
di ruangan anissa robert dan keluarga sangat sedih melihat menantu mereka terbaring lemah di bangsal rumah sakit dengan kepala yang masih di perban dan selang imfus yang masih setia menemaninya.
"tika apa anissa sudah lama tidurnya?" ucap juli membendekati anissa yang tertidur lelap.
"baru saja tante setelah dia minum obat tadi langsung dia tertidur" ucap tika ramah.
melihat cucunya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv bram pun menghampiri anak itu dan memeluknya.
"jagoan kakek" ucap bram sambil mencium kening brayen penuh haru menggingat kejadian tadi.
"kek brayen benci sama ayah, ayah jahat sama mama" ucap brayen.
mendengar ucapan brayen lia dan juli pun langsung mendekatinya. mereka pun mencoba menenangkan brayen mereka melihat ada amarah yang begitu besar di mata brayen.
"lia coba kamu bawa brayen untuk keluar dulu" ucap juli lalu menatap tika.
"baik ma" lia dan brayen pun keluar dari rungan itu. setelah memastikan lia dan brayen telah pergi juli pun menyuruh tika untuk duduk di sampingnya tanpa banyak tanya tika pun menurutinya.
"sebenarnya apa yang terjadi kepada anissa? tolong ceritakan semuanya kepada kami tik" ucap juli sambil menatap tika penuh permohonan.
tanpa banyak pikir tika pun menceritakan semua yang menimpa anissa. karna dia tau jika mereka juga harus tau apa saja yang telah di lakukan leon kepada anissa.
tika menceritakan semuanya mulai dari kejadian anissa menangkap basah leon dan luna yang sedang bermesraan dan juga tentang kecelakaan anissa dengan rayhan hingga rayhan mengurus dan merawat anissa dan brayen selama di rumah sakit. tak lupa juga dia menceritakan kejadian dimana leon datang bersama luna dan memberitau anissa jika luna sekarang sedang menggandung anak leon.
mendenggar semuanya robert pun mengepalkan kedua tanggannya penuh amarah. sedangkan juli hanya mampu menanggis meratapi nasib menantunya itu.
"kurang ajar leon beraninya dia menggatakan hal yang menyakiti menantuku di saat menantuku sedang sakit seperti ini" ucap robert penuh amarah
namun percakapan mereka berhenti melihat sosok pria berjas lengkap masuk ke ruanggan anissa. robert dan juli pun hanya mampu menatap pria itu penuh tanya.
"om tante dia adalah tuan rayhan. orang yang sudah merawat anissa dan brayen selama di rumah sakit" jelas tika.
mendengar itu robert dan juli pun berdiri lalu menyuruh rayhan untuk duduk di sofa yang sedang mereka duduki.
__ADS_1
"nak rayhan terimakasi banyak karna sudah merawat menantu dan cucu kami beberapa hari ini" ucap robert dengan ramahnya.
"ia sama2 om lagi pula kan udah tanggung jawab kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong" rayhan dengan ramahnya.
mereka pun saling bercerita satu sama lain tak lupa rayhan juga memberanikan diri untuk mengatakan kepada robert dan juga juli tentang apa yang di minta brayen kepadanya. mendengar itu robert dan juli pun sanggat terkejut akan permintaan cucunya itu.
"saya tidak berani melakukan itu sendiri tanpa persetujuan dari kalian dan juga anissa" ucap rayhan menunduk.
bram pun memengang pundak rayhan refleks rayhan pun menatap pria paru baya yang duduk di sampingnya itu.
"kalau masalah itu kami serahkan semuanya ke anissa. apa pun keputusanya kami akan menerimanya dengan lapang dada. dia juga berhak untuk bahagia anak kami leon sudah menghianatinya dengan begitu dalamnya" ucap robert tak sanggup lagi membendung air matanya.
dia menggingat begitu besar pengorbanan anissa ke putranya. dari mereka tak punya apa2 sampai sekarang mereka sudah punya segalanya. tapi di saat mereka sudah memiliki segalanya leon malah menghianati dan juga menyakiti anissa.
mendengar mereka berbicara anissa yang terusik tidurnya pun mencoba membuka kelopak matanya. alahkah terkejutnya dia melihat papa dan mama mertuanya sedang menanggis.
"pa ma" ucap anissa lirih
melihat anissa telah banggun robert dan juli pun menghapiri anissa lalu keduanya memeluknya dangan erat. mereka pun menangis dalam pelukan masing2 menumpahkan segala kesedihan yang mereka alami. mereka tak menyangka jika harta yang sekarang mereka miliki akan memberikan penderitaan yang sangat dalam kepada menantu dan juga cucu mereka.
"ternyata tuan mudamu yang penuh pesona itu bisa nangis juga ya" ucap alex ke zidan sambil tersenyum namun zidan hanya menjawabnya dengan senyuman sambil menggelengkan kepalanya.
"selamat siang om, tante saya periksa pasiennya dulu ya" ucap alex memecahkan suasana haru tersebut.
sadar kedatangan sekertaris dan juga adiknya itu rayhan pun menghapus air matanya dan kembali menunjukkan gaya coolnya.
"tuan ini baju gantinya" ucap zidan menyerah kan baju ganti rayhan.
tanpa banyak kata rayhan pun menerinanya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. sadar dokter yang memeriksa anissa telah datang dua sejoli itu pun memberi ruang untuk alex memeriksa anissa. alex pun memeriksa keadaan anissa dengan teliti.
"*bagaimana dengan kondisi menantu saya dok?" robert.
"menantu bapak sudah agak mendingan , dengan istirahat yang cukup dan juga tidak terlalu banyak pikiran saya kira 2 atau 3 hari ini pasien sudah bisa pulang*" jelas alex dengan ramah. mereka pum hanya mengangguk mengerti.
__ADS_1
alex pun berbincang bincang akan keadaan anissa. alex menjelaskan agar tidak terlalu memaksa anissa akan hubungannya dengan leon. mengingat semenjak kedatangan leon anissa lebih banyak diam dan jarang sekali membuka suaranya baik itu dengan tika sahabatnya sendiri. alex takut jika terlalu di paksakan anissa akan jadi stres dan akan merusak saraf otaknya.
setelah beberapa menit membersikan diri di kamar mandi rayhan pun keluar dengan tampilan rambut yang masih basah dan di biarkan acak2kan membuat pesonanya lebih terlihat dan setiap wanita yang melihatnya akan terhipnotis.
"om tante jika kalian lelah kalian boleh pulang biar anissa saya yang jaga lagian kasihan brayen beberapa hari ini harus tidur di sini" ucap rayhan pelan.
robert dan juli pun mengerti akan perkataan rayhan kasihan brayen beberapa hari ini dia tidur dengan tidak nyaman di rumah sakit dan besok brayen juga harus ke sekolah.
"yaudah nak rayhan , nak tika tante titip anissa ya" ucap juli menatap tika dan rayhan bergantian
"baik tante, tapi brayen di manaya kok dari tadi saya tak melihatnya?" ucap rayhan.
"brayen sedang di bawa bibinya keluar" jelas robert rayhan pun hanya mengangguk mengerti.
robert dan juli pun meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan dengan anissa dan di ikuti oleh alex dan juga tika. mengingat alex sudah selesai melakukan tugasnya sedangkan tika harus bekerja mengingat dia bekerja di sip malam.
tak mau menggangu tuan mudanya zidan pun kembali ke rumahnya membiarkan tuan mudanya agar berduaan dengan anissa. tak lama seorang suster pun membawa mampan berisi makanaan dan obat untuk anissa.
"mau saya suapin?" ucap rayhan sambil menerima mampan itu. namun hanya di jawan anggukan oleh anissa.
selesai memberikam makan malam kepada anissa suster itu pun langsung keluar meninggalkan mereka berdua. melihat suster itu telah pergi meninggalkan ruangan itu rayhan pun menyuapi anissa dengan begitu lembutnya dan sesekali membantu anissa untuk minum.
setelah bubur di mangkok itu habisa rayhan pun mengelap bibir anissa dengan sapu tangannya. walaupun tidak ada bekas bubur disana namun rayhan hanya mencari kesempatan untuk menyentuh bibir itu.
setelah itu rayhan pun meraih obat yang di beri suster tadi lalu membantu anissa untuk meminumnya.
"terimakasih" ucap anissa membuka suara.
"sama sama" ucap rayhan tersenyum.
anissa pun kembali membaringkan tubuhnya di bantu oleh rayhan. lalu rayhan menyelimuti tubuh anissa yang masih lemah.
"selamat malam" ucap rayhan lagi dengan senyumannya. namun hanya di jawab dengan senyuman oleh anissa.
__ADS_1
rayhan pun berjalan mendedekati bangsalnya dengan senangnya karna melihat senyuman anisa kembali. ia pun membaringkan tubuhnya di bangsal itu dengan menatap lekat anissa yang sudah memejamkan matanya.puas menatap wajah cantik anissa rayhan pun memejamkan mata nya dan mulai larut dalam pimpinya.
bersambung....