Penghianatan Terdalam

Penghianatan Terdalam
part 62


__ADS_3

"maaf di mana suaminya" ucap dokter yang menangani luna.


"saya suaminya" ucap leon masih ngos ngosan bersama dion karna harus berlari.


"kalau begitu ikut saya. istri anda ingin bertemu. yang lainnya silahkan tunggu di luar" ucap doter membawa leon ke dalam ruang persalinan.


terlihat anissa duduk sambil meremas tanggannya. melihat menantu kesayangannya terlihat hawatir maya mencoba mendekatinya.


"sayang kamu tidak usah hawatir seperti itu. semua pasti baik baik saja" ucap maya lembut menenangkan menantu kesayangannya itu.


dion hanya duduk terdiam menghawatirkan keadaan adik sepupunya rayhan yang duduk di sampingnya mencoba memberi kekuatan untuknya.


sedangkan alex hanya diam menunggu sambil menemani brayen karna persalinan bukan ahlinya. sedangkan bram harus kembali ke pekerjaannya karna di juga memiliki banyak pasien yang mengantri.


sedangkan luna masih merintih kesakitan tapi leon tetap setia menemaninya dan mencoba memberi kekuatan untuk luna.


"sayang kamu harus kuat demi anak kita" ucap leon mengengam kuat tanggan istrinya yang sudah melemah.


" sayang maafkan aku.. maafkan aku karna pernah mau mencelakai brayen anak kita" ucap luna lirih.


"sudah sayang yang penting sekarang kamu mau berubah jadi lebih baik lagi" ucap leon tersenyum sambil mengelus lembut rambut sang istri.


"ayo nyonya kepala bayinya sudah terlihat ikuti intruksi saya coba tarik napar buang pelan pelan" dokter


luna pun mencoba mengikuti perintah dokter yang menanganinya.


"*terus ulangi nah.. sekarang dorong kuat kuat" dokter.


"aahhh*..." teriak luna sambil mengangkat pungungnya kuat kuat


"oe oe.." suara tangis bayi munggil itu pun mengema diruangan itu.


membuat semua orang yang di sana merasa sangat lega. leon yang merasa gembira melihat kehadiran sang buah hati tak henti henti mengucap syukur.


luna tak sengaja meneteskan air matanya dia sadar jika perjuangan seorang ibu sangatlah kuat. dari situ dia mulai sadar kenapa anissa begitu marah kepadanya sampai2 mengirimnya ke jeruji besi karna pernah mencelakai putranya brayen.


"selamat tuan putri anda terlahir sehat dan sangat cantik seperti ibunya" ucap dokter menyerahkan bayi leon.


leon langsung mengadzani putrinya. hingga suara adzan yang begitu merdu mengema di ruangan itu.

__ADS_1


setelah selesai dokter yang menangani luna langsung keluar. masih di ambang pintu langkah dokter itu langsung terhenti.


"bagaimana keadaan mereka dok" ucap anissa langsung menyosor ketika melihat dokter yang menangani luna keluar dari pintu.


"bayi dan ibunya selamat. bayinya terlahir sehat dan juga sangat cantik" ucap dokter ramah.


"apa saya boleh melihatnya" ucap anissa gembira.


"maaf nona muda sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat baru boleh anda melihatnya" jelas dokter.


"oh. kalau begitu baiklah" anissa tersenyum.


" kalau begitu saya permisi ya nona" ucap dokter itu pamit undurkan diri.


setelah kepergian dokter itu anissa langsung memeluk suaminya dengan gembira.


"kamu gembira sekali sayang" ucap rayhan aneh melihat sikap istrinya yang sangat merasa gembira atas kelahiran anak dari mantan suaminya bersama wanita yang sempat menjadi madu anissa.


" aku gembira karna akhirnya leon juga mendapatkan kebahagiannya dengan luna. aku yakin setelah kelahiran anak mereka leon pasti bisa melupakan aku dan bahagia bersama keluarga barunya. sama seperti aku yang sudah bahagia bersamamu" ucap anissa tersenyum.


mendengar ucapan anissa semua orang yang disana merasa sangat tersentuh. walaupun leon dan luna pernah menyakitinya tapi anissa tidak ada merasa dendam sedikitpun.dia tetap memikirkan kebahagian leon dan luna.


"tidak apa apa kak. aku sudah memaafkan mereka sedari duli. karna mereka aku bisa mendapatkan kebahagian yang berlimpa limpa dan juga suami yang sangat mencintai aku" ucap anissa sambil menatap kagum wajah suaminya.


mendengar ungkapan sag istri rayhan langsung tersenyum lalu membelai lembut wajah istrinya.


" aku yang beruntung karna mendapatkan istri sebaik kamu" ucap rayhan tulus.


alex dan maya hanya bisa tersenyum bahagia melihat pasangan sejoli itu yang saling melengkapi satu sama lain.


di kamar rawat luna.


setelah luna di pindahkan ke ruang rawat. mereka semua langsung menemui luna. anissa yang sangat gembira mengendong bayi mungil itu sambil sesekali menciuminya gemas.


"apa kamu sudah memberinya nama?" ucap robert yang sudah datang karna mendengar luna telah malahirkan dari anissa.


"ia nak apa kamu sudah memberinya nama?" sambung juli.


"sudah ma aku mau memberinya nama angellia larasati pangilannya angel" ucap leon menatap anissa.

__ADS_1


"ada apa?" ucap anissa binggung melihat tatapan leon.


" apa boleh aku memakai nama belakangmu untuk putriku?" ucap leon meminta ijin.


"oh boleh saja tidak masalah. ia kan sayang?" ucap anissa sambil menoel pipi gembul engel.


karna terlalu sering di ganggu oleh anissa, angel yang merasa terusik langsung menangis. melihat angel yang menangis karna ulahnya anissa langsung menyerahkannya ke alex.


alex yang tidak tau bagaimana cara menenagkan angel langsung binggung.


"kok kakak kasi sama aku" ucap alex mendiamkan angel yang menangis di dalam ngendongannya.


bukannya yang merasa bersalah bersalah anissa malah cengegesan lalu berlari ke arah suaminya mencari perlindungan.


robert dan juli hanya geleng geleng kepala sambil tertawa kecil melihat tingkah mantan menantunya itu. sedangkan maya langsung mengambil angel dari gendongan alex.


"sini biar mama gendong" ucap maya sambil mengambil botol susu yang sudah di buat alex.


sedangkan brayen hanya diam tanpa ekspresi di samping dion. melihat keponakannya hanya diam tanpa kata alex mencoba mendekati keponakannya itu.


"jagoan paman ini kok diam saja" ucap alex menoel hidung mancung brayen.


"tidak apa apa paman" ucap brayen datar.


" apa kamu tidak senang sudah memiliki adik bayi seperti yang kamu inginkan?" alex.


" maaf paman adikku cuman yang terlahir dari perut mamaku" ucap brayen melipat kedua tanggannya lalu membuang wajahnya.


mendengar ucapan brayen leon langsung menatap luna dan anissa bergantian. anissa yang paham akan sikap brayen mencoba memberi pengertian kepada putranya itu.


" sayang, engel juga adikmu sama seperti adikmu yang masih ada di dalam perut mama. walaupun kamu beda ibu dengannya. sama seperti adik yang ada di dalam perut mama yang beda ayah denganmu" ucap anissa lembut berharap putranya itu mengerti dan menerima kehadiran adik tirinya itu.


"tapi ma. tante itu jahat sama mama dia menyakiti mama. bahkan dia melakukan hal yang paling aku benci yaitu membuat mama menangis" ucap brayen lirih tak mampu lagi membendung air matanya.


melihat si buah hatinya menangis anissa tak mampu lagi berkata kata dia langsung menghapus air mata brayen dengan kedua ibu jarinya lalu membawa tubuh munggil itu kedalam pelukannya.


leon hanya mampu menatap brayen dengan mata berkaca kaca. dia menyadari kelakuannya yang menyakiti hati putranya itu. jadi wajar saja jika brayen belum bisa menerima kenyataan.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2