
Tampak seorang pria keluar dari sel yang sudah di buka oleh salah satu polisi penjaga ya pria tersebut adalah Satrio. Dia mengikuti langkah polisi yang di depannya menuju salah satu ruangan yang berbeda dengan ruangan dia bermalam beberapa hari ini ooh bukan beberapa tapi dua minggu lebih, satrio masuk ke dalam ruangan pak Gatot yang sudah di sambut oleh pak Surya dan kakak kandungnya Om Adit.
"Satrio beruntung sekali kau karena korban tidak melanjutkan kasusnya ini ke meja hijau, setelah keluar nanti saya harap kamu tidak berbuat ulah lagi dengan mencelakai orang lain. " ucap pak Gatot.
"Saya gak bisa janji pak" jawab Satrio dengan enteng nya. Pak Surya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tio, kamu gak boleh seperti itu seharusnya kamu dengar apa yang pak Gatot ucapkan jaga sopan santun kamu dan kalau kamu berbuat ulah lagi hingga berurusan dengan polisi lagi walau aku kakak kandung mu, aku tidak akan membantu mu lagi dan ini yang terakhir kalinya aku membantumu demi ayah" kata om Adit sedikit kesal.
Pak Gatot dan pak Surya hanya bisa menyaksikan saja perdebatan antara kakak dan adik itu terkadang pak Gatot gak habis pikir kenapa Satrio begitu arogan, pemarah dan mudah emosi karena Satrio juga terkenal perusuh dan sering berkelahi dengan penghuni sel lainnya.
"Ini barang-barang mu Satrio dan saya mohon dengan sangat kamu tidak kembali lagi ke sini" ucap pak Gatot sambil menyerahkan barang-barang milik Satrio.
__ADS_1
Satrio langsung mengambil barang-barang nya dengan cepat tanpa mengucapkan apa pun hingga membuat om Adit memegang kepalanya yang tidak pusing itu.
"Gue tunggu di luar dit, gue dah sumpek di sini" kata Satrio yang di tujukan kepada kakaknya itu, yang membuat pak Surya dan pak Gatot heran karena Satrio tidak memanggil Adit dengan sebutan kakak atau Abang tapi hanya namanya saja.
"Maafkan perlakuan dan perkataan adik saya itu pak, dia memang seperti itu bukan sekali dua kali bahkan ratusan dan ribuan kali di beritahu tetap saja seperti itu bahkan ayah saya saja sebenarnya sudah tidak sanggup dengan perkataan dan tingkah lakunya itu" ucap om Adit menjelaskan sifat adiknya itu.
"Gak masalah pak Adit, saya sudah biasa menghadapi orang-orang seperti Satrio itu" jawab pak Gatot yang memaklumi.
"Semoga saja Satrio jera dan bisa berubah lebih baik lagi" batin pak Gatot sambil melihat punggung kedua pria itu menjauh dari ruangannya tersebut.
Di luar ibu tampak sedang berdiri di depan pintu kantor polisi menunggu om Adit keluar namun ibu nampak terkejut dengan keberadaan sosok yang sudah ada di sampingnya, ibu hanya diam seribu bahasa terasa sesak seakan nafasnya berhenti, kaki dan badannya terasa kaku sulit di gerakan.
__ADS_1
Ibu berdiri seperti patung dia sangat tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi.
"Akhirnya gue bisa hirup udara bebas ini gak kaya di dalan pengap, mau nafas aja rebutan" ucap pria itu yang tak lain adalah Satrio.
Ibu hanya bisa menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, di dalam hatinya ia berharap om Adit atau pak Surya cepat keluar dan menolong nya dari situasi saat ini.
Beruntung saja apa yang ibu harapkan terjadi, pak Surya dan om Adit telah keluar.
"Pak Adit, saya permisi lebih dahulu karena saya sudah di tunggu klien yang lain" ucap pak Surya meminta ijin pada om Adit.
"Silahkan kalau begitu nanti saya akan hubungi bapak lagi nanti" kata om Adit sambil menjabat tangan pak Surya.
__ADS_1
"Mari Bu Mirna, Satrio" kata pak Surya sambil berlalu pergi. Mendengar nama Mirna di sebut oleh pak Surya tiba-tiba Satrio menolehkan kepalanya ke samping, tepat di sebelah kirinya Bu Mirna ada di sebelahnya yang dia sadari ternyata sosok perempuan itu ada di sebelahnya dari tadi.