
setelah dinyatakan sembuh dan di izinkan pulang oleh dokter juli dan robert pun membawa anissa ke kediamanya. setelah sampai di rumah lia pun membawa anissa ke kamar yang dulunya di tempati anissa bersama leon.
sesampainya di kamar anissa menatap lekat seluruh sudut kamarnya yang sekarang telah berubah. sepertinya sudah di rombak oleh juli dan juga lia. anissa melirik satu persatu barang yang ada di sana semua sudah di ganti bahkan foto pernikahannya yang di ganting di dindding pun sudah tidak ada lagi.
"kakak gak usah binggung aku telah menyimpan semua barang2 kak leon termasuk foto pernikahan kalian. lia tau bagaimana perasaan kakak jadi lia tidak mau jika melihat barang kak leon kakak akan mengingat penghianatan kak leon terhadap kakak" jelas lia.
anissa hanya menatap lekat wajah lia berkaca kaca. anissa sanggat bersyukur walaupu sudah mengajukan cerai ke pengadilan agama tapi adik iparnya beserta kedua mertuanya itu masih memperlakukannya dengan baik. bahkan mereka memperlakukan anissa seperti putri kandung mereka sediri.
setelah selesai menatap seluruh ruangan anissa pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. anissa berendam begitu lamanya untuk merileleks kan pikirannya dan juga menghilangkan penat.
setelah selesai mempersihkan diri tak sengaja anissa melihat mukena dan sajadah yang terlipat rapi di samping al-qur'an. anissa pun menggingat sudah sangat lama dia tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
anissa pun pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk melakukan sholat isya. anissa sholat dengan begitu khusyuknya hingha tak terasa air matanya berderai di sujud terakhirnya.
setelah selesai melakukan sholat anissa pun mengangkat kedua tanggannya untuk meminta ampun kepada penciptanya karna sudah lalai dalam mengerjakan kewajibanya sebagai seorang muslim.
mendengar anissa menanggis dalam doanya brayen pun mendekati anissa.
"ma, mama jangan nangis lagi" ucap brayen mengusap air mata anissa.
anissa pun menatap lekat wajah putranya itu lalu anissa membawa tubuh munggil putranya itu kedalam pelukanya.
"ma... apa mama mau mengujudkan permintaan brayen?" brayen.
"memang brayen mau minta apa sama mama?" ucap anissa binggung.
"apa mama mau menutup rambut mama? karna pam ustadz di pengajian nenek haritu mengatakan jika wanita harus menutup seluruh auratnya dan seorang pria harus menundukkan pandangannya ma" ucap brayen dengan polosnya.
anissa pun tersenyum bahagia mendenggar ucapan putranya itu. walaupun masih sangat kecil tapi brayen sangat bijak untuk menanggapi semua masalah dan juga sanggat menyayangi anissa. anissa bahagia melihat tingkah putranya itu anissa yakin jika besar nanti brayen akan tumbuh menjadi pria yang sholeh dan juga menghormati seorang wanita.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
di kantor rayhan terlihat rayhan begitu sibuk dengan semua dokumen yang menumpuk di mejanya. rayhan membaca satu persatu dokumen itu dengan sangat teliti dan membubuhinya dengan coretan tanda tangannya.
hingga tiba2 zidan membuka pintunya dengan tergesa gesa dan serta senyuman yang menyeringai di wajah tampanya. melihat kelakuan sekertarisnya yang aneh rayhan hanya bisa menatapnya binggung.
"tuan muda ada berita sangat bagus untuk anda hari ini" ucap zidan tersenyum.
"berita apa? apa surat keputusan cerai anissa telah selesai" rayhan.
" aku baru dapat kabar dari nona anissa jika dia ingin melamar kerja ini kantor ini. saya rasa sebentar lagi dia akan sampai tuan:" zidan.
mendengar itu rayhan pun tersenyum lebar dan berdiri dari duduknya.
"kalau begitu saya sendiri yang akan manjemput bidadariku itu, kau bersihkan saja meja ku itu" ucap rayhan lalu meninggalkan zidan sendiri di ruanganya.
seluruh karyawan wanita yang melihat bos besarnya itu pun menatap rayhan dengan penuh kegaguman. hingga tiba di pintu utama langkah rayhan pun tiba2 terhenti.rayhan menatap seorang wanita yang berjalan mendekati kantornya dengan penuh ke kaguman.
menggenakan baju gamis berwarna coklat muda denggan jilbab pasmina panjang yang senada dengan baju gamisnya melingkar indah menutupi rambutnya. membuat wajah anissa lebih terlihat cerah mempesona dan juga aura kecantikannya semakit tepancar membuat orang yang melihatnya akan terpesona.
"assalamwallaukum tuan, saya sudah memberitau sekertaris anda jika saya mau melamar kerja di sini" ucap anissa menyadarkan rayhan.
"wa..wallaikumsallam, ikut saya ke ruangan saya" ucap rayhan lalu berjalan diikuti anissa dari belakang.
mereka pun berjalan beriringan membuat para karyawan yang ada di sana menatap mereka dengan penuh tanda tanya. ada yang berbisik bisik memuji kecantikan anissa dan ada juga yang menjelekkan anissa karna pakaian syariinya.
sesampainya di ruangan rayhan pun duduk di bangku kuasanya lalu mempersilahkan anissa untuk duduk di bangku yang sudah ia sediakan. rayhan pun menoleh ke arah zidan yang mesih berdiri mematung menatap anissa.
"ehem" dehem rayhan menyadarkan zidan.
__ADS_1
kaget akan deheman rayhan zidan pun tersadar lalu menyodorkan berkas yang di berikan anissa ke rayhan. rayhan pun membaca dengan teliti berkas anissa sambil melirik ke arah anissa tersenyum.
"melihat dari semua nilai kamu saya rasa kamu cocok di bagian staf kantor ini. kamu boleh bekerja mulai hari ini. dan saya harap kamu bisa bekerja dengan profesional. satu lagi sekertaris saya akan menberitahumu apa saja tugasmu menjadi staf kantor ini" jelas rayhan panjang lebar.
setelah berpamitan kepada bos barunya itu anissa pun keluar dari ruangan itu. setelah memastikan anissa sudah pergi zidan pun mendekati rayhan.
"tuan, saya rasa anda akan semakin sulit untuk mendekati nona anissa" zidan.
"tidak ada yang sulit di dunia ini jika kita sudah bertekat untuk mendapatkannya. melihat dari perubahannya sekarang saya juga akan menggubah cara saya untuk menjadikannya halal untukku" ucap rayhan tersenyum. zidan pun hanya bisa diam tanpa bisa berkata kata lagi, karna dia tau bagaimana sifat tuan mudanya itu.
"bagaimana kak? kakak keterima kan," ucap lia mendekati anissa setelah melihat anissa keluar dari ruangan CEOnya itu.
"ia tik kakak keterima jadi staf kantor ini, kakak juga sudah bekerja mulai hari ini" ucap anissa tersenyum.
"selamat ya kak" ucap lia memeluk anissa.
tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dan mulai mendekat ke arah mereka.
"anissa? kamu anissa kan?" ucap sarah.
"ia saya anissa, tapi maaf kakak ini siapa ya?" ucap anissa binggung.
"saya sarah mantan leon" ucap sarah terkekeh mengingat kejadian 6 tahun lalu.
"oo.. kak sarah, kakak juga bekerja di sini?" ucap anissa.
belum sempat menjawab tiba2 zidan datang membubarkan obrolan mereka.zidan pun membawa anissa ke bagian staf kantor. zidan mengajari anissa denggan sangat baik tentang apa saja yang di lakukan anissa selama menjadi staf di kantor itu.
bersambung...
__ADS_1