Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
Bab 58


__ADS_3

Laras menyediakan makan makan untuk dirinya dan suami. Kebetulan hari ini Denis pulang kerjanya cepat, jadi dia buru-buru menyediakan makan malam. Denis melihat istrinya diam-diam mendekati istrinya. Mencoba menanyakan akan rencananya untuk meminta Laras membujuk ibunya agar bisa memberikan ahli waris tanah ibu mertuanya kepada mereka berdua. Namun Laras seperti tidak ingin membahas hal itu. Tetapi Denis tetap ingin membahasnya. Dia membutuhkan bantuan mertuanya, setidak perusahaan mertuanya bisa bekerja dengannya dalam hal warisan.


" Sangat sulit membicarakan hal itu pada ibu. Ibu tidak akan mengerti. Yang dia tahu dia hanya ingin mengurusnya sendiri." Ucap Laras.


" Tapi Laras kamu harus bisa membuat ibumu untuk mengerti. Ini juga demi kepentingan pekerjaan ku juga. Jika perusahaan yang ibumu miliki bekerja denganku, setidaknya aku mendapatkan sedikit dari penghasilannya dan itu juga bisa sebagai warisan untukmu." Kata Denis agar Laras bisa mengerti.


" Aku tahu, tapi sangat sulit untuk membicarakan hal itu pada ibu." Ucap Laras yang begitu kesal karena setiap hari Denis selalu membicarakan hal itu padanya. Padahal dia sudah berusaha, namun ibunya masih belum memahami bentuk kerja sama yang di bicarakan denis.


Denis mendekati istrinya, mengambil piring yang berisikan sayur mentah yang dipegang oleh Laras. Denis mengambil tangan istrinya. Membelai tangan istrinya itu, dan menciumnya. " Laras, ini juga demi masa depan kita. Kamu harus bisa membuat ibu terbuka akan ide ini. Pikirkan jika nanti memiliki anak, jika kita tidak memiliki kita akan bisa apa? Dan ibu juga tidak akan kehilangan apapun." Kata Denis lalu mencium tangan istrinya.


" Baik, aku mengerti." Ucap Laras lalu kembali memasak.


Denis tersenyum, dia mulai melakukan aksinya untuk merayu Laras. Dia memeluk Laras dari belakang, dan mencium leher serta pundak sang istri.


" Ada apa, Denis?" Tanya Laras yang merasa risih karena dia harus menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


" Aku hanya ingin memeluk dan menciummu. Emangnya tidak boleh, hm?" Ucap Denis kembali mencium Laras.


Tindakan itu membuat Laras merasa risih, namun Laras juga merasa senang. Tetapi Laras harus menghentikan Denis, karena dia harus segera menyiapkan makan malam serta Denis juga harus segera mandi.


" Sudah hentikan. Kamu harus mandi." Ucap Laras.


" Iya, aku akan mandi. Setelah mandi aku kan membantumu menyiapkan makan malam. Oke?" Ucap Denis tersenyum kepada istrinya.


" Aku kan mandi dan membantu." Ucap Denis lagi sambil mencium dan memeluk Laras, membuat Laras tersenyum senang melihat Denis yang bermanja padanya.

__ADS_1


Namun saat memeluk, Laras merasakan aroma parfum yang berbeda di kemeja yang Denis kenakan sekarang. " Apa kamu menggunakan parfum baru?" Tanya Laras.


Seketika pertanyaan itu membuat Denis menghentikan aksinya, dia lalu melepaskan pelukannya dan bertanya, " apa maksudmu?"


" Aku bertanya, apakah kamu menggunakan parfum baru?" Tanya Laras sekali lagi.


Pertanyaan itu membuat Denis salah tingkah, karena tadi pagi dia baru saja bercumbu dengan Naomi. Takut jika parfum Naomi menempel di kemejanya. " Oh ya! Tadi pagi Maharani menyemprotkan obat nyamuk, yang di pikir parfum ruangan. Mungkin baunya menempel di kemejaku." Jawab Denis lalu mencium kemeja yang dia kenakan.


" Oh, aku pikir itu bau parfum. Lebih baik kamu segera mandi." Ucap Laras.


" Baiklah aku mandi dulu ya." Ucap Denis tersenyum dan pergi.


Namun kepergian Denis membuat Laras merasa curiga, bau parfum yang di kemeja Denis sama seperti bau parfum yang ada di kemeja yang baru saja dia cuci tadi pagi. Baunya sama persis. Membuat Laras merasa sangat heran, seperti ada yang Denis sembunyikan darinya.


Laras menyediakan makan malam di meja makan, dia masih kepikiran akan bau parfum tadi dengan bau parfum di kemeja yang dia cuci tadi pagi. Bau yang sama, membuat terus kepikiran apakah itu berkaitan dengan wanita yang menemuinya saat di pernikahan. Dia ingat saat Naomi datang ke pernikahannya dengan Denis. Namun segera Laras menggeleng mencoba untuk tidak berpikir macam-macam. Bisa saja seperti yang dikatakan oleh Denis jika itu cuman bau obat nyamuk saja.


Tiba-tiba saja ponselnya Laras berdering, segera Laras mengangkatnya. Ternyata itu telepon dari Maharani yang mengatakan jika dia mengantarkan ibu Laras ke rumah sakit. Tiba-tiba saja ibu Laras menelepon Maharani jika dadanya terasa segera Maharani membawa ibu Laras ke rumah sakit.


" Apa keadaan ibu baik-baik saja?" Tanya Laras dalam sambungan telepon, dia begitu mengkhawatirkan ibunya.


" Aku tidak tahu, dia masih dalam pemeriksaan. Ibumu ingin aku tidak memberitahu mu takut kamu merasa khawatir, tetapi aku merasa lebih baik aku memberitahumu saja." Ujar Maharani.


" Terima kasih, Rani." Ucap Laras mematikan sambungan telepon mereka.


Dengan segera Laras menuju kamar, dia segera bersiap-siap menuju ke rumah sakit. Denis terkejut melihat istrinya seperti sedang terburu-buru. " Kamu mau kemana?" Tanyanya.

__ADS_1


" Baru saja Rani menelepon jika ibu masuk rumah sakit. Jadi aku harus ke sana." Jawab Laras.


" Apa keadaan ibu baik-baik saja?" Tanya Denis.


" Belum tahu," jawab Laras.


" Oh, kamu berang sendiri, kan?"


Laras mengangguk, namun dia berharap jika Denis akan ikut bersamanya. Namun harapan salah, Denis melah mengatakan hati-hati pada Laras saat mengemudi. Denis seolah tidak perduli dengan keadaan ibu Laras. Laras memandangi Denis yang terlihat biasa saja sambil memakai bajunya. Laras seolah tidak paham dengan sikap dengan tidak begitu perduli pada ibunya. Padahal Denis selalu ingin meminta bantuan ibunya untuk memajukan kantornya.


" Makan malam sudah aku siapkan di atas meja." Ucap Laras lalu pergi.


Keadaan ibu Laras ternyata baik-baik saja. Ibunya memiliki masalah pada jantungnya. Ibu Laras tersenyum melihat putrinya berdiri dengan keadaan khawatir disampingnya. " Tenang saja, ibu baik-baik saja. Kata dokter tinggal istirahat dan minum obat. Padahal ibu sudah meminta Maharani untuk tidak menghubungi mu."


Maharani yang merasa kesal dengan perkataan ibu Laras, seolah seperti menuduhnya." Jika aku tidak memberitahu keadaan bibi, justru aku akan dimarahi oleh Laras."


" Ibu, jangan menyalahkan Rani. Aku anak ibu, aku harus tahu keadaan ibu. Justru aku sangat berterima kasih karena Rani yang memberitahuku." Ucap Laras.


Maharani menanyakan keberadaan Denis yang tidak datang bersama Maharani ke rumah sakit, namun ibu Laras segera berkata jika Denis mungkin saja sedang lelah dan beristirahat karena bekerja. Maharani dengan sengaja memanasi Laras dengan mengatakan jika Denis seperti tidak memperdulikan keadaan mertuanya.


Laras menghubungi Denis mengatakan jika dia tidak akan bahkan saat ibunya pulang ke rumah, dia akan tinggal bersama ibunya beberapa hari. Respon Denis terlihat begitu santai, bahkan dia mengatakan jika itu menjadi kesempatan yang bagus untuk Laras bisa membujuk ibunya. Dan Denis akan menemui ibu Laras ketika ibu Laras sudah menyetujui hal itu. Laras tidak habis pikir dengan pemikiran Denis, yang sepertinya tidak perduli dengan keadaan ibu mertuanya bahkan dia terus memaksa Laras untuk membicarakan hal itu kepada ibunya. Laras hanya bisa pasrah, meski sangat sulit untuk membicarakan hal semacam itu pada ibunya, apalagi keadaan ibunya masih kurang baik. Laras lalu memberitahu Denis untuk menyimpan makanan sisa, bahkan memberitahu Denis apa yang di lakukan saat berada di rumah. Denis seperti tidak perduli malah justru mematikan sambungan telepon mereka.


Saat tengah menikmati makan malam, Denis mendapatkan balasan pesan dari Naomi. Naomi mengirim foto dirinya yang dimana tubuhnya ditutupi selimut dengan bunyi pesan, " Apa kamu mau menyemprotkan parfum lain di tubuhku?"


Melihat pesan itu membuat Denis tersenyum, setelah makan segera dia menuju kamar dan melakukan video call dengan Naomi. Tidak ada Laras di rumah, membuat Denis lebih leluasa menghubungi Naomi tanpa harus melakukannya diam-diam.

__ADS_1


__ADS_2