
Denis mendapatkan telepon dari ibunya untuk bertemu karena membahas masalahnya dengan Laras. Terpaksa janjian untuk makan malam dengan Naomi, harus di tunda. Naomi merasa sangat kesal, karena Naomi sudah memesan meja untuk makan malam mereka. Namun semuanya rencana itu di tunda sementara karena Denis harus menemui ibunya. Saat tengah menelepon Naomi membahas tentang rencana makan malam mereka, ibu Denis datang dengan melempar sayuran kepada Denis. Ibu Denis marah karena Denis disaat seperti ini masih saja memikirkan Naomi. Melihat ibunya, Denis mematikan teleponnya dengan Naomi dan menemui ibunya.
" Ada apa si Bu?" Tanya Denis yang kesal karena harus bertemu dengan ibunya malam, padahal dia sudah ada janjian makan malam bersama Naomi.
" Pake tanya lagi, bisa tidak kamu tidak membuat ibu marah! Berhenti untuk menghubungi Naomi!" Ucap Lidia.
" Ibu! Kenapa bahas Naomi sih! Bukannya ibu sendiri sudah menerima uang dari Naomi." Ucap Denis.
" Untuk sementara waktu, ini tentang masalah mu dengan Laras. Kamu ini bodoh ya! Bisakah kamu tidak bertengkar dengan Laras, hm?"
" Ibu, sikap Laras berubah, saat pdkt dia sangat baik. Setelah menikah dia malah justru pelit dengan kekayaannya." Ucap Denis yang kesal kepada Laras tentang masalah aset itu.
" Dasar bodoh! Seharusnya kamu tetap menunggu, bukan melakukan hal semacam ini. Justru jika kamu berbuat begini, Laras akan semakin pelit padamu karena dia tidak mempercayai mu lagi. Kamu pikir ibu ini tidak tahu dengan apa yang kamu pikirkan, hah!"
" Ibu tenang saja aku tidak akan menceraikan Laras."
" Bukan itu masalahnya, yang ibu pikirkan bukan kamu yang menceraikan Laras tapi Laras yang menceraikan mu. Ingat! Laras itu cantik dan kaya, wanita seperti meski di campakkan dia tidak merasa miskin." Kata Lidia untuk membuka pikiran Denis yang menurutnya bodoh.
" Ibu, kenapa ibu berkata seperti itu?"
" Ibu berkata seperti ini, karena ibu tahu Laras itu bukan wanita yang bodoh macam kamu! Jika Laras menceraikan mu, maka kamu tidak mendapatkan apa-apa darinya. Makanya kamu seharusnya tetap berada disisi, merayunya, dan menunggu hingga dia percaya dan luluh padamu, bukan pergi dan merasa sakit hati seperti ini. Jadi, untuk apa kamu disini. Pergi! Temui Laras sekarang!" Kata Lidia kepada Denis.
Denis terdiam, apa yang dikatakan ibunya ada benarnya. Dia menikah dengan Laras hanya menginginkan kekayaan wanita itu. Jika dia berbuat seperti ini, rasa kepercayaan akan semakin runtuh padanya. Laras masih ditahap mencoba untuk melihat dan percaya padanya. Jika dia berbuat seperti ini maka kepercayaan Laras mungkin saja akan menurun. Dan kekayaan yang seharusnya bisa menjadi milik Denis pula tidak akan diberikan oleh Laras. Denis tidak boleh tinggal diam, dia harus berdamai lagi dengan Laras. Segera dia menaiki mobil, dan menuju ke rumah mertuanya.
Di rumah, Laras merasa kesal dengan dirinya sendiri. Karena masalah yang dia alami, membuatnya menjadi tidak fokus dalam menulis novel. Bahkan otaknya rasanya buntung untuk menuliskan sebuah cerita yang menarik untuk para pembaca. Karena hal itu, membuat Laras menjadi frustasi. Dia bercerita pada ibunya, dia sungguh tidak bisa berpikir untuk menulis sebuah cerita. Ibu Laras tersenyum, dia lalu seketika menutup laptop Laras.
__ADS_1
" Sayang, menulis itu hanyalah hobimu. Sekarang kamu harus bisa menghadapinya, Denis sudah menunggu mu dibawah." Ucap Putri.
" Aku tidak mau menemuinya dan aku tidak mau membahas hal itu lagi." Ucap Laras dengan raut wajah kesal saat ibunya menyebut nama Denis.
" Sayang, kalian ini sudah suami istri. Aku tahu kamu kesal dengan suamimu, tapi setidaknya dengan kedatangan dia kesini, dia sudah menyadari kesalahannya. Dan ingin berdamai denganmu, cobalah turun dan mengobrol dengannya." Kata putri menasihati anaknya, meski dia tahu Laras baru saja menikah, rasa ego pasti masih tertanam dalam dirinya. Meski begitu sebagai seorang ibu, putri mencoba untuk mendidik anaknya menjadi istri yang baik.
Laras turun kebawa lantai satu rumah ibunya, dia melihat Denis sudah menunggunya sendirian. Laras masih marah dengan Denis yang sudah membodohi tadi pagi. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Denis. Namun, sebelum Laras kembali ke kamar Denis sudah lebih dulu melihatnya. Denis segera mendekati Laras dan meminta maaf atas kesalahannya.
" Laras, aku maafkan aku. Apa kamu marah padaku?" Tanya Denis untuk memastikan istrinya apakah marah padanya atau tidak.
Laras tidak menjawab, dia melepaskan tangan Denis yang menggenggamnya, dia masih merasa sakit hati karena perlakukan Denis padanya tadi pagi. Denis seolah tidak menghargai usahanya untuk berdamai, dan membicarakan masalah mereka dengan baik-baik.
" Laras, maafkan aku. Aku mohon." Pinta Denis memelas kepada Laras.
Denis meraih tangan Laras, dengan tatapan memohon dia meminta maaf kepada Laras atas sikap kasarnya kepada Laras tadi pagi. " Laras, aku minta maaf. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan pagi ini. Aku sudah bersikap kasar padamu, bahkan aku tidak peduli padamu sama sekali. Aku mohon maafkan aku, aku akan mencoba untuk mengendalikan emosiku." Kata Denis.
" Kamu tahu aku, untuk saat ini aku hanya ingin permintaan maaf dari mu. Aku mohon maafkan aku." Ucap Denis memohon bahkan dirinya sampai berlutut dihadapan Laras agar Laras memaafkannya.
" Aku juga meminta maaf, sebagai istri aku seharusnya terbuka padamu." Ucap Laras merasa jika dirinya juga bersalah karena tidak terbuka kepada Denis mengenai ketidaksetujuan dia akan aset ibunya dibagi untuk dia dan Denis.
" Maafkan aku." Ucap Denis tersenyum lalu memeluk Laras.
" Sekarang, mari kita pulang. Aku sudah merindukanmu, aku sudah rindu tidur di pelukanmu. Dan kita harus bicara terbuka satu sama lain, hm?"
" Tapi aku belum memaafkan mu, " ucap Laras berpura-pura kesal dengan suaminya. Meski sekarang dia sudah luluh dan memaafkan denis.
__ADS_1
Mendengar itu, Denis mulai merayu, dengan memeluk bahkan mencium Laras. Agar mau pulang bersamanya. Kemesraan mereka berdua, diam-diam dilihat oleh ibu Laras. Putri tersenyum, melihat anak dan menantunya sudah akrab kembali.
Ditengah kemesraan Denis, rupanya Denis menjadi lupa dengan perjanjiannya dengan Naomi. Namun, Naomi sudah rapi, bahkan sudah menunggu Denis di apartemennya. Tetapi belum juga ada kabar dari Denis kapan Denis menyelesaikan masalahnya itu. Sedari tadi Naomi terus mondar-mandir di kamarnya, bahkan dia berbaring sambil memainkan ponselnya. Naomi mencoba menelpon Denis, namun nomor Denis tidak bisa dihubungi. Naomi melihat jam di ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 10, tetapi belum juga ada kabar dari Denis. Karena sudah lama menunggu, Naomi dengan kesal mengambil tasnya dan pergi keluar dari apartemen.
Naomi berteriak di warung milik ibu Denis. Naomi terus memanggil nama Denis, namun tidak ada yang perduli bahkan ibu Denis tidak perduli akan kehadiran Naomi di rumahnya.
" Ibu, Dimana Denis? Tapi dia menelepon ku katanya dia menemuimu sebentar, tapi kenapa dia tidak ada disini." Tanya Naomi kepada Lidia, ibunya Denis.
" Kenapa kamu bertanya padaku? Pastinya dia pergi menemui istrinya lah. Kamu ini hanya sebatas kekasih, jadi kamu tidak terlalu dibutuhkan." Ucap Lidia yang cuek dengan kedatangan Naomi di rumahnya.
" Ibu, apa uang aku kirimkan belum cukup. Aku sudah mengirimkan setiap bulan untuk ibu. Kenapa ibu masih saja melarang ku dengan Denis? Tidak bisakah ibu melihat ku saja menggunakan perasaan ibu, hah!" Ucap Naomi yang merasa sakit hati dengan tindakan ibu Denis padanya. Ibu Denis seolah tidak perduli padanya, padahal selama ini dia sudah mengirim uangnya setiap bulan untuk ibunya Denis.
" Heh! Pelacur! Aku tidak memintanya kamu sendiri yang memberiku uangmu. Aku tidak perduli, aku hanya perduli pada anakku saja. Gara-gara kamu anakku menjadi nakal." Ucap Lidia.
Naomi begitu geram, dia begitu sakit hati dengan perkataan ibunya Denis. Naomi sudah bersikap baik selama ini namun ibu Denis masih saja memandangi dirinya sebagai perempuan tidak baik.
" Ibu, kenapa ibu bersikap jahat kepadaku seperti ini?" Teriak Naomi didepan ibunya Denis.
" Aku begini karena aku tidak suka denganmu! Aku ingin berhenti mendekati anakku Denis. Jika tidak, aku akan menyuruh seseorang untuk menyirami dengan air keras agar wajahmu itu rusak!" Bentak Lidia.
Merasa geram, Naomi mendekati ibunya Denis. Membuat ibu Denis takut dan berjalan mundur. Naomi mengeluarkan tiket konser K-Pop lalu memberikan itu kepada Ghea yang kebetulan juga berada disitu. Bahkan Naomi memberikan uang kepada Jay, sepupu Denis yang juga keluar melihat Naomi yang bertengkar dengan bibinya.
" Aku bisa memberikan kalian uang, dibandingkan dengan bibi kalian yang tidak tahu diri dan mengemis uang orang lain." Ucap Naomi geram lalu pergi dari rumah Denis.
Naomi menaiki mobilnya, dia merasa sakit hati karena Denis mengingkari janjinya. Padahal hari ini merupakan hari istimewa mereka, Denis sudah berjanji akan merayakan hari itu dengan makan malam bersama. Namun dengan justru mengingkarinya.
__ADS_1
" Kenapa aku melakukan itu?" Ucap Naomi seolah dirinya seperti mengemis Denis untuknya kepada ibu serta ponaannya Denis.
Naomi terus menangis, kenapa cintanya sangat menyedihkan seperti ini?