengan alex dan zidan mereka saling menatap dan tersenyum tak lupa mereka juga menatap ke arah rayhan sambil mengangkat kedua jempolnya.


melihat tingkah kedua orang itu rayhan hanya mampu mengeleng gelengkan kepalanya.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2