
Pertemuan di rumah pak RT pun berakhir setelah berbincang-bincang sebentar para tamu pun semua pamit tuk pulang dan para tamu tersebut saling berjabat tangan dengan pak RT selaku tuan rumah.
"Mba maaf surat perjanjian yang asli saya bawa tuk saya fotocopy dulu dan besok pagi saya akan mampir ke rumah mba tuk beri salinannya ke mba tuk di simpan" kata om adit kepada ibu ketika mereka masih berada di halaman rumah pak RT. Ya mereka berempat,ibu,abah,om adit dan tante letha berjalan bersama beriringan sedangkan jeng erna dan suaminya sudah keluar rumah pak RT duluan mungkin masih tidak enak atau merasa canggung dengan adanya masalah ini.
__ADS_1
"Iya sesempetnya kamu aja dit" jawab ibu
"saya sempat ko mba besok lagipula kan masih ada satu Masalah lagi yang belum selesai, saya juga mau minta tolong lagi ke mba tuk ke kantor polisi menjelaskan ke polisi tuk tidak melanjutkan kasus ini biar satrio bisa keluar dari kantor polisi mba" pinta om adit mengharap.
__ADS_1
"Baiklah tapi bisa tidak besok pagi kita ke kantor polisinya soalnya saya mau saya sudah ada di rumah ketika anak-anak pulang sekolah" kata ibu.
"Aku gak papah sendiri ko bah lagipula aku sama adit, kamu kerja aja gak usaha khawatirkan aku. Ok dit besok pagi saya tunggu di rumah ya" ucap ibu yang tahu kalau suaminya itu sangat khawatir dengan nya, ya karena masalah ini hubungan abah dan ibu malah menjadi lebih dekat seperti baru menikah.
__ADS_1
Om adit membalas perkataan ibu dengan menganggukkan kepalanya dan mereka melangkahkan kaki tuk keluar dari halaman rumah pak RT, terlihat di depan gerbang jeng erna dan suaminya sedang menunggu sang adik di samping mobil om adit yang terparkir di sana. Sesampainya di depan gerbang "mba ikut kami ya biar kami antar ke rumah" ucap tante letha mengharapkan kata iya dari ibu kemudian ibu melihat jeng erna yang sedang berdiri di samping mobil, tatapan ibu terlihat sangat dingin.
"Terimakasih letha tapi biar mba dan mas mu ini jalan kaki saja lagipula jarak rumah kami dekat ko" jawab ibu dengan lembut agar tante letha tidak kecewa karena ibu menolak ajakan nya itu. Tante letha tampak sedih karena ibu menolak tuk di antar olehnya, melihat wajah istrinya itu om adit lalu berbisik di telinga istrinya itu "sayang,,mba mirna tidak mau ikut kita karena ada kak erna kamu mau ada perang dunia ketiga di dalam mobil kita" menyadari apa yang suaminya katakan itu Tante letha mengerti dengan tatapan mba nya itu ketika menatap kakak iparnya ya tampak kekecewaan dan amarah di tatapan mba nya itu iya dari sudut manapun luka yang di torehkan itu sangat dalam walau sudah kering tapi meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang sampai kapan pun apalagi yang buat luka itu orang dekat yang sudah sangat di kenalnya. Rasa kecewa,sakit hati dan amarah jadi satu utuh waktu yang lama tuk meredam nya dan karena luka itu tidak akan kembali seperti sedia kala sisa-sisa luka itu akan selalu ada.
__ADS_1